Rupiah Perkasa ke Rp14.374 di Tengah Ancaman Suku Bunga AS

CNN Indonesia
Jumat, 28 Jan 2022 16:01 WIB
Rupiah menguat 0,10 persen ke posisi Rp14.374 per dolar AS pada Jumat (28/1) sore, di tengah kekhawatiran ancaman kenaikan suku bunga AS. Rupiah menguat 0,10 persen ke posisi Rp14.374 per dolar AS pada Jumat (28/1) sore, di tengah kekhawatiran ancaman kenaikan suku bunga AS. Ilustrasi. (ANTARA FOTO/Dhemas Reviyanto).
Jakarta, CNN Indonesia --

Nilai tukar rupiah berada di posisi Rp14.374 per dolar AS di perdagangan pasar spot pada Jumat (28/1) sore. Mata uang Garuda menguat 14,5 poin atau 0,10 persen dibanding sebelumnya, yakni Rp14.389 per dolar AS.

Sementara, kurs referensi Bank Indonesia (BI) Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (Jisdor) menempatkan rupiah di level Rp14.381 per dolar AS sore ini. Angkanya menguat dari posisi kemarin yang sebesar Rp14.385 per dolar AS.

Lalu, mayoritas mata uang di Asia terlihat bergerak melemah. yen Jepang minus 0,15 persen, dolar Hong Kong minus 0,06 persen, dolar Singapura minus 0,33 persen, won Korea Selatan minus 0,29 persen, dan baht Thailand minus 0,15 persen.


Sementara itu, hanya peso Filipina yang naik 0,21 persen, rupee India dan ringgit Malaysia ditutup tak bergeming pada sore ini.

Di sisi lain, mata uang di negara maju kompak memerah. Terpantau, franc Swiss minus 0,06 persen, dolar Kanada minus 0,24 persen, dolar Australia minus 0,41 persen, poundsterling Inggris minus 0,07 persen, dan euro Eropa minus 0,17 persen.

Analis Pasar Uang Ariston Tjendra mengatakan nilai tukar rupiah menguat tipis dikarenakan pelaku pasar masih memanfaatkan peluang buy on dip.

"Sebagian pelaku pasar ada yang memanfaatkan peluang buy on dip. Sebagian pasar masih yakin terhadap peluang pemulihan ekonomi di tengah pandemi. Bagusnya data pertumbuhan PDB AS kuartal IV memberikan keyakinan tersebut," ujarnya kepada CNNIndonesia.com, Jumat (28/1).

Dengan demikian, ia menilai mata uang rupiah bisa menguat tipis pada hari ini. Namun, pelaku pasar diminta untuk antisipasi terhadap kondisi terkini yang masih bergejolak.

"Tapi tekanan terhadap rupiah belum hilang. Ekspektasi kenaikan suku bunga acuan dan kebijakan pengetatan moneter AS lainnya masih bisa menekan rupiah ke depannya," pungkasnya.

[Gambas:Video CNN]



(fry/bir)
TOPIK TERKAIT
ARTIKEL TERKAIT
BACA JUGA
Lihat Semua
SAAT INI
BERITA UTAMA
REKOMENDASI
TERBARU
LAINNYA DI DETIKNETWORK
LIVE REPORT
LIHAT SELENGKAPNYA
TERPOPULER