Ekonom Sebut Permodalan UMKM Terbatas, Bunga Tinggi

CNN Indonesia | Senin, 10/05/2021 20:21 WIB
Ekonom Indef menilai akses pelaku UMKM di Indonesia terhadap permodalan masih terbatas. Bunganya pun tertinggi dibanding negara-negara di Asia Tenggara. Ekonom Indef menilai akses pelaku UMKM di Indonesia terhadap permodalan masih terbatas. Bunganya pun tertinggi dibanding negara-negara di Asia Tenggara. Ilustrasi UMKM. (CNN Indonesia/Safir Makki).
Jakarta, CNN Indonesia --

Ekonom Indef Eko Listiyanto menilai akses pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) di Indonesia terhadap permodalan masih terbatas. Bahkan, angkanya lebih rendah ketimbang sejumlah negara di Asia Tenggara.

Buktinya, ia mengungkap porsi penyaluran kredit kepada UMKM hanya 19 persen dari total penyaluran kredit perbankan, berdasarkan data Organisasi untuk Kerja Sama dan Pembangunan (OECD) pada 2018 lalu.

Meskipun porsi kredit yang disalurkan bertambah, namun Eko memperkirakan realisasinya tak akan beranjak jauh dari angka tersebut.


"Pada sisi kredit, dukungan pembiayaan UMKM di Indonesia, datanya sangat rendah dan flat (datar) hanya 19 persen-20 persen dari tahun ke tahun, segitu saja tidak naik-naik. Memang, harus ada upaya terobosan, kalau tidak kita akan semakin tertinggal," ujarnya dalam diskusi, Senin (10/5).

Sementara itu, negara tetangga sudah jauh meninggalkan Indonesia. Malaysia, misalnya, telah menyalurkan 50,60 persen dari total kredit perbankan kepada UMKM dan Thailand 50,47 persen.

Sedangkan, porsi pembiayaan bank kepada UMKM di Korea Selatan dan China lebih tinggi dibandingkan kepada korporasi, masing-masing 81,20 persen dan 64,96 persen.

"Kalau di kita 80 persen kepada perusahaan besar, (UMKM) hanya kecipratan 20 persen dan ini sangat kurang," imbuhnya.

Tak hanya dari besaran jatah kredit, tingkat suku bunga kredit kepada UMKM juga masih belum bersahabat. Masih bersumber dari data OECD, Eko mengatakan suku bunga kredit UMKM di Indonesia lebih tinggi dibandingkan negara-negara tersebut.

Pada 2018 lalu, rata-rata suku bunga kredit kepada UMKM di Indonesia sebesar 12 persen. Meski saat ini diperkirakan sudah turun, namun angkanya pun tidak jauh berbeda, yakni di kisaran 10 persen.

"Ini masih jauh tertinggal, spread (selisih) dengan negara lain. Sementara, Malaysia dan China tadi sudah di angka sekitar 5 persen. Bahkan Korea Selatan 4 persen," tuturnya.

Menurutnya, kondisi tersebut mempengaruhi daya saing produk UMKM di Indonesia. Hal ini tercermin dari kinerja ekspor produk UMKM yang baru 15 persen dari total ekspor Indonesia.

Angka tersebut jauh tertinggal dari ekspor produk UMKM Malaysia yang mencapai lebih dari 20 persen dari total ekspornya dan Thailand mendekati 30 persen.

"Kalau suku bunga kredit di Korea Selatan, China, Malaysia, dan Thailand jauh lebih redah dari kita, bagaimana dengan daya saing ketika overhead cost (biaya produksi) jauh lebih mahal untuk UMKM di kita," jelasnya.

[Gambas:Video CNN]



(ulf/bir)
TOPIK TERKAIT
REKOMENDASI
LAINNYA DI DETIKNETWORK