PLN Janji Cuma Bangun Pembangkit EBT Usai Proyek 35 Ribu MW

CNN Indonesia | Jumat, 07/05/2021 14:38 WIB
PT PLN (Persero) berkomitmen menambah porsi pembangkit listrik energi baru terbarukan usai menyelesaikan mega proyek 35 ribu mega watt. PT PLN (Persero) berkomitmen menambah porsi pembangkit listrik energi baru terbarukan usai menyelesaikan mega proyek 35 ribu mega watt. Ilustrasi. (CNN Indonesia/ Andry Novelino).
Jakarta, CNN Indonesia --

Direktur Utama PT PLN (Persero) Zulkifli Zaini memastikan perseroan akan fokus membangun pembangkit energi baru terbarukan (EBT) setelah proyek 35 ribu Megawatt (MW) rampung.

Saat ini, kata dia, sekitar 95 persen megaproyek tersebut telah selesai dari sisi kontrak sementara 4 persen lainnya masih dalam tahap perencanaan.

"Setelah ini selesai kami berkomitmen bahwa penambahan energi listrik di waktu yang akan datang hanya akan berfokus pada energi baru terbarukan. Jadi komitmen PLN adalah setelah 35.000 MW selesai kita hanya akan menambahkan ke dalam sistem kelistrikan Indonesia hanya EBT," ucap Zulkifli dalam diskusi virtual bertajuk 'Program Co-Firing dan Konversi EBT', Jumat (7/5).


Menurut Zulkifli, listrik EBT masih mendapatkan porsi sangat kecil dalam megaproyek 35 ribu MW yang diluncurkan sejak 2015. Bahkan, porsinya kurang dari 10 persen dari total kapasitas pembangkit baru yang akan dibangun.

Padahal, Indonesia punya target bauran EBT 23 persen pada 2030 dan net zero emission pada 2050.

"Hanya 2 ribu MW yang merupakan proyek energi baru terbarukan. 33 ribu dari proyek tersebut itu adalah non-EBT, dan kami akan lihat COD (commercial operation date) dari proyek tersebut tahun ini, tahun depan dan seterusnya," ucap Zulkifli.

Oleh karena itu, ucap Zulkifli, saat ini PLN mengandalkan sistem Co-Firing untuk menambah persentase bauran listrik EBT alih-alih membangun pembangkit baru.

Di samping itu, cara lain yang dilakukan adalah mengonversi 5.200 pembangkit listrik diesel (PLTD) menjadi EBT. Pembangkit-pembangkit itu tersebar di 2.100 lokasi di wilayah 3T (terdepan, terpencil dan tertinggal) dengan total kapasitas 2 ribu MW.

Tahap pertama, konversi PLTD ke EBT akan dilakukan di 200 lokasi dengan kapasitas 225 MW.

"Progres saat ini kami sedang melakukan perencanaan pengadaan dan direncanakan COD-nya pada 2023 dan 2024," ucap Zulkifli.

Kemudian, tahap kedua dengan potensi konversi PLTD ke EBT sebesar 500 MW, akan dilakukan pada 2022 dengan target pengoperasian bertahap pada 2024 sampai 2025. "Sedangkan tahap ketiga, dengan potensi 1.300 MW direncanakan dapat COD atau beroperasi pada tahun 2025," terangnya.

Zulkifli menilai program tersebut tidak hanya berguna untuk memenuhi target bauran EBT, melainkan juga menggantikan pembangkit tua di wilayah 3T yang hanya beroperasi optimal selama 6 jam sampai 12 jam.

"Konversi PLTD ke EBT dikembangkan untuk dapat mensuplai kebutuhan listrik secara penuh 24 jam sehingga meningkatkan ekonomi masyarakat," jelasnya.

Selain itu, Indonesia juga akan mendapatkan efek pengganda (multiplier effect) melalui penurunan penggunaan BBM atau solar yang berimbas pada pengurangan subsidi BBM.

"PLTD menggunakan solar yang kita (Indonesia) impor, dan kita paham bahwa per tahun Indonesia mengimpor BBM hingga Rp200 triliun. Sehingga penurunan BBM dari konversi PLTD ke EBT secara tidak langsung akan mengurangi penurunan impor BBM dan akhirnya penurunan subsidi BBM," pungkasnya.

[Gambas:Video CNN]



(hrf/sfr)
TOPIK TERKAIT
REKOMENDASI
LAINNYA DI DETIKNETWORK