ANALISIS

Goodbye dari Dolar AS Tak Semudah Membalikkan Telapak Tangan

Wella Andany, CNN Indonesia | Kamis, 07/10/2021 07:13 WIB
Penggunaan mata uang lokal dalam transaksi perdagangan memang mengurangi ketergantungan terhadap dolar AS jika implementasinya maksimal. Penggunaan mata uang lokal dalam transaksi perdagangan memang mengurangi ketergantungan terhadap dolar AS jika implementasinya maksimal. (CNN Indonesia/Hesti Rika).
Jakarta, CNN Indonesia --

Indonesia dan beberapa negara Asia mulai putar haluan, meninggalkan penggunaan dolar AS dalam transaksi perdagangan internasional. Lewat perjanjian Local Currency Settlement (LCS), transaksi perdagangan internasional akan diselesaikan dengan mata uang lokal masing-masing negara. Tidak melulu dolar AS seperti sebelumnya.

Kebijakan antar bank sentral ini pertama kali dimulai oleh Bank Indonesia (BI) dengan Malaysia pada 2018 lalu. Transaksi bilateral kedua negara dilakukan dengan rupiah dan ringgit.

Disusul, penggunaan mata uang yen Jepang dan baht Thailand yang resmi dipakai pada 2020 dan diikuti oleh RI-China pada September 2021 lalu.


Tak sampai di situ, Gubernur BI Perry Warjiyo mengatakan saat ini sedang menjajaki perluasan LCS dengan dua negara ASEAN lainnya, yaitu Singapura dan Filipina.

Menurut dia, penggunaan mata uang lokal antara Indonesia dengan sejumlah negara mitra dagang perlu dilakukan demi efisiensi. Terlebih, hubungan RI dengan negara terkait menyangkut masalah aliran investasi. Selain itu, LCS dinilai bisa berdampak pada stabilisasi pasar keuangan masing-masing negara karena ketergantungan terhadap dolar AS terus berkurang.

Kepala Ekonom Bank Permata Josua Pardede mengamini pernyataan Perry tersebut. Josua menilai banyak manfaat implementasi LCS. Pertama, tentunya, efisiensi biaya kuotasi untuk nasabah atau pengusaha.

Dengan menggunakan mata uang lokal, maka biaya transaksi bakal lebih murah. Bila sebelumnya perlu dilakukan kuotasi dua kali dari rupiah-dolar AS dan dolar AS ke mata uang lokal setempat, maka kini kuotasi hanya sekali saja.

Ia menjelaskan umumnya perbankan mengambil margin atau keuntungan dari kuotasi itu. Nah, karena LCS bisa memangkas biaya tersebut, tentu penggunaan kurs lokal bakal menarik bagi pengusaha.

"Manfaatnya ke pelaku usaha biaya transaksi akan lebih murah juga, ketimbang harus kuotasi tidak langsung," katanya kepada CNNIndonesia.com, Rabu (6/10).

Kedua, ia menilai penggunaan mata uang lokal akan mengurangi ketergantungan terhadap dolar AS sekaligus stabilisasi harga tukar rupiah. Apalagi, ketergantungan ini paling terasa saat terjadi gejolak di pasar keuangan global.

Ketika terjadi ketidakpastian global, rupiah mampu bertahan karena arus modal keluar (outflow) asing tidak lagi berdampak terlalu besar terhadap sektor keuangan dalam negeri.

Tengok saja pada Maret 2020 lalu, saat nilai tukar rupiah keok dan hampir menyentuh Rp17 ribu per dolar AS karena terjadi kepanikan di pasar keuangan saat covid-19 melanda. Gejolak itu bisa dihindari apabila transaksi lebih banyak menggunakan mata uang lokal.

Di samping itu, stabilisasi rupiah bisa berdampak langsung ke pasokan industri karena saat nilai tukar rupiah anjlok, pengusaha akan berpikir dua kali untuk mengimpor bahan baku.

"Artinya, jadi mengganggu aktivitas produksi juga, kepastian dengan mengurangi ketergantungan akan mendorong stabilitas nilai tukar rupiah," imbuh dia.

Ketiga, LCS juga berpotensi mengembangkan pasar mata uang regional, mengingat saat ini dolar AS masih jadi acuan utama, maka tak heran bila pasar valas yang berkembang adalah dolar AS. Namun, dengan bergesernya acuan transaksi perdagangan dengan kurs lokal, maka akan terbuka pasar mata uang di luar dolar AS.

Sayangnya, Josua menyoroti masih minimnya implementasi LCS. Ia mengatakan saat ini volume transaksi belum signifikan atau masih di bawah 5 persen dari total transaksi.

Karenanya, LCS harus dilakukan secara massif untuk mendapatkan keuntungan yang telah dia jabarkan tersebut. Bukan tidak mungkin, kata dia, harga barang jadi di level masyarakat dapat ditekan bila fitur LCS dimanfaatkan secara maksimal.

Pun demikian, patut diingat, manfaat penggunaan kurs lokal belum akan dirasakan dalam waktu dekat bila transaksi masih rendah.

Mengutip data BI, transaksi skema LCS dengan Malaysia hanya 1,4 persen dari total perdagangan kedua negara pada 2018 lalu.

Tetapi, angkanya terus meningkat menjadi 4,1 persen pada 2021 lalu.

Setali tiga uang, LCS dengan Thailand masih di kisaran 1 persen pada 2020 lalu. Kemudian, penggunaan yen-rupiah juga baru 0,7 persen dari total perdagangan Indonesia-Jepang pada kuartal I 2020.

Josua menekankan BI, perbankan, dan Kadin Indonesia harus giat mensosialisasikan fitur LCS kepada pengusaha dan masyarakat luas.



Superior Dolar AS

BACA HALAMAN BERIKUTNYA
HALAMAN :
1 2
TOPIK TERKAIT
REKOMENDASI
LAINNYA DI DETIKNETWORK