BTN Akan Jual Aset Mangkrak Tahun Ini

CNN Indonesia | Rabu, 28/07/2021 19:59 WIB
BTN berencana menjual aset dalam bentuk perumahan demi menyehatkan tingkat kredit macet yang sudah tak bisa diselamatkan lagi. BTN berencana menjual aset dalam bentuk perumahan demi menyehatkan tingkat kredit macet. Ilustrasi. CNN Indonesia/Bisma Septalisma).
Jakarta, CNN Indonesia --

PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk atau BTN berencana menjual aset dalam bentuk perumahan pada tahun ini. Penjualan ini dilakukan untuk menyehatkan tingkat kredit macet (Non Performing Loan/NPL) yang sudah tidak bisa diselamatkan lagi.

"Kami ada inisiatif asset sales. Aset-aset kami jual. Ini aset-aset yang (menimbulkan) NPL. Kami jual ke investor tapi belum bisa disebutkan namanya. Saat ini sudah due diligence. Mudah-mudahan ada penjualan yang lumayan pada tahun ini," ungkap Wakil Direktur Utama BTN Nixon LP Napitupulu saat konferensi pers virtual, Rabu (28/7).

Nixon mengatakan diskusi yang dilakukan pun sudah semakin intensif. Saat ini perusahaan bersama investor potensial tengah membahas kesepakatan mekanisme pembayaran, syarat, hingga harga ideal.


Menurutnya, ini merupakan strategi jitu yang dilakukan BTN untuk bisa menyehatkan tingkat NPL mereka sampai akhir tahun ini. Pasalnya, NPL bank spesialis kredit perumahan itu cukup tinggi, yaitu mencapai 4,71 persen 4,71 persen pada kuartal II 2020.

NPL meningkat karena terimbas dampak pandemi covid-19 yang mewabah di Indonesia sejak akhir kuartal I 2020. Perusahaan sudah melakukan berbagai upaya, termasuk transformasi perkreditan dan restrukturisasi untuk menurunkan NPL.

Usaha itu sebenarnya sudah membuahkan hasil. NPL berhasil turun ke kisaran 4,37 persen pada kuartal IV 2020 dan membaik lagi ke 4,1 persen pada kuartal II 2021. Tapi, bank BUMN itu menargetkan NPL bisa menyentuh kisaran 3,8 persen sampai 3,9 persen pada akhir tahun ini, sehingga perlu strategi lain, termasuk menjual aset.

"Ini upaya kita untuk menjaga NPL," imbuhnya.

[Gambas:Video CNN]

Selain melakukan penjualan aset, Nixon memastikan perusahaan terus melakukan restrukturisasi kredit kepada nasabah. Namun, BTN tak memungkiri bahwa ada kredit-kredit yang terselamatkan dan ada juga yang kemungkinan justru tidak bisa diselamatkan lagi.

"Saya belum bisa sebutkan angkanya, tapi ada potensi yang keluar dari restrukturisasi dan balik ke normal atau lancar. Tapi mungkin ada yang jatuh karena sampai hari ini masih belum punya pekerjaan, namun ada juga yang tetap kita perpanjang sampai batas waktu restrukturisasi," jelasnya.

Sementara Direktur Wholesale Risk and Asset Management BTN Elisabeth Novie Riswanti menyatakan saat ini total kredit BTN yang tengah direstrukturisasi mencapai Rp57 triliun. Dari jumlah ini, restrukturisasi kredit yang tidak bisa diselamatkan sekitar Rp3,5 triliun atau 6,2 persen dari total.

"Ada Rp3,5 triliun atau 6,2 persen yang kemungkinan sudah tidak bisa kita selamatkan dan akan jatuh ke NPL," ujar Novie pada kesempatan yang sama.

Direktur Utama BTN Haru Koesmahargyo menambahkan perusahaan juga akan melakukan strategi penambahan dana cadangan untuk mengantisipasi NPL. Hal ini dilakukan untuk memberi kesempatan restrukturisasi tambahan kepada nasabah-nasabah yang masih punya prospek baik.

Tercatat, pencadangan yang tercermin dari NPL coverage ratio BTN meningkat dari kisaran 107,9 persen pada kuartal II 2020 menjadi 120,72 persen pada kuartal II 2021.

"Dengan begitu BTN akan punya cadangan yang cukup apabila NPL memburuk. Apakah ini akan cukup atau tidak dengan 120 persen? Ini tentu kita akan upayakan dengan kondisi kolektabilitas dari portofolio kita, jadi ada kemungkinan akan kita tambah," pungkasnya.

(uli/agt)
TOPIK TERKAIT
REKOMENDASI
LAINNYA DI DETIKNETWORK