Pedagang Kue dan Mie Siap Naikkan Harga Jika Terigu Makin Mahal
CNN Indonesia
Jumat, 20 Mei 2022 12:25 WIB
Bagikan:
URL berhasil disalin
Pedagang kue dan mie akan menaikkan harga barang dagangannya jika harga tepung terigu kian mahal. Ilustrasi. (Unsplash/Pixabay).
Jakarta, CNN Indonesia --
Ineke, pedagang kue jajanan pasar di kawasan Pondok Labu, Jakarta, mengaku siap menaikkan harga jualannya dalam waktu dekat jika tepung terigu semakin mahal.
Sebab, harga tepung terigu kini tengah dibayangi kelangkaan bahan baku gandum karena India melarang ekspor komoditas tersebut.
"Ya kalau sampai tepung terigu naik lagi, mau tidak mau naikin harga kue-kue juga. Soalnya sudah banyak sekali yang naik dari kemarin, tepung lah, minyak lah, gula juga sempat naik," ucap Ineke kepada CNNIndonesia.com, Jumat (20/5).
Saat ini saja, katanya, harga tepung terigu yang dibelinya sudah mencapai Rp9.500 per kilogram (kg). Harganya sudah naik sejak Ramadan dari semula Rp8.500 per kg.
Tapi, setelah Ramadan selesai, harganya tidak kunjung turun. Itu baru satu bahan, belum lagi minyak goreng yang kini masih berada di kisaran Rp49 ribu per dua liter, seperti yang dibelinya beberapa hari kemarin.
"Jadi semua-semua mahal, naik, tapi kue saya belum ada kenaikan," imbuhnya.
Untuk kue jajanan pasar yang dijualnya, kini dibanderol dari harga Rp2.000 sampai Rp4.000 per potong. Harganya disebut tidak berubah sejak tahun lalu.
"Soalnya mau naikin Rp500 saja itu susah kan ya, nanti pada mikir-mikir mau beli kue saya, padahal jajanan pasar kan harus terjangkau harganya. Kalau naik Rp200-Rp300 susah kembaliannya," tutur Ineke.
Tak cuma Ineke, Eli, pedagang Bakmi Ayam Bangka di kawasan Cinere, Depok juga bersiap menaikkan harga kalau harga mie semakin melambung. Saat ini saja, ia mencatat harga mie jadi yang dibelinya dari pemasok sudah naik dari Rp30 ribu menjadi Rp35 ribu per kemasan.
"Dari awal tahun ini juga sudah mahal, ada kali naik 10-15 persen. Ibu saya yang sering bantu beli dari pemasok saja, ngeluh terus, ini mienya mahal, padahal saya belum naikin harga bakmi," kata Eli.
Sementara harga jual bakmi ayamnya tak berubah sudah lebih dari setahun, masih di kisaran Rp12 ribu sampai Rp15 ribu per porsi tergantung variasi.
"Ini saja saya belum naikin harga sudah sepi, belum balik seperti sebelum pandemi, padahal katanya orang-orang sudah mulai aktivitas di luar. Omzet juga masih jauh dari biasanya," ujarnya.
Sebagai gambaran, Eli mengaku cuma bisa menjual sekitar 30-50 porsi bakmi ayam per hari. Omzet yang dikantonginya hanya berkisar Rp500 ribu hingga Rp750 ribu per hari.
"Kalau dibanding sebelum pandemi (omzet) jauh ya, bisa lebih dari dua kali lipat, bisa sampai tiga kali lipat mungkin," tuturnya.
Untuk itu, Eli berencana segera menaikkan harga bakmi ayamnya, meski belum tahu pasti berapa kira-kira besaran kenaikannya.
"Ya mau enggak mau ya, bulan depan mungkin sudah naik. Mungkin sekitar 20-25 persen, nanti dihitung-hitung dulu tapi berkisar segitu, soalnya kalau cuma 10 persen tidak menutup modal," jelasnya.
Rencana kenaikan harga kue dan bakmi ayam ini meresahkan Yanti (45 tahun) sebagai konsumen. Maklum, ia mengaku sering mengonsumsi kedua jenis makanan itu.
"Iya khawatir sih kalau naik, apalagi lumayan sering ya jajan itu. Apalagi kalau mie ayam gitu yang naik ya, walau cuma naik Rp1.000-2.000 pasti tetap berasa sih di dompet. Kalau kue-kue mungkin bisa dikurangi karena jajan, tapi mie susah ya" ungkap Yanti.
Bersambung ke halaman berikutnya...
Harga Naik Sejak Ramadan
Yuni, pedagang sembako di Pasar Segar Cinere, Depok mengatakan kenaikan harga tepung terigu dan mie sejatinya sudah terjadi sejak Ramadan.
Harga tepung terigu kiloan tak bermerek misalnya, naik dari Rp9.000 ke Rp10 ribu hingga tembus Rp10.500 per kg sampai hari ini.
"Untungnya kalau tepung itu yang beli pasti yang butuh, jadi mereka mau tidak mau tetap beli meski naik, ya namanya tetap butuh ya, buat jualan misalnya," ucap Yuni.
