Malaysia Salip RI Jadi Pemasok Minyak Sawit Terbesar ke India

CNN Indonesia | Rabu, 23/06/2021 11:08 WIB
Ekspor minyak sawit mentah (CPO) Indonesia ke India kalah dari Malaysia karena kenaikan tarif pungutan ekspor sawit pada Desember 2020 lalu. Ekspor minyak sawit mentah (CPO) Indonesia ke India kalah dari Malaysia karena kenaikan tarif pungutan ekspor sawit pada Desember 2020 lalu. Ilustrasi. (ANTARA FOTO/SYIFA YULINNAS).
Jakarta, CNN Indonesia --

Malaysia melampaui Indonesia sebagai pemasok minyak sawit mentah (CPO) terbesar India dalam setahun terakhir.

Dikutip dari Reuters, ekspor minyak sawit Malaysia ke India melonjak 238 persen menjadi 2,42 juta ton dalam tujuh bulan pertama tahun pemasaran 2020/21 yang dimulai pada 1 November. Angka tersebut dikumpulkan oleh The Solvent Extractors' Association of India (SEA), sebuah badan perdagangan Penyuling dan pedagang minyak nabati India.

Sementara itu, pengiriman minyak sawit Indonesia ke India pada periode yang sama turun 32 persen menjadi 2 juta ton.


Seorang pejabat kementerian mengatakan penurunan ekspor terjadi setelah Indonesia memberlakukan pajak atas ekspor minyak nabati tahun lalu.

Sebagai catatan, Indonesia memberlakukan pungutan yang lebih tinggi terhadap ekspor minyak sawit mentah pada Desember 2020 untuk mengumpulkan dana bagi program biodiesel berbasis sawit yang ambisius serta memaksimalkan penggunaan minyak nabati di dalam negeri.

Kini, pungutan ekspor Indonesia berada pada level tertinggi selama lima bulan berturut-turut.

"Malaysia diuntungkan dari pungutan ekspor Indonesia. Mereka mendapatkan pangsa pasar dengan menawarkan minyak sawit dengan harga diskon dibandingkan pasokan Indonesia," kata Direktur Eksekutif SEA BV Mehta.

Kendati demikian, Sandeep Singh, direktur The Farm Trade, sebuah perusahaan konsultan dan perdagangan yang berbasis di Kuala Lumpur, menilai peningkatan pengiriman Malaysia ke India akan hanya bersifat sementara karena Indonesia akan memangkas pajak ekspor.

Menteri Keuangan Indonesia Sri Mulyani Indrawati Senin (21/6) lalu mengumumkan pemerintah akan memangkas tarif untuk pungutan CPO menjadi US$175 per ton dari sebelumnya US$255, tanpa menjelaskan kapan kebijakan itu dijalankan.

Sebelumnya, Indonesia mengenakan bea dan retribusi sebesar US$438 per ton untuk pengiriman minyak sawit pada Juni. Sementara bea ekspor Malaysia pada periode yang sama hanya sekitar US$90 per ton.

Anilkumar Bagani, kepala penelitian di pialang minyak nabati Sunvin Group yang berbasis di Mumbai mengatakan hal ini membantu eksportir Malaysia untuk menawarkan minyak sawit dengan diskon besar bahkan setelah mempertahankan margin yang sehat.

Kini, setelah pengumuman Sri Mulyani, eksportir Malaysia menawarkan diskon sebesar US$25 per ton atau lebih kecil dari Mei lalu yang mencapai US$100 per ton.

Pemotongan pungutan ekspor, menurut Singh, pada akhirnya dapat membantu Indonesia mendapatkan kembali pangsa pasar.

"Dengan pasar mengalami penurunan tajam lebih dari 25 persen dalam 2 minggu terakhir dan juga diskusi tentang pengurangan pungutan minyak Indonesia, peralihan kembali ke Indonesia mungkin akan segera terjadi," jelasnya.

[Gambas:Video CNN]



(hrf/sfr)
TOPIK TERKAIT
REKOMENDASI
LAINNYA DI DETIKNETWORK