Garuda Respons Soal Kabar Utang Rp12 T ke Pertamina

CNN Indonesia
Selasa, 26 Oct 2021 19:58 WIB
Menurut lapkeu Pertamina, Garuda dan entitas usahanya memiliki utang sekitar Rp10,24 triliun. Menurut lapkeu Pertamina, Garuda dan entitas usahanya memiliki utang sekitar Rp10,24 triliun. (CNN Indonesia/Fajrian).
Jakarta, CNN Indonesia --

PT Garuda Indonesia (Persero) Tbk merespons kabar bahwa pihaknya memiliki utang senilai Rp12 triliun yang berasal dari tunggakan bahan bakar (avtur) ke PT Pertamina (Persero).

Kabar utang Rp12 triliun tersebut dijabarkan oleh eks menteri BUMN Dahlan Iskan yang dipublikasi dalam blog pribadinya, disway.id.

Saat dikonfirmasi, Direktur Utama PT Garuda Indonesia (Persero) Tbk Irfan Setiaputra tak mau banyak bicara. Ia juga membantah atau pun membenarkan pernyataan Dahlan. "Cek (ke) Pak Dahlan ya," ujarnya singkat kepada CNNIndonesia.com, Selasa (26/10).


Sementara, menurut Pjs Senior Vice President Corporate Communications and Investor Relations Pertamina Fajriyah Usman, Garuda memang punya piutang yang belum dibayarkan kepada perusahaan migas tersebut.

Berdasarkan rilis laporan keuangan perusahaan yang sudah diaudit pada 2020, tercatat Garuda Indonesia dan entitas anaknya memiliki utang senilai US$723,91 juta. Jika dikalikan dengan kurs hari ini, yaitu Rp14.152, maka utang Garuda ke Pertamina ialah setara Rp10,24 triliun.

Fajriyah menambahkan bahwa piutang tersebut dapat berkurang karena terus dilakukan restrukturisasi.

"Di laporan keuangan audit 2020 yang sudah dipublikasikan Pertamina (piutang Garuda) US$723 juta," kata dia.

Dari laporan keuangan Pertamina, tercatat utang Garuda dan anak usahanya naik pesat dari US$408,22 juta pada akhir 2019 menjadi US$723 juta pada tahun lalu.

Namun, Garuda bukan satu-satunya entitas yang berutang ke Pertamina. Juga tercatat piutang dari TNI/Kementerian Pertahanan senilai US$373,99 juta, PLN dan entitasnya US$345,94 juta, PPT Energi Trading Co Ltd US$180,1 juta, PT Pupuk Indonesia (Persero) US$78,26 juta, PT Merpati Nusantara Airlines (Persero) US$11,79 juta, dan lain-lain.

Diketahui, menteri BUMN era Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) Dahlan Iskan buka suara soal wacana pergantian operasional PT Garuda Indonesia (Persero) Tbk oleh Pelita Air Service (PAS).

Dia menduga salah satu pertimbangan untuk melakukan penggantian tersebut adalah masalah bahan bakar. Dahlan dalam catatan di blognya menyatakan Pertamina saat ini memiliki piutang Rp12 triliun kepada Garuda.

Piutang it berasal dari penjualan bahan bakar pesawat ke maskapai tersebut. Keberadaan piutang tersebut menyulitkan Pertamina. Pasalnya, di tengah kinerja keuangan yang sempat rugi pada tahun lalu, keberadaan piutang itu dinilainya tidak masuk akal dan melanggar prinsip sebuah perusahaan.

Dahlan menyebut bagaimana mungkin sebuah perusahaan yang rugi memiliki tagihan yang begitu besar. Ia mengatakan Pertamina bukan merupakan lembaga keuangan yang boleh memberikan pinjaman.

Selain itu, peraturan pajak juga melarang sebuah perusahaan memberikan pinjaman ke perusahaan lain dalam bentuk seperti yang dilakukan Pertamina ke Garuda.

Dahlan mengaku tidak tahu alasan kenapa Pertamina mau memberikan utang sebesar itu. Ia hanya menduga hal itu semua dilakukan karena ada perintah dari pemerintah selaku pemegang saham perusahaan.

Kalau dugaan itu benar, Dahlan mengatakan Pertamina pasti punya perintah tertulis yang jadi dokumen keuangan. Kalau ada dokumen perintah, itu baik bagi Pertamina.

[Gambas:Video CNN]



(wel/bir)
TOPIK TERKAIT
ARTIKEL TERKAIT
BACA JUGA
Lihat Semua
SAAT INI
BERITA UTAMA
REKOMENDASI
TERBARU
LAINNYA DI DETIKNETWORK
LIVE REPORT
LIHAT SELENGKAPNYA
TERPOPULER