Analis pasar modal menilai saat ini menjadi kesempatan investor untuk membeli saham dengan harga murah. Ilustrasi. (ANTARA FOTO/Puspa Perwitasari).
Jakarta, CNN Indonesia --
Indeks Harga SahamGabungan (IHSG) melemah 1,84 poin atau 0,03 persen ke level 6.597 pada perdagangan akhir pekan lalu. Investor asing mencatat jual bersih atau net sell di seluruh pasar sebesar Rp2,27 triliun.
Dalam sepekan terakhir, indeks saham menunjukkan tren pelemahan yang konsisten lima kali. Sementara secara total, performa indeks melemah 8,73 persen.
Pelaksana Harian Sekretaris Perusahaan Bursa Efek Indonesia (BEI) Yulianto Aji Sadono menyebut kapitalisasi pasar bursa mencatat penurunan sebesar 7,23 persen dari Rp9.555,01 triliun pada pekan sebelumnya, menjadi Rp8.864,56 triliun.
Sementara, rata-rata nilai transaksi harian bursa ikut melorot 14,63 persen dari Rp23,955 triliun menjadi Rp20,450 triliun. Kemudian, rata-rata volume transaksi harian bursa menurun 11,56 persen dari 24,393 miliar saham menjadi 21,573 miliar saham.
"Rata-rata nilai transaksi harian Bursa pekan ini berubah sebesar 14,63 persen menjadi Rp20,450 triliun dari Rp23,955 triliun pada penutupan pekan yang lalu," terang Yulianto, seperti dikutip dari situs IDX, Jumat (13/5).
Meski tren penurunan belum berhenti, Analis Teknikal MNC Sekuritas Herditya Wicaksana memprediksi sepekan depan IHSG berpotensi menguat jangka pendek. Ia mengatakan indeks saham akan bergerak di rentang support 6.484 dan resistance 6.700.
Menurutnya, indeks saham pekan ini dipengaruhi oleh tingkat inflasi tinggi di Amerika Serikat (AS) yang dikhawatirkan dapat memicu kebijakan agresif dari bank sentral AS alias The Fed.
Sementara itu, di dalam negeri investor akan mencermati rilis data ekspor-impor, neraca perdagangan dan neraca transaksi berjalan. Ketiga faktor tersebut akan menopang pergerakan IHSG pekan depan.
"Tentu saja sentimen-sentimen tersebut dapat mempengaruhi pergerakan IHSG, namun kami mencermati akan adanya technical rebound (melambungnya indeks) terlebih dahulu seperti yang kami sampaikan," ujar Herditya kepada CNNIndonesia.com, Sabtu (7/5).
Selain itu, ia menyebut harga emas yang sempat turun dan harga minyak yang cenderung naik akan mempengaruhi pergerakan emiten, khususnya yang berkaitan dengan sektor komoditas.
Di sisi lain, ia mengatakan jatuhnya harga kripto memang lumrah terjadi karena kondisi ekonomi di AS yang sedang tidak stabil. Hal ini membuat investor melepas aset-aset berisiko, seperti saham dan kripto. Namun, keduanya tidak saling mempengaruhi.
"Apabila dihubungkan dengan saham, menurut kami kurang berkorelasi kuat, karena sama-sama aset berisiko juga dan investor cenderung memilih instrumen yang aman seperti (obligasi) Departemen Keuangan AS," kata Herditya.
Menurutnya, investor dapat memanfaatkan kesempatan ini untuk membeli sejumlah saham pada harga terendah alias Buy On Weakness. Beberapa sektor yang ia rekomendasi mencakup sektor konsumer, sektor energi dan sektor properti dan real estat.
Untuk sektor konsumer, ia merekomendasi PT Unilever Indonesia Tbk atau UNVR yang menguat 2,35 persen ke level 4.800 pada pekan lalu. Ia memprediksi UNVR dapat menyentuh level 5.140 pekan ini.
Lalu, ada juga PT Hanjaya Mandala Sampoerna Tbk atau HMSP yang ditutup menguat 6,09 persen ke posisi 1.045. Ia memprediksi HMSP akan menyentuh 1.100 pekan ini.
Bersambung ke halaman berikutnya...
Sedangkan di sektor energi, ada PT Adaro Energy Indonesia Tbk atau ADRO yang ditutup menguat 1,90 persen pada pekan lalu ke posisi 3.210. Herditya memprediksi ADRO dapat menyentuh level 3.600.
Ia juga merekomendasikan PT Indo Tambangraya Megah Tbk atau ITMG yang ditutup menguat 7,54 persen ke posisi 31.725. Ia memprediksi ITMG dapat menyentuh posisi 33.000.