Ia pun mengaku tak terlalu khawatir jika harga tepung terigu naik. Sebab, menurutnya, bahan pangan ini bukan yang utama dicari masyarakat rumahan.
Beda hal jika minyak goreng yang naik. Sebab, bahan pangan ini lebih luas aspek konsumsinya, mulai dari ibu rumah tangga sampai pedagang.
"Sebenarnya ya maunya tidak naik, tapi tidak khawatir juga karena ini biasanya tetap ada yang beli karena sudah terlanjur butuh sama yang saya jual relatif sedikit sebenarnya ketimbang beras, gula, begitu," terangnya.
Senada, Agata, pedagang di Pasar Pondok Labu, mengatakan kenaikan harga tepung terigu memang sudah terjadi sejak bulan puasa. Tapi, harga yang dijualnya masih berkisar Rp9.500 per kg.
"Dari produsen sudah naik 10-15 persen kali ya sejak Ramadan itu," ungkap Agata.
Tak hanya tepung terigu, harga mie juga naik, baik mie telur maupun mie instan. Mie telur misalnya, harganya naik dari Rp4.000 menjadi Rp4.500 per kemasan.
Sementara mie instan seperti Indomie, naik dari Rp26 ribu sampai Rp28 ribu per 10 kemasan menjadi Rp27 ribu sampai Rp29 ribu per 10 kemasan.
"Kalau beli per dus, itu naiknya Rp6.000-7.000, isi 40. Ini dari sebelum Lebaran juga sudah naiknya," katanya.
Hanya saja, ia mengaku penjualan mie instan masih cukup ramai. "Mungkin karena orang mau tidak mau tetap akan stok di rumah ya buat jaga-jaga atau lapar tengah malam," tutupnya.
Ineke, pedagang kue jajanan pasar di kawasan Pondok Labu, Jakarta, mengaku siap menaikkan harga jualannya dalam waktu dekat jika tepung terigu semakin mahal.
Sebab, harga tepung terigu kini tengah dibayangi kelangkaan bahan baku gandum karena India melarang ekspor komoditas tersebut.
"Ya kalau sampai tepung terigu naik lagi, mau tidak mau naikin harga kue-kue juga. Soalnya sudah banyak sekali yang naik dari kemarin, tepung lah, minyak lah, gula juga sempat naik," ucap Ineke kepada CNNIndonesia.com, Jumat (20/5).
Saat ini saja, katanya, harga tepung terigu yang dibelinya sudah mencapai Rp9.500 per kilogram (kg). Harganya sudah naik sejak Ramadan dari semula Rp8.500 per kg.
Tapi, setelah Ramadan selesai, harganya tidak kunjung turun. Itu baru satu bahan, belum lagi minyak goreng yang kini masih berada di kisaran Rp49 ribu per dua liter, seperti yang dibelinya beberapa hari kemarin.
"Jadi semua-semua mahal, naik, tapi kue saya belum ada kenaikan," imbuhnya.
Untuk kue jajanan pasar yang dijualnya, kini dibanderol dari harga Rp2.000 sampai Rp4.000 per potong. Harganya disebut tidak berubah sejak tahun lalu.
"Soalnya mau naikin Rp500 saja itu susah kan ya, nanti pada mikir-mikir mau beli kue saya, padahal jajanan pasar kan harus terjangkau harganya. Kalau naik Rp200-Rp300 susah kembaliannya," tutur Ineke.
Tak cuma Ineke, Eli, pedagang Bakmi Ayam Bangka di kawasan Cinere, Depok juga bersiap menaikkan harga kalau harga mie semakin melambung. Saat ini saja, ia mencatat harga mie jadi yang dibelinya dari pemasok sudah naik dari Rp30 ribu menjadi Rp35 ribu per kemasan.
"Dari awal tahun ini juga sudah mahal, ada kali naik 10-15 persen. Ibu saya yang sering bantu beli dari pemasok saja, ngeluh terus, ini mienya mahal, padahal saya belum naikin harga bakmi," kata Eli.
Sementara harga jual bakmi ayamnya tak berubah sudah lebih dari setahun, masih di kisaran Rp12 ribu sampai Rp15 ribu per porsi tergantung variasi.
"Ini saja saya belum naikin harga sudah sepi, belum balik seperti sebelum pandemi, padahal katanya orang-orang sudah mulai aktivitas di luar. Omzet juga masih jauh dari biasanya," ujarnya.
Sebagai gambaran, Eli mengaku cuma bisa menjual sekitar 30-50 porsi bakmi ayam per hari. Omzet yang dikantonginya hanya berkisar Rp500 ribu hingga Rp750 ribu per hari.
"Kalau dibanding sebelum pandemi (omzet) jauh ya, bisa lebih dari dua kali lipat, bisa sampai tiga kali lipat mungkin," tuturnya.
Untuk itu, Eli berencana segera menaikkan harga bakmi ayamnya, meski belum tahu pasti berapa kira-kira besaran kenaikannya.
"Ya mau enggak mau ya, bulan depan mungkin sudah naik. Mungkin sekitar 