Pupuk Kaltim Targetkan IPO Kuartal II 2022

CNN Indonesia | Kamis, 24/06/2021 20:58 WIB
Pupuk Kaltim ditargetkan melakukan penawaran umum perdana saham pada kuartal II 2022 mendatang. Pupuk Kaltim ditargetkan melakukan penawaran umum perdana saham pada kuartal II 2022 mendatang.(ANTARA FOTO/Wahyu Putro A).
Jakarta, CNN Indonesia --

PT Pupuk Kalimantan Timur (PKT) atau Pupuk Kaltim ditargetkan melakukan penawaran umum perdana saham (initial public offering/IPO) pada kuartal II 2022 mendatang. Anak usaha PT Pupuk Indonesia (Persero) tersebut akan menggunakan dana IPO untuk mengembangkan bisnis perseroan.

Direktur Utama Pupuk Indonesia Bakir Pasaman mengatakan Pupuk Kaltim akan menggunakan dana hasil IPO untuk pembangunan pabrik amonia, urea, dan methanol di Bintuni, Papua. Namun, ia tidak mengungkapkan target dana yang terkumpul dari gelaran IPO tersebut.

"Jadi, ada rencana IPO Pupuk Kaltim akan dilakukan pada kuartal II 2022 dan nanti inilah dananya akan digunakan untuk pengembangan proyek di Bintuni," ujarnya dalam rapat bersama Komisi VI DPR, Kamis (24/6).


Ia merincikan Pupuk Kaltim akan membangun pabrik amonia dan urea di Bintuni. Sedangkan, pembangunan pabrik methanol akan dilaksanakan secara joint venture (JV) dengan partner strategis dimana Pupuk Indonesia Grup akan bertindak sebagai pemegang saham mayoritas pada perusahaan patungan nantinya.

Saat ini, Pupuk Kaltim sedang mengkaji alternatif lokasi pembangunan pabrik di Bintuni, Papua. Selain Bintuni, ia menuturkan perusahaan juga mempertimbangkan lokasi pembangunan pabrik di Fak Fak, Papua Barat. Alternatif lokasi bertujuan untuk menghindari pembangunan pabrik di tanah berawa.

"Ada dua lokasi, pertama di Bintuni tapi kami juga melihat lokasi di Fak Fak. Tentunya apapun lokasi yang kami pilih kembalinya adalah nilai keekonomian," jelasnya.

Nantinya, pabrik amonia akan memiliki kapasitas sebesar 2.500 metric ton per day (MTPD). Kemudian, pabrik urea dan methanol kapasitas masing-masing adalah 3.500 MTPD dan 3.000 MTPD.

Targetnya, seluruh pabrik tersebut bisa beroperasi secara komersial pada kuartal IV 2027. Sementara itu, pembangunan konstruksi ditargetkan mulai pada 2023 atau 2024 mendatang.

Saat ini, lanjutnya, Pupuk Indonesia sebagai induk usaha telah menandatangani nota kesepakatan (MoU) harga gas dengan Genting Oil pada 17 Juni 2021 lalu. Sementara, harga gas yang telah disepakati dengan Genting Oil adalah US$3,6 plus formula.

"Diharapkan ada tanda tangan Perjanjian Jual Beli Gas (PJBG) pada Desember 2021," imbuhnya.

Pabrik Pupuk Sriwidjaja Palembang (Pusri)

Dalam kesempatan itu, ia juga mengungkapkan kendala yang dialami oleh Pusri, yakni pendangkalan Sungai Musi. Kondisi ini dikhawatirkan akan mempengaruhi daya saing Pusri.

"Yang menjadi masalah adalah pendangkalan Sungai Musi, karena lokasi Pusri itu sekitar 100 kilometer ke dalam dari bibir pantai. Kalau Sungai Musi ini tidak terpelihara dengan baik dan pendakalan kapal tidak bisa lewat dan ujungnya kami tidak bisa keluarkan produk," ujarnya.

Ia menuturkan telah terjadi pendangkalan pada lima titik di Sungai Musi yang merupakan lalu lintas utama produk Pusri. Sedangkan, laju pendangkalan sekitar 0,6 meter per tahunnya.

Kondisi ini berakibat pada turunnya kapasitas pengapalan untuk produk urea, dari kebutuhan 11 ribu ton per hari menjadi hanya 6.000-7.000 ton per hari. Pasalnya, dengan pendangkalan Sungai Musi kapal yang bisa masuk berkapasitas hanya 6.000-7.000 tons deadweight (DWT).

Pihak Pupuk Indonesia dan Pusri, lanjutnya, telah berkoordinasi dengan pemerintah Provinsi Sumatera Selatan.

"Ini anggaran dari pemerintah pusat bukan provinsi, sehingga kendalanya pemerintah provinsi tidak bisa melakukan pendalaman sungai karena dananya dari pusat," ujarnya.

Saat ini, Pusri sendiri tengah melaksanakan pembangunan pabrik Pusri III B. Pabrik baru yang berlokasi di Palembang, Sumatera Selatan itu terdiri dari pabrik amonia dengan kapasitas 1.350 MTPD dan pabrik urea kapasitas 2.750 MTPD dengan nilai investasi mencapai US$670 juta.

"Nilai investasi pembangunan proyek Pusri III B ini kalau mengacu pada tender sebelumnya dengan kapasitas yang sama sekitar US$500 juta. Tapi dengan cost lain seperti financing cost dan lainnya, kami anggarkan US$670 juta," ujarnya.

Pabrik baru tersebut diharapkan bisa selesai pada Juni 2025. Sementara itu, masa konstruksi ditargetkan mulai pada Maret 2022 hingga Juni 2025.

"Perkembangannya, saat ini kami menunggu alokasi dan penetapan harga gas dari Kementerian ESDM, diharapkan Juli 2021 sudah keluar dan nanti diharapkan tanda tangan jual beli gas pada akhir Desember 2021," katanya.

[Gambas:Video CNN]



(ulf/age)
REKOMENDASI
LAINNYA DI DETIKNETWORK