Ekonom Ramal Ekonomi Masih Minus di Kuartal I 2021

CNN Indonesia | Rabu, 24/02/2021 17:47 WIB
Ekonom memprediksi ekonomi di dalam negeri masih akan minus pada kuartal I 2021. Itu terimbas oleh PPKM akibat pandemi covid-19. Ekonom meramal ekonomi kuartal I 2021 masih akan minus akibat tertekan PPKM. Ilustrasi. (ANTARA FOTO/SIGID KURNIAWAN).
Jakarta, CNN Indonesia --

Ekonom Center of Reform on Economics (CORE) Indonesia Piter Abdullah Redjalam memprediksi ekonomi Indonesia masih minus pada kuartal I 2021. Hal ini karena kebijakan pemberlakuan pembatasan kegiatan masyarakat (PPKM) di masa pandemi covid-19.

Piter menjelaskan PPKM membuat aktivitas sosial dan ekonomi menjadi terbatas. Alhasil, konsumsi masyarakat belum bisa kembali seperti sebelum pandemi covid-19.

"Ketika konsumsi belum naik pada level normal, karena kontribusi konsumsi dan investasi besar ke pertumbuhan ekonomi maka sangat sulit diharapkan kuartal I 2021 positif," ungkap Piter dalam PEN 2021: Dukungan Berkelanjutan Hadapi Pandemi, Rabu (24/2).


Terlebih, ekonomi kuartal I 2020 masih tinggi yakni 2,97 persen. Dengan demikian, basis perhitungan pertumbuhan ekonomi kuartal I 2021 akan semakin berat karena dibandingkan dengan dengan kuartal I tahun lalu yang masih positif.

"Perhitungan pertumbuhan ekonomi kan year on year (yoy), kuartal I 2020 dan kuartal I 2021, di mana kuartal I 2020 output masih tinggi jadi sulit untuk kejar positif kuartal I 2021," jelas Piter.

Sebagai informasi, Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat pertumbuhan ekonomi RI minus 2,07 persen pada 2020. Realisasi Produk Domestik Bruto (PDB) ini anjlok dibandingkan 2019 lalu yang tumbuh 5,02 persen.

[Gambas:Video CNN]

Kontraksi ekonomi Indonesia sejalan dengan pertumbuhan ekonomi sejumlah negara mitra dagang yang juga tercatat minus pada kuartal IV 2020. Rinciannya, Amerika Serikat (AS) minus 2,5 persen, Singapura minus 3,8 persen, Korea Selatan minus 1,4 persen, Hong Kong minus 3 persen, dan Uni Eropa minus 4,8 persen.

Tahun ini, BI memproyeksikan ekonomi Indonesia tumbuh 4,3 persen sampai 5,3 persen. Angka ini turun dari proyeksi awal yang sebesar 4,8 persen sampai 5,8 persen.

Lalu, Menteri Keuangan Sri Mulyani. Bendahara negara memprediksi ekonomi Indonesia berkisar 4,5 persen-5,3 persen. Proyeksi tersebut sedikit lebih rendah dibandingkan target pemerintah sebelumnya yang di kisaran 4,5 persen-5,5 persen.

(aud/agt)
TOPIK TERKAIT
REKOMENDASI
LAINNYA DI DETIKNETWORK