BRI Dorong Pemulihan Ekonomi Akibat Pandemi Lewat UMKM

BRI, CNN Indonesia | Jumat, 02/04/2021 13:21 WIB
Direktur Utama BRI Sunarso menilai pelaku UMKM menjadi area skala prioritas untuk disentuh lebih dulu untuk mendorong kebangkitan ekonomi akibat pandemi. Direktur Utama BRI Sunarso menilai pelaku UMKM menjadi area skala prioritas untuk disentuh lebih dulu untuk mendorong kebangkitan ekonomi. (Dok. BRI).
Jakarta, CNN Indonesia --

Penyaluran stimulus untuk masyarakat dan pelaku usaha masih diperlukan sepanjang tahun ini. Hal itu untuk mengoptimalkan upaya pemulihan kondisi ekonomi akibat pandemi Covid-19.

Melalui stimulus dan proses vaksinasi yang mulai berjalan, optimisme masyarakat serta pelaku usaha akan semakin besar untuk bangkit dari keterpurukan.

Sebagai bank milik negara yang memiliki jaringan kerja terluas, BRI terus mendukung penyaluran stimulus serta vaksinasi yang akan dilakukan sepanjang tahun ini. Dukungan diberikan baik dalam bentuk penyaluran kredit, edukasi, pembuatan survei indeks bisnis UMKM melalui BRI Micro & SME Index (BMSI), dan kerja-kerja luar biasa lainnya.


Direktur Utama BRI Sunarso mengatakan bahwa kinerja di luar kebiasaan harus dilakukan seluruh pihak agar Indonesia bisa segera keluar dari kondisi krisis akibat pandemi. Demikian dikatakan Sunarso dalam Program Dialog Spesial Indonesia Bicara yang diselenggarakan secara daring oleh Media Group Kamis (1/4) kemarin.

Menurutnya, tanpa kerja luar biasa dan optimisme yang tinggi, krisis tidak akan segera berlalu dari negara ini. UMKM pun menjadi area yang perlu difokuskan untuk disentuh guna membangkitkan perekonomian.

"Kuncinya adalah, karena resources kita terbatas dan waktu juga tidak bisa lama-lama, maka fokus pada area-area yang memang disentuh sedikit namun bisa memberikan dampak yang besar," ujar Sunarso.

"Contohnya adalah UMKM. Kalau ngomong sektor, sektornya adalah yang terkait dengan kebutuhan dasar yaitu pangan, obat-obatan, kesehatan. Itu yang akan mendorong ekonomi ini untuk pulih," tutur Sunarso.

Direktur Utama BRI SunarsoDirektur Utama BRI Sunarso dalam Program Dialog Spesial Indonesia Bicara. (Dok. BRI).

Dalam dialog tersebut, Sunarso kembali menegaskan bahwa pemilihan sektor prioritas adalah kunci utama untuk pemulihan ekonomi. Dengan prioritas, maka fokus pemulihan bisa tercipta dan sumber daya terbatas yang dimiliki pemerintah dapat optimal digunakan untuk membangkitkan perekonomian.

Sektor prioritas yang harus dipilih adalah segmen bisnis paling berkontribusi terhadap PDB, banyak menyerap tenaga kerja, dan berisi para pekerja berupah murah. Salah satu segmen yang masuk skala prioritas untuk pemulihan ekonomi adalah UMKM.

Dilihat dari jenis industrinya, maka prioritas pemulihan harus dilakukan terlebih dulu kepada pelaku usaha di industri manufaktur, pertanian, kehutanan, perdagangan, perikanan, dan konstruksi.

Sektor-sektor usaha tersebut yang selama ini banyak berkontribusi terhadap PDB serta serapan tenaga kerjanya tinggi.

Sunarso menjelaskan, salah satu yang bisa menumbuhkan perekonomian adalah pertumbuhan kredit. Untuk menumbuhkan kredit perlu dilakukan dengan berbagai cara, antara lain menurunkan suku bunga.

"Ini dulu yang harusnya jadi prioritas kita, sektor industri yang diguyuri kredit dan didorong untuk menumbuhkan kredit dan pada akhirnya menumbuhkan perekonomian," kata Sunarso.

"Tapi ternyata menurunkan suku bunga saja tidak cukup untuk mendongkrak pertumbuhan kredit. Ternyata (faktor) yang elastis untuk mendorong pertumbuhan kredit itu permintaan/konsumsi rumah tangga dan daya beli masyarakat," ujarnya.

Sunarso pun mengajak untuk sama-sama menurunkan suku bunga, namun penting juga dilakukan mendorong daya beli masyarakat dan konsumsi rumah tangga.

Sebagai bank dengan pangsa pasar terbesar di segmen UMKM, BRI yakin kebangkitan kondisi pelaku usaha mikro dan kecil akan terjadi tahun ini. Karena itu, BRI mengajak seluruh pihak untuk turut membantu UMKM dan mengedukasi mereka agar memiliki posisi lebih sejajar dan menjadi mitra kuat lembaga perbankan.

Dengan edukasi yang tepat, pelaku UMKM diyakini bisa meningkat kapasitasnya dan dalam jangka panjang dapat ditawari pembiayaan dengan harga murah.

"Faktor yang kedua, handlingnya itu ternyata costnya mahal karena sendiri-sendiri. Tapi ketika mereka (UMKM) diedukasi untuk membentuk klaster, badan hukum, apakah koperasi, BP, dan lain-lain, itu kan cara menyentuhnya akan menjadi lebih murah," kata Sunarso.

(osc)


[Gambas:Video CNN]
TOPIK TERKAIT
REKOMENDASI
LAINNYA DI DETIKNETWORK