Bos Hutama Karya Ungkap Biang Kerok BUMN Karya 'Berdarah'

CNN Indonesia | Jumat, 16/04/2021 18:26 WIB
Direktur Utama PT Hutama Karya (Persero) Budi Harto mengungkapkan penyebab permasalahan keuangan BUMN karya. Direktur Utama PT Hutama Karya (Persero) Budi Harto mengungkapkan penyebab permasalahan keuangan BUMN karya.(Dok. Kementerian BUMN).
Jakarta, CNN Indonesia --

Direktur Utama PT Hutama Karya (Persero) Budi Harto mengungkapkan penyebab permasalahan keuangan BUMN karya. Menurutnya ada enam hal yang mempengaruhi keuangan BUMN karya.

"Saya ingin menyampaikan beberapa titik kelemahan kenapa BUMN karya saat ini mengalami beberapa permasalahan khususnya dalam keuangan," ujarnya dalam acara Webinar Mengukur Infrastruktur, Jumat (16/4).

Pertama, persaingan usaha. Sebagai penyedia jasa konstruksi bagi pemerintah, BUMN karya secara peraturan undang-undang diharuskan melalui seleksi persaingan yang cukup ketat. Persaingan inilah, kata Budi, yang menyebabkan risiko bagi perusahaan pelat merah itu.


Pasalnya, dampak dari persaingan ini adalah BUMN karya tidak bisa mendapatkan harga yang berkualitas baik.

"Secara garis besar, sebenarnya kualitas harga yang baik itu adalah hanya sekitar 90 persen dari HPS (Harga Perkiraan Sendiri) yang disusun oleh pemilik proyek atau penyedia jasa. Namun, demikian beberapa fakta dan data, banyak angka-angka hasil tender ini di bawah 80 persen, sehingga ini akan mengakibatkan risiko kerugian yang besar," paparnya.

Kedua, bisnis yang sangat rentan dan berisiko pada perubahan ekonomi. Menurut Budi, setiap perubahan di bidang ekonomi akan berdampak pada bisnis jasa konstruksi ini.

Misalnya, adalah kenaikan BBM bisa memengaruhi kontrak BUMN karya lantaran kontrak mereka pada umumnya jangka panjang sekitar 3-4 tahun. Sementara itu, dalam kontrak tersebut BUMN karya telah mematok sejumlah asumsi-asumsi yang bisa berubah dalam perjalanannya.

"Di samping bisnisnya rentan terhadap perubahan lingkungan ekonomi, juga harus berproses dengan persaingan, sehingga dua faktor ini akan mendorong kami harus berhadapan dengan risiko yang besar," imbuhnya.

Ketiga, teknologi. Ia menuturkan BUMN karya dituntut untuk mengembangkan penguasaan teknologi, sehingga melakukan uji coba dalam beberapa proyek yang diikuti. Sayangnya, Budi menuturkan beberapa pelaku jasa konstruksi, khususnya BUMN karya kadang-kadang mengambil proyek-proyek yang teknologinya belum sepenuhnya dikuasai sehingga mengakibatkan kerugian yang lebih besar.

Keempat, finansial. Ia menuturkan BUMN Karya melakukan investasi di bidang yang masih belum layak secara finansial. Imbasnya, perseroan terpaksa menggunakan dana-dana pinjaman alias utang untuk membiayai proyek tersebut.

Kelima, mayoritas BUMN bergerak di bisnis properti. Padahal, seperti diketahui tren bisnis properti kerap kali naik turun sehingga menimbulkan risiko yang cukup besar.

"Ini memang sesuatu yang tidak sehat, sebaiknya memang tidak semua masuk ke bisnis yang sama, misalnya semuanya masuk properti, kemudian semuanya juga masuk ke precast beton," ujarnya.

Sementara itu, bisnis properti menuntut ketersediaan lahan dalam jumlah besar. Karenanya, BUMN karya terpaksa menyediakan lahan tersebut menggunakan dana bersumber dari utang.

"Oleh karena itu mengakibatkan bunga yang tiap tahun, sehingga akan dikapitalisasi dalam harga properti tadi, sehingga properti yang dihasilkan akan memiliki HPP (Harga Pokok Produksi) yang tinggi. HPP ini akan berada jauh di atas daya beli masyarakat," paparnya.

Terakhir, pengaruh pasar luar negeri. Budi mengatakan pasar luar negeri memiliki perbedaan hukum dan budaya, sehingga BUMN karya harus berhati-hati masuk dalam pasar tersebut. Pasalnya, proyek konstruksi memiliki karakter yang selalu berubah-ubah, sehingga terkadang menyebabkan terjadinya dispute antara penyedia jasa dan pengguna jasa, dimana pihak penyedia jasa kerap kali dirugikan.

"Ini adalah penyebab-penyebab yang bisa kami identifikasi mengapa kondisi kami saat ini kurang baik yang pada umumnya adalah disebabkan oleh karena faktor-faktor ini," ujarnya.

Strategi Turunkan Utang

Dalam kesempatan itu, ia mengungkapkan Hutama Karya telah memiliki strategi untuk mengurangi utang perseroan. Ia menuturkan Hutama Karya akan melakukan divestasi atau menjual ruas jalan tol yang sudah beroperasi pada investor. Selanjutnya, hasil penjualan atau divestasi dari ruas tersebut akan digunakan untuk mengurangi utang.

"Kami akan melakukan recycle, jadi beberapa ruas yang sudah operasi yang sudah cukup bagus seperti Medan-Binjai, Bakauheni-Palembang, dan Pekanbaru-Dumai ini akan kami tawarkan pada investor lain untuk diambil," ucapnya.

Dalam kesempatan yang sama, Wakil Direktur Utama Hutama Karya Aloysius Kiik Ro mengungkapkan BUMN karya telah menyusun sejumlah strategi untuk mengurangi beban keuangan mereka. Salah satunya adalah membentuk project management office (PMO) BUMN karya yang dikawal oleh Kementerian BUMN.

BUMN karya yang terlibat dalam PMO ini meliputi PT PP (Persero), PT Brantas Abipraya (Persero), PT Waskita Karya (Persero), PT Wijaya Karya (Persero), dan PT Adhi Karya (Persero).

"Kami sepakat membentuk ini untuk membuat langkah perbaikan. Ini bukan baru saja, sebenarnya sudah terbentuk sejak Maret 2020 itu kami sudah mulai bekerja," katanya.

Dari PMO ini, lanjutnya, BUMN karya akan menata ulang spesialisasi yang dimiliki perusahaan BUMN karya. Selanjutnya, setiap perusahaan akan fokus meningkatkan kompetensi pada bidangnya masing-masing.

"Tidak mungkin kami akan jadi pemenang di regional tanpa kami bangun spesialisasi-spesialisasi. Jadi, kemudian kami berenam sepakat misalnya siapa yang akan menjadi ahli terowongan, ahli jembatan, ahli perairan, dan sebagainya, itu super spesialis," ujarnya.

[Gambas:Video CNN]



(ulf/age)
TOPIK TERKAIT
REKOMENDASI
LAINNYA DI DETIKNETWORK