Pandemi, BRI Sukses Jaga Rasio NPL di Bawah Industri

BRI, CNN Indonesia | Selasa, 02/03/2021 10:22 WIB
Dalam upaya menjaga risiko dan keberlanjutan bisnis, BRI telah memiliki pencadangan kerugian kredit yang memadai dengan NPL coverage ratio di atas 200 persen. Dalam upaya menjaga risiko dan keberlanjutan bisnis, BRI telah memiliki pencadangan kerugian kredit yang memadai dengan NPL coverage ratio di atas 200 persen. (Foto: Arsip Bank BRI)
Jakarta, CNN Indonesia --

Sebagai salah satu bank terbesar di Indonesia, BRI terbukti berhasil menjaga kualitas kredit sejak awal pandemi. Portofolio kredit yang sehat diketahui merupakan salah satu faktor utama menjaga keberlangsungan bisnis perbankan.

Wakil Direktur Utama BRI Catur Budi Harto mengatakan, dalam upaya menjaga risiko dan keberlanjutan bisnis BRI telah memiliki pencadangan kerugian kredit yang memadai dengan NPL coverage ratio di atas 200 persen.

"NPL BRI masih sangat terjaga dan lebih baik dibanding tingkat rata-rata NPL industri perbankan sepanjang 2020. Hal ini menunjukkan kehati-hatian BRI dalam menyalurkan kredit yang selama pandemi dilakukan secara selektif. Selain itu, rasio NPL yang rendah juga menggambarkan besarnya kekuatan nasabah BRI yang mayoritas pelaku UMKM untuk tetap menyelesaikan kewajibannya meski kondisi sulit terjadi akibat pandemi," ungkap Catur Budi Harto pada Rabu (24/2).


Berdasarkan data Desember 2020, BRI tercatat menyalurkan kredit secara konsolidasian sebesar Rp938,37 triliun atau naik 3,89 persen year-on-year (yoy) dengan rasio NPL gross terjaga di level 2,99 persen. Catur menjelaskan, angka itu menunjukkan bahwa dalam situasi sulit kinerja intermediasi BRI tetap berjalan sangat baik.

Capaian itu sekaligus menjadi prestasi tersendiri, karena dengan kredit yang bertumbuh di atas industri, rasio NPL BRI masih lebih baik dibandingkan kondisi industri perbankan di Indonesia pada periode yang sama, yaitu mencapai 3,06 persen.

Secara individual, NPL BRI (gross) sepanjang 2020 berada di angka 2,94 persen. Tiga segmen dengan NPL terendah berasal dari segmen mikro sebesar 0,83 persen, segmen konsumer 1,49 persen, dan segmen kecil 3,61 persen. Menurut Catur, kualitas pembiayaan yang terjaga itu menunjukkan kehati-hatian yang penyaluran kredit yang terukur di BRI.

"Tanpa penyaluran yang selektif dan ketat, kami tidak mungkin menorehkan angka NPL yang terjaga seperti saat ini. Khusus di segmen konsumer, rasio kredit bermasalah yang kecil juga mencerminkan debitur BRI cukup resilience dalam menghadapi situasi sulit seperti sekarang ini," papar Catur.

Catur menambahkan, BRI juga mengalokasikan biaya pencadangan (NPL coverage) hingga 237,73 persen dari nilai total kredit bermasalah. Pencadangan yang sangat memadai ini membuat laba perusahaan terkoreksi menjadi Rp18,66 triliun di akhir tahun 2020.

"Kondisi ini sejalan dengan komitmen BRI yang tidak ingin memupuk laba terlampau besar di tengah masih tingginya ketidakpastian kondisi perekonomian yang diakibatkan pandemi," kata Catur.

(rea)
TOPIK TERKAIT
REKOMENDASI
LAINNYA DI DETIKNETWORK