BI Pede Efek Tapering Tak Akan Seberat Taper Tantrum 2013

CNN Indonesia
Kamis, 28 Oct 2021 05:30 WIB
BI percaya diri dampak kebijakan pengurangan likuiditas (tapering) bank sentral AS ke Indonesia tidak akan seberat kebijakan taper tantrum pada 2013 lalu. BI yakin efek tapering yang akan dilakukan oleh bank sentral AS terhadap ekonomi Indonesia tidak akan seberat yang pernah terjadi pada taper tantrum pada 2013 lalu. (Dokumentasi: BI/Istimewa).
Jakarta, CNN Indonesia --

Gubernur Bank Indonesia (BI) Perry Warjiyo memastikan dampak kebijakan pengurangan likuiditas (tapering) bank sentral AS, The Federal Reserve ke Indonesia tidak akan seberat kebijakan pengurangan pembelian aset dan surat utang (taper tantrum) di Negeri Paman Sam yang terjadi pada 2013 lalu.

"Dibandingkan The Fed taper tantrum, pengaruh dan dampak ke Indonesia dari rencana tapering The Fed ini jauh lebih rendah dari taper tantrum pada 2013," ungkap Perry di konferensi pers Komite Stabilitas Sistem Keuangan (KSSK), Rabu (27/10).

Perry menjelaskan keyakinan ini muncul dari beberapa hal. Pertama, The Fed telah memberikan sinyal perubahan secara berkala ke publik bahwa kebijakan ini akan dilakukan secara bertahap.


"Bacaan kami, tapering Fed dimulai dari pengurangan penambahan likuiditas yang selama ini The Fed terus tambah likuiditas, maka tambahan likuiditas secara bertahap ini akan dikurangi," jelasnya.

Proyeksi bank sentral nasional, pengurangan likuiditas akan dilakukan sepanjang 2022. Sementara kenaikan tingkat suku bunga acuan The Fed kemungkinan terjadi pada kuartal III atau kuartal IV 2022.

"Terlihat dari dampak pada forward rate US Treasury (surat utang AS) atau forward rate untuk Fed Rate beberapa tahun ke depan. Tapi ini sesuatu yang dinamis dan harus dipantau," imbuhnya.

Kedua, fundamental ekonomi Indonesia cukup kuat. Hal ini tercermin dari defisit transaksi berjalan (Current Account Deficit/CAD) nasional yang diperkirakan cuma berkisar 0 persen sampai 0,8 persen dari Produk Domestik Bruto (PDB) pada tahun ini dan lebih rendah lagi pada tahun depan.

Proyeksi CAD ini, sambungnya, lebih rendah dari kondisi defisit transaksi berjalan Indonesia pada saat taper tantrum 2013 terjadi, yaitu lebih dari 3 persen dari PDB. Selain itu, juga tercermin dari cadangan devisa Indonesia sebesar US$146,9 miliar.

"Simpulannya, ya kita harus waspada, kita harus monitor, ya kita harus antisipasi dengan baik. Tapi kalau dibandingkan taper tantrum, ini kita bisa atasi dengan lebih mampu," ujarnya.

[Gambas:Video CNN]

Lebih lanjut, Perry mengatakan kebijakan tapering The Fed akan memberi dampak berupa kenaikan tingkat imbal hasil (yield) surat utang AS, US Treasury. Namun, ia memastikan dampak kenaikan ini juga akan bertahap.

"Ada yang memperkirakan 2022 nanti yield bisa naik ke 2 persen, 2,2 persen, 2,5 persen, tapi menuju ke sana secara bertahap," tuturnya.

Kendati begitu, ia memastikan BI bersama pemerintah akan terus memantau dampak kebijakan The Fed ke depan.

(agt/agt)
TOPIK TERKAIT
ARTIKEL TERKAIT
BACA JUGA
Lihat Semua
SAAT INI
BERITA UTAMA
REKOMENDASI
TERBARU
LAINNYA DI DETIKNETWORK
LIVE REPORT
LIHAT SELENGKAPNYA
TERPOPULER