Terakhir, untuk sektor properti dan real estat, ia merekomendasikan investor membeli saham PT Alam Sutera Realty Tbk, PT Bumi Serpong Damai Tbk dan PT Ciputra Development Tbk untuk pekan ini.
Sementara, pengamat Pasar Modal Riska Afriani memproyeksikan IHSG masih akan melanjutkan penurunan hingga memasuki kuartal ketiga, seiring dengan munculnya ketidakpastian global. Indeks saham bergerak di rentang support 6.465 dan resistance 6.665.
Menurut Riska, pelaku pasar global akan mengantisipasi dampak perang antara Rusia dan Ukraina, kenaikan suku bunga acuan The Fed, serta inflasi yang menyentuh level tertinggi selama empat dekade.
"Hal-hal tersebut menyebabkan investor asing cenderung menunggu dan mengamati (situasi) sambil antisipasi kenaikan suku bunga," ujarnya.
Terkait sentimen dalam negeri, investor masih akan mencermati rilis beberapa data ekonomi, seperti neraca perdagangan April, penjualan mobil April, dan neraca transaksi berjalan kuartal pertama. Namun, saat ini, ia melihat pergerakan indeks lebih banyak terpengaruh oleh sentimen luar negeri.
"Saya melihat pergerakan indeks saat ini lebih dipengaruhi oleh sentimen global. Karena hal ini mempengaruhi perilaku investor, terutama pada saat asing mencatatkan jual bersih," kata Riska.
Dalam keadaan seperti itu, ia menyarankan investor untuk memanfaatkan kesempatan ini untuk mengakumulasi beli secara bertahap terhadap beberapa saham yang mengalami penurunan harga rata-rata.
Jika dirinci, sejumlah saham yang Riska rekomendasikan untuk dikoleksi mencakup sektor perbankan yakni PT Bank Mandiri (Persero) Tbk atau BMRI yang ditutup melemah 0,95 persen ke posisi 2.700 pada pekan lalu. Kemudian, PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk atau BBRI yang ditutup melemah 1,62 persen ke posisi 4.250 di pekan sebelumnya.
Lalu, ia juga merekomendasikan emiten sektor aneka industri seperti PT Astra International Tbk atau ASII yang ditutup menguat 4,46 persen ke posisi 7.810.
Senada dengan Herditya, Riska juga merekomendasikan saham dari sektor pertambangan, khususnya PT Adaro Energy Indonesia Tbk, dan PT Bukit Asam Tbk untuk pekan ini.
Indeks Harga SahamGabungan (IHSG) melemah 1,84 poin atau 0,03 persen ke level 6.597 pada perdagangan akhir pekan lalu. Investor asing mencatat jual bersih atau net sell di seluruh pasar sebesar Rp2,27 triliun.
Dalam sepekan terakhir, indeks saham menunjukkan tren pelemahan yang konsisten lima kali. Sementara secara total, performa indeks melemah 8,73 persen.
Pelaksana Harian Sekretaris Perusahaan Bursa Efek Indonesia (BEI) Yulianto Aji Sadono menyebut kapitalisasi pasar bursa mencatat penurunan sebesar 7,23 persen dari Rp9.555,01 triliun pada pekan sebelumnya, menjadi Rp8.864,56 triliun.
Sementara, rata-rata nilai transaksi harian bursa ikut melorot 14,63 persen dari Rp23,955 triliun menjadi Rp20,450 triliun. Kemudian, rata-rata volume transaksi harian bursa menurun 11,56 persen dari 24,393 miliar saham menjadi 21,573 miliar saham.
"Rata-rata nilai transaksi harian Bursa pekan ini berubah sebesar 14,63 persen menjadi Rp20,450 triliun dari Rp23,955 triliun pada penutupan pekan yang lalu," terang Yulianto, seperti dikutip dari situs IDX, Jumat (13/5).
Meski tren penurunan belum berhenti, Analis Teknikal MNC Sekuritas Herditya Wicaksana memprediksi sepekan depan IHSG berpotensi menguat jangka pendek. Ia mengatakan indeks saham akan bergerak di rentang support 6.484 dan resistance 6.700.
Menurutnya, indeks saham pekan ini dipengaruhi oleh tingkat inflasi tinggi di Amerika Serikat (AS) yang dikhawatirkan dapat memicu kebijakan agresif dari bank sentral AS alias The Fed.
Sementara itu, di dalam negeri investor akan mencermati rilis data ekspor-impor, neraca perdagangan dan neraca transaksi berjalan. Ketiga faktor tersebut akan menopang pergerakan IHSG pekan depan.
"Tentu saja sentimen-sentimen tersebut dapat mempengaruhi pergerakan IHSG, namun kami mencermati akan adanya technical rebound (melambungnya indeks) terlebih dahulu seperti yang kami sampaikan," ujar Herditya kepada CNNIndonesia.com, Sabtu (7/5).
