Ekonom Sebut Pakaian Bayi dan Gamis dari China Banjiri RI

CNN Indonesia | Kamis, 22/04/2021 17:46 WIB
Ekonom Indef Enny Sri Hartati mengatakan produsen RI sedang tertekan oleh gempuran pakaian bayi dan gamis dari China dan Thailan yang harganya lebih murah. Ekonom menyebut industri tekstil dalam negeri sedang tertekan oleh pakaian bayi dan gamis dari China dan Thailand yang lebih murah. Ilustrasi. (Pixabay/condesign).
Jakarta, CNN Indonesia --

Ekonom Senior Institute for Development of Economics and Finance (Indef) Enny Sri Hartati mengatakan produsen pakaian dalam negeri tengah mengalami tekanan karena digempur pakaian jadi asal China dan Thailand yang jauh lebih murah.

Dia menyebut serbuan terjadi karena dari sisi hilir, pakaian bebas masuk tanpa pengenaan tarif. Kebijakan berlaku untuk berbagai jenis pakaian, dari pakaian bayi, gamis, hijab, atasan formal, casual, dan sebagainya.

Sebaliknya, produsen pakaian dalam negeri malah dikenakan pajak pertambahan nilai (PPN). Ini membuat harga pakaian jadi buatan sendiri tidak berdaya saing.


"Serbuan impor ini akan sangat mengganggu IKM (industri kecil menengah) kita," jelasnya pada diskusi daring Indef bertajuk TPT Bangkit, Daya Beli Terungkit, Kamis (22/4).

Saat ini, ia mencatat ada 407 ribu unit usaha garmen yang tergolong IKM.  Eny mengatakan masalah itu kian membuat mereka tersingkir.

Padahal, dari 407 unit IKM itu ada setidaknya 2 juta tenaga kerja yang menggantungkan nasibnya.

Bila industri garmen tidak dilindungi, ia khawatir bakal semakin banyak pengangguran di Indonesia. Ujungnya, bakal berdampak pada lambatnya proses pemulihan daya beli masyarakat dan perekonomian RI.

[Gambas:Video CNN]

"Kondisi ini menunjukkan tidak adanya keberpihakan terhadap industri TPT (tekstil dan produk tekstil) dalam negeri," bebernya.

Mengutip data Badan Pusat Statistik (BPS), pada 2020 ekspor tekstil tercatat sebesar US$10,55 miliar. Sementara, impor sebesar US$7,2 miliar.

Walau surplus, Eny mengatakan kalau komponen TPT lah yang mendominasi ekspor.

Meski industri tekstil dan pakaian jadi Indonesia telah terintegrasi dari hulu hingga hilir dan hampir seluruh bahan baku tekstil serta pakaian jadi dapat diproduksi dalam negeri, namun kurangnya investasi bagi industri bahan baku di RI menyebabkan putusnya mata rantai pasok.

Karena itu, ia menilai pemerintah perlu mendorong investasi, terutama di sektor hulu yang padat modal untuk menunjang kebutuhan bahan baku tekstil dan pakaian jadi dalam negeri.

(wel/agt)
TOPIK TERKAIT
REKOMENDASI
LAINNYA DI DETIKNETWORK