Pekerja muda bisa memilih tempat tinggal dengan membeli lewat Kredit Pemilikan Rumah (KPR) atau menyewa. Ilustrasi. (CNN Indonesia/ Harvey Darian).
Jakarta, CNN Indonesia --
Bagi pekerja milenialyang merantau atau memutuskan hidup mandiri, perkara mencari tempat tinggal yang tepat bisa menjadi momok tersendiri. Anda bisa memilih untuk membeli rumahdengan Kredit Pemilikan Rumah (KPR) atau menyewa.
Pengamat Properti Aleviery Akbar menyebut salah satu hal yang perlu diperhatikan oleh pekerja milenial dalam memutuskan antara kedua pilihan tersebut adalah kemampuan membayar DP dan cicilan properti.
Ia menilai setiap pro dan kontra kedua pilihan harus benar-benar dipertimbangkan oleh pekerja milenial, misalnya jarak tempuh antara rumah dan tempat kerja. Secara rinci, berikut adalah ulasan pro dan kontra antara mengambil KPR atau menyewa bagi pekerja muda:
Perencana keuangan OneShildt Rahma Mieta Mulia menyebut salah satu sisi positif dari mengambil KPR adalah cicilan KPR merupakan tabungan Anda dalam bentuk aset properti.
Ia menilai uang yang Anda keluarkan untuk membayar cicilan KPR bisa sebanding dengan kenaikan harga rumah yang akan dibeli nantinya. "Itu sebabnya utang KPR disebut utang produktif, utang yang digunakan untuk membeli aset yang nilainya akan naik di masa yang akan datang," katanya kepada CNNIndonesia.com, Jumat (24/9).
Rahma menyebut selain menabung, mengambil KPR juga memberikan Anda rasa aman dan kepastian akan tempat bernaung. Bila mengontrak, bisa saja pemilik properti memiliki rencana lain ke depan dan Anda harus pindah.
Bila sudah begitu, tentu Anda akan repot menata ulang rencana ke depan. "Punya rumah juga bisa memberikan rasa aman, terutama saat tua nanti kita nggak perlu bingung tinggal di mana," kata dia.
Masalah klasik untuk pekerja muda dalam mengambil KPR adalah keterbatasan dana yang dimiliki, sehingga mau tidak mau rumah yang dibeli jauh dari perkotaan atau tempat kerja.
Karena menyesuaikan budget, Rahma mengingatkan akan konsekuensi perjalanan yang harus ditempuh setiap harinya. Perhitungkan juga biaya transportasi yang jadi membengkak bila Anda harus melakukan komuter jauh.
Tak seperti mengontrak di mana Anda tidak perlu mengalokasikan dana tambahan selain cicilan kontrak itu sendiri, untuk KPR Anda harus mengalokasikan berbagai dana tambahan.
Misalnya saja dana perawatan, pajak bumi dan bangunan (PBB), dan pengeluaran tidak terduga lainnya.
"Misalnya tiba-tiba rumah tersambar petir, kena banjir jadi harus dicat ulang, dan sebagainya," kata Rahma.
Cek pro kontra menyewa hunian pada halaman berikutnya.
Sewa Rumah
Pro:
-Banyak Pilihan Rahma menyebut menyewa tempat tinggal memberikan Anda lebih banyak opsi, karena biaya tidak terlalu berat maka Anda bisa pilih tempat tinggal yang dekat dengan tempat kerja.
Apalagi, kata dia, untuk yang masih single dan jarak tempuh dari kantor menjadi prioritas utama. Untuk biaya perbaikannya pun biasanya ditanggung oleh pemilik rumah/apartemen.
Aleviery mengatakan menyewa tempat tinggal memberikan Anda keleluasaan lebih secara finansial. Untuk Anda yang bergaji pas-pasan, mengumpulkan DP dan menyisihkan cicilan bulanan membutuhkan kedisiplinan yang tinggi.
Rahma mengingatkan maksimal total seluruh cicilan utang yang dibayarkan adalah 35 persen dari pendapatan agar kondisi arus kas tidak terganggu. Jadi, untuk mereka yang belum memiliki kemampuan finansial yang stabil, Anda disarankan untuk pikir-pikri dulu sebelum mengambil KPR.
Rahma dan Aleviery sepakat kalau menyewa tempat tinggal terus, Anda tidak akan mulai menabung untuk aset properti sedangkan tanggung jawab Anda terus bertambah seiring dengan penambahan usia. Bisa dibilang dana yang Anda keluarkan untuk menyewa terus 'boncos' sebagai beban namun tidak ada hasil yang terlihat.
Ingat, cicilan KPR merupakan aset yang bisa dijual bila Anda memutuskan untuk pindah atau mengambil keputusan lainnya.
"Setiap uang sewa yang kita bayar tidak bisa dianggap sebagai tabungan karena tidak ada aset yang akan menjadi hak milik. Apartemen/rumah yang kita sewa akan tetap milik orang lain, bukan kita," pungkasnya.
