Matahari Klaim Bayar Penuh Gaji Karyawan Sejak November

CNN Indonesia | Jumat, 26/03/2021 06:16 WIB
PT Matahari Department Store menyatakan neraca keuangan perusahaan saat ini dalam posisi kuat untuk menyambut era pascapandemi. PT Matahari Department Store menyatakan neraca keuangan perusahaan saat ini dalam posisi kuat untuk menyambut era pascapandemi. Ilustrasi. (CNN Indonesia/Hesti Rika).
Jakarta, CNN Indonesia --

PT Matahari Department Store mengklaim neraca keuangan perseroan saat ini dalam posisi kuat untuk mempersiapkan era pascapandemi. Bahkan, sejak November lalu, perseroan telah memulihkan secara penuh gaji karyawan yang sempat dipotong pada Mei-Oktober 2020 lalu.

"Sejak November 2020 memulihkan gaji secara penuh dan kami percaya bahwa kami adalah salah satu pengecer besar paling awal di Indonesia yang melakukan ini," ujar Corporate Secretary dan Direktur Legal Miranti Hadisusilo kepada CNNIndonesia.com, Kamis (25/3).

Miranti mengungkapkan pandemi yang masih berlangsung mempercepat penutupan toko-toko yang berkinerja buruk sejalan dengan upaya perseroan untuk merestrukturisasi bisnisnya.


"Penutupan gerai Matahari ini sejalan dengan kebijakan perseroan untuk menutup gerai yang tidak menguntungkan atau keluar dari gerai non-inti mono brand sambil berinvestasi pada kapabilitas digital," ujarnya.

Kendati demikian, perusahaan masih melihat peluang jangka panjang. Oleh karenanya, perusahaan berani membuka 3 gerai tahun lalu.

Menurut Miranti, normalisasi kondisi bisnis diperkirakan tidak akan terjadi sampai peluncuran vaksinasi berjalan dengan baik. Setelah momentum itu terjadi, perusahaan siap menyambutnya.

Sebagai informasi, Matahari memutuskan untuk menutup 25 gerai pada 2020. Beberapa gerai yang ditutup, antara lain Lippo PLZ Mal Yogja, Lippo Mal Kuta, Keboen Raya BGR, Lippo PLZ Mal Gresik, Mayofield TC KWG, dan GTC TC Makassar.

[Gambas:Video CNN]

Pandemi juga menekan penjualan kotor Matahari Department Store sepanjang 2020 sebesar Rp8,59 triliun, anjlok 52,3 persen dari posisi 2019 yang sebesar Rp18,03 triliun.

Alhasil, perusahaan merugi hingga Rp823 miliar tahun lalu. Angka itu berbanding terbalik dari posisi 2019 yang masih mencatatkan laba bersih sebesar Rp1,36 triliun.

(aud/sfr)
TOPIK TERKAIT
REKOMENDASI
LAINNYA DI DETIKNETWORK