Mendag Pertimbangkan Tuntut Uni Eropa-AS Soal Pajak Karbon

CNN Indonesia
Jumat, 06 Agu 2021 07:43 WIB
Menteri Perdagangan Muhammad Lutfi sedang mempelajari rencana AS dan Uni Eropa memberlakukan pajak karbon bagi produk-produk yang memiliki jejak karbon tinggi. Menteri Perdagangan Muhammad Lutfi sedang mempelajari rencana AS dan Uni Eropa memberlakukan pajak karbon bagi produk-produk yang memiliki jejak karbon tinggi.(ANTARA FOTO/ISMAR PATRIZKI).
Jakarta, CNN Indonesia --

Menteri Perdagangan Muhammad Lutfi menyatakan tengah mempelajari rencana AS dan Uni Eropa memberlakukan pajak karbon (carbon tax) bagi produk-produk yang memiliki jejak karbon tinggi. Ia pun mempertimbangkan untuk melayangkan tuntutan atas AS dan Uni Eropa kepada Organisasi Perdagangan Dunia (WTO).

"Kami sedang mempelajari ini, cara baru menghambat perdagangan dunia. Kami akan menimbang, kami akan melihat setelah mempelajari apakah kami akan menuntut negara-negara tersebut ke dispute settlement body (badan penyelesaian sengketa) WTO. Jadi, sengketa ini akan kami perhatikan dengan amat sesama" ujarnya dalam konferensi pers Pertumbuhan Ekonomi Indonesia Kuartal II-2021, Kamis (5/8).

Dalam kesempatan terpisah, ia menyatakan Kemendag mengajak serta pelaku usaha untuk mempelajari rencana tersebut. Bahkan, Kemendag mengajak serta Kadin Indonesia sebagai perwakilan usaha untuk menempuh jalur hukum jika ditemukan bukti bahwa rencana AS dan Uni Eropa itu tidak sesuai dengan kaidah WTO.

"Kalau kami merasa ini mengganggu, saya dan Ketua Umum Kadin akan berbicara bersama dengan pelaku industri untuk menuntut ini dalam jalur hukum," ujarnya dalam acara Dialog Ekonomi.

Pasalnya, rencana tersebut dinilai menghambat perdagangan global termasuk ekspor Indonesia. Sementara, ekspor merupakan salah satu komponen yang menopang pertumbuhan ekonomi di tengah dampak pandemi.

"Ini merupakan obstacles (rintangan) yang sangat besar. Kami sedang memastikan kebijakan ini tidak mengganggu ekspor Indonesia dan kami merasa yakin ini bertentangan dengan kaidah dan aturan WTO," ujarnya.

Terkait ekspor, ia menuturkan Kemendag memperluas pasar ke negara non tradisional guna menggenjot kinerja ekspor. Salah satunya, dengan memindahkan perwakilan dagang dari negara tujuan ekspor tradisional ke non tradisional.

"Saya sudah menutup atase perdagangan di Denmark, saya pindahkan ke Turki. Saya akan tutup ITPC (Indonesian Trade Promotion Center) di Milan, Kami akan buka di Karachi. Jadi ini perubahan-perubahan, di mana kami mencari pasar non tradisional," ujarnya.

[Gambas:Video CNN]



(ulf/age)
Lihat Semua
SAAT INI
BERITA UTAMA
REKOMENDASI
TERBARU
LAINNYA DI DETIKNETWORK
LIVE REPORT
LIHAT SELENGKAPNYA

ADVERTISEMENT

TERPOPULER