Bagi pekerja milenialyang merantau atau memutuskan hidup mandiri, perkara mencari tempat tinggal yang tepat bisa menjadi momok tersendiri. Anda bisa memilih untuk membeli rumahdengan Kredit Pemilikan Rumah (KPR) atau menyewa.
Pengamat Properti Aleviery Akbar menyebut salah satu hal yang perlu diperhatikan oleh pekerja milenial dalam memutuskan antara kedua pilihan tersebut adalah kemampuan membayar DP dan cicilan properti.
Ia menilai setiap pro dan kontra kedua pilihan harus benar-benar dipertimbangkan oleh pekerja milenial, misalnya jarak tempuh antara rumah dan tempat kerja. Secara rinci, berikut adalah ulasan pro dan kontra antara mengambil KPR atau menyewa bagi pekerja muda:
Perencana keuangan OneShildt Rahma Mieta Mulia menyebut salah satu sisi positif dari mengambil KPR adalah cicilan KPR merupakan tabungan Anda dalam bentuk aset properti.
Ia menilai uang yang Anda keluarkan untuk membayar cicilan KPR bisa sebanding dengan kenaikan harga rumah yang akan dibeli nantinya. "Itu sebabnya utang KPR disebut utang produktif, utang yang digunakan untuk membeli aset yang nilainya akan naik di masa yang akan datang," katanya kepada CNNIndonesia.com, Jumat (24/9).
Rahma menyebut selain menabung, mengambil KPR juga memberikan Anda rasa aman dan kepastian akan tempat bernaung. Bila mengontrak, bisa saja pemilik properti memiliki rencana lain ke depan dan Anda harus pindah.
Bila sudah begitu, tentu Anda akan repot menata ulang rencana ke depan. "Punya rumah juga bisa memberikan rasa aman, terutama saat tua nanti kita nggak perlu bingung tinggal di mana," kata dia.
Masalah klasik untuk pekerja muda dalam mengambil KPR adalah keterbatasan dana yang dimiliki, sehingga mau tidak mau rumah yang dibeli jauh dari perkotaan atau tempat kerja.
Karena menyesuaikan budget, Rahma mengingatkan akan konsekuensi perjalanan yang harus ditempuh setiap harinya. Perhitungkan juga biaya transportasi yang jadi membengkak bila Anda harus melakukan komuter jauh.
Tak seperti mengontrak di mana Anda tidak perlu mengalokasikan dana tambahan selain cicilan kontrak itu sendiri, untuk KPR Anda harus mengalokasikan berbagai dana tambahan.
Misalnya saja dana perawatan, pajak bumi dan bangunan (PBB), dan pengeluaran tidak terduga lainnya.
"Misalnya tiba-tiba rumah tersambar petir, kena banjir jadi harus dicat ulang, dan sebagainya," kata Rahma.
Cek pro kontra menyewa hunian pada halaman berikutnya.
Sewa Rumah
Pekerja muda bisa memilih tempat tinggal dengan membeli lewat Kredit Pemilikan Rumah (KPR) atau menyewa. Ilustrasi. (Adhi Wicaksono).
Sewa Rumah
Pro:
-Banyak Pilihan Rahma menyebut menyewa tempat tinggal memberikan Anda lebih banyak opsi, karena biaya tidak terlalu berat maka Anda bisa pilih tempat tinggal yang dekat dengan tempat kerja.
Apalagi, kata dia, untuk yang masih single dan jarak tempuh dari kantor menjadi prioritas utama. Untuk biaya perbaikannya pun biasanya ditanggung oleh pemilik rumah/apartemen.
Aleviery mengatakan menyewa tempat tinggal memberikan Anda keleluasaan lebih secara finansial. Untuk Anda yang bergaji pas-pasan, mengumpulkan DP dan menyisihkan cicilan bulanan membutuhkan kedisiplinan yang tinggi.
Rahma mengingatkan maksimal total seluruh cicilan utang yang dibayarkan adalah 35 persen dari pendapatan agar kondisi arus kas tidak terganggu. Jadi, untuk mereka yang belum memiliki kemampuan finansial yang stabil, Anda disarankan untuk pikir-pikri dulu sebelum mengambil KPR.
Rahma dan Aleviery sepakat kalau menyewa tempat tinggal terus, Anda tidak akan mulai menabung untuk aset properti sedangkan tanggung jawab Anda terus bertambah seiring dengan penambahan usia. Bisa dibilang dana yang Anda keluarkan untuk menyewa terus 'boncos' sebagai beban namun tidak ada hasil yang terlihat.
Ingat, cicilan KPR merupakan aset yang bisa dijual bila Anda memutuskan untuk pindah atau mengambil keputusan lainnya.
"Setiap uang sewa yang kita bayar tidak bisa dianggap sebagai tabungan karena tidak ada aset yang akan menjadi hak milik. Apartemen/rumah yang kita sewa akan tetap milik orang lain, bukan kita," pungkasnya.