EDUKASI KEUANGAN

4 Cara Hindari Jebakan Tumpukan Cicilan Akibat DP 0 Persen

Wella Andany, CNN Indonesia | Sabtu, 20/02/2021 09:05 WIB
BI memberikan pelonggaran DP 0 persen untuk kredit rumah dan kendaraan mulai 1 Maret 2021. Berikut tip untuk menghindari lonjakan cicilan akibat DP 0 persen. BI memberikan pelonggaran DP 0 persen untuk kredit rumah dan kendaraan mulai 1 Maret 2021. (Gadini/Pixabay).
Jakarta, CNN Indonesia --

Bank Indonesia (BI) memberikan 'alasan' bagi masyarakat yang berencana mengambil rumah atau kendaraan bermotor untuk mewujudkan keinginannya lewat kebijakan baru pelonggaran uang muka (Down Payment/DP) 0 persen.

Lewat kebijakan tersebut, mereka yang akan membeli mobil atau rumah pada 1 Maret 2021 hingga 31 Desember 2021 dapat mengambil cicilan tanpa harus membayar uang muka.

Tak hanya itu, pemerintah juga membebaskan pungutan Pajak Penjualan Barang Mewah (PPnBM) mobil baru untuk kategori mobil sedan dan mobil 4x2 mulai 1 Maret-Mei 2021.


Godaan untuk membelanjakan uang datang bertubi-tubi, membuat keputusan membeli rumah dan mobil di tengah pandemi menjadi sebuah keputusan yang menggiurkan.

Perencana Keuangan dari Tatadana Consulting Tejasari Assad menyebut masyarakat harus pikir dua kali sebelum memutuskan untuk memanfaatkan kebijakan ini. Pasalnya, jika tak hati-hati, Anda bisa terjebak dalam lingkaran cicilan utang yang berujung sesal.

Untuk menghindari jebakan tersebut, berikut tip untuk mengambil keputusan finansial yang tepat:

1. Buat Keputusan Rasional

Tanpa disadari, dalam keseharian kita kerap mengambil keputusan emosional. Namun, tidak boleh begitu kalau menyangkut finansial.

Perencana Keuangan dari Advisors Alliance Group Indonesia Andy Nugroho menyebut soal keuangan keputusan harus diambil berdasarkan rasional kalau tidak mau menanggung konsekuensi dan sesal di kemudian hari.

Sebelum mengambil keputusan, Anda harus tanyakan pada diri sendiri jika rumah atau kendaraan tersebut memang dibutuhkan. Pertanyaan kedua adalah apakah keuangan Anda akan mampu menanggung beban baru dari cicilan tersebut?

Tak hanya masalah cicilan per bulan yang harus dihitung, tapi juga beban operasionalnya seperti biaya tol, bensin, service atau pemeliharaan, dan tetek-bengek lainnya.

Jika keuangan Anda memungkinkan untuk mengambil kendaraan atau rumah baru, Teja tak buru-buru memberi rambu hijau. Ada satu hal lagi yang perlu dipertimbangkan, yaitu membengkaknya bunga yang harus dibayarkan.

Mengingat tak perlu membayar DP, cicilan yang dibayarkan menjadi lebih besar dan lama. Seiring dengan itu, bunga kredit pun membengkak, Oleh karenanya, ia menyarankan untuk melakukan kalkulasi di awal jika bunga yang dibebankan tidak malah lebih besar dari manfaat yang diraup.

"Jangan lupa kalau enggak bayar DP itu cicilan dan bunga jauh lebih berat," ucap Teja.

2. Disiplin Dengan Pos Pengeluaran

Dalam memanfaatkan stimulus, Teja tidak menyarankan untuk mengorbankan disiplin finansial. Dalam mengatur keuangan, Teja mengatakan pos cicilan dialokasikan sebesar 30 persen dari total pemasukan.

Jika Anda harus mengorbankan pos lainnya untuk membayar cicilan, artinya kemampuan finansial Anda belum memungkinkan untuk mengambil kredit baru.

Disiplin, lanjut Teja, adalah kunci untuk memiliki keuangan yang sehat dan menghindari beban keuangan yang malah mengakibatkan pusing berkepanjangan.

3. Hindari Sikap Konsumtif

Godaan selalu ada saja, kesempatan untuk mendapatkan harga murah juga tidak datang sekali saja. Karena itu, Teja mengingatkan untuk tidak cepat tergoda dengan tawaran konsumtif.

Cara menghindarinya, pastikan hanya mengambil kendaraan atau rumah jika mendesak. Ingat, nilai jual akan terus menurun, terutama untuk kendaraan. Kalau tidak mengerem sikap konsumtif Anda, Teja mengingatkan untuk siap-siap menanggung merugi nanti.

4. Cari Alternatif Lain

Jangan memaksakan diri untuk mengambil barang serba baru saat alternatif lainnya terbuka lebar. Andy menyebut membeli kendaraan bekas bisa jadi solusi yang lebih baik.

Terutama untuk mereka yang tidak memiliki kemampuan finansial memadai, membeli barang bekas bisa jadi keputusan bijak.

Selama masih ada alternatif lain, insentif tidak harus selalu diambil. Dalam mengambil keputusan, Andy menekankan dua konsep dasar yakni sesuaikan dengan kebutuhan dan kemampuan.

"Cari harga yang sesuai dengan kemampuan kita, kalau belum mampu jangan sampai dengar ada insentif lalu ambil keputusan emosional," tutup Andy.

[Gambas:Video CNN]



(age)
TOPIK TERKAIT
REKOMENDASI
LAINNYA DI DETIKNETWORK