Selain itu, ia menyebut harga emas yang sempat turun dan harga minyak yang cenderung naik akan mempengaruhi pergerakan emiten, khususnya yang berkaitan dengan sektor komoditas.
Di sisi lain, ia mengatakan jatuhnya harga kripto memang lumrah terjadi karena kondisi ekonomi di AS yang sedang tidak stabil. Hal ini membuat investor melepas aset-aset berisiko, seperti saham dan kripto. Namun, keduanya tidak saling mempengaruhi.
"Apabila dihubungkan dengan saham, menurut kami kurang berkorelasi kuat, karena sama-sama aset berisiko juga dan investor cenderung memilih instrumen yang aman seperti (obligasi) Departemen Keuangan AS," kata Herditya.
Menurutnya, investor dapat memanfaatkan kesempatan ini untuk membeli sejumlah saham pada harga terendah alias Buy On Weakness. Beberapa sektor yang ia rekomendasi mencakup sektor konsumer, sektor energi dan sektor properti dan real estat.
Untuk sektor konsumer, ia merekomendasi PT Unilever Indonesia Tbk atau UNVR yang menguat 2,35 persen ke level 4.800 pada pekan lalu. Ia memprediksi UNVR dapat menyentuh level 5.140 pekan ini.
Lalu, ada juga PT Hanjaya Mandala Sampoerna Tbk atau HMSP yang ditutup menguat 6,09 persen ke posisi 1.045. Ia memprediksi HMSP akan menyentuh 1.100 pekan ini.
Bersambung ke halaman berikutnya...
Akumulasi Beli
Pengamat pasar modal menilai saat ini bisa menjadi kesempatan untuk membeli saham dengan harga murah. llustrasi. (ANTARA FOTO/GALIH PRADIPTA).
Sedangkan di sektor energi, ada PT Adaro Energy Indonesia Tbk atau ADRO yang ditutup menguat 1,90 persen pada pekan lalu ke posisi 3.210. Herditya memprediksi ADRO dapat menyentuh level 3.600.
Ia juga merekomendasikan PT Indo Tambangraya Megah Tbk atau ITMG yang ditutup menguat 7,54 persen ke posisi 31.725. Ia memprediksi ITMG dapat menyentuh posisi 33.000.
Terakhir, untuk sektor properti dan real estat, ia merekomendasikan investor membeli saham PT Alam Sutera Realty Tbk, PT Bumi Serpong Damai Tbk dan PT Ciputra Development Tbk untuk pekan ini.
Sementara, pengamat Pasar Modal Riska Afriani memproyeksikan IHSG masih akan melanjutkan penurunan hingga memasuki kuartal ketiga, seiring dengan munculnya ketidakpastian global. Indeks saham bergerak di rentang support 6.465 dan resistance 6.665.
Menurut Riska, pelaku pasar global akan mengantisipasi dampak perang antara Rusia dan Ukraina, kenaikan suku bunga acuan The Fed, serta inflasi yang menyentuh level tertinggi selama empat dekade.
"Hal-hal tersebut menyebabkan investor asing cenderung menunggu dan mengamati (situasi) sambil antisipasi kenaikan suku bunga," ujarnya.
Terkait sentimen dalam negeri, investor masih akan mencermati rilis beberapa data ekonomi, seperti neraca perdagangan April, penjualan mobil April, dan neraca transaksi berjalan kuartal pertama. Namun, saat ini, ia melihat pergerakan indeks lebih banyak terpengaruh oleh sentimen luar negeri.
"Saya melihat pergerakan indeks saat ini lebih dipengaruhi oleh sentimen global. Karena hal ini mempengaruhi perilaku investor, terutama pada saat asing mencatatkan jual bersih," kata Riska.
Dalam keadaan seperti itu, ia menyarankan investor untuk memanfaatkan kesempatan ini untuk mengakumulasi beli secara bertahap terhadap beberapa saham yang mengalami penurunan harga rata-rata.
Jika dirinci, sejumlah saham yang Riska rekomendasikan untuk dikoleksi mencakup sektor perbankan yakni PT Bank Mandiri (Persero) Tbk atau BMRI yang ditutup melemah 0,95 persen ke posisi 2.700 pada pekan lalu. Kemudian, PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk atau BBRI yang ditutup melemah 1,62 persen ke posisi 4.250 di pekan sebelumnya.
Lalu, ia juga merekomendasikan emiten sektor aneka industri seperti PT Astra International Tbk atau ASII yang ditutup menguat 4,46 persen ke posisi 7.810.
Senada dengan Herditya, Riska juga merekomendasikan saham dari sektor pertambangan, khususnya PT Adaro Energy Indonesia Tbk, dan PT Bukit Asam Tbk untuk pekan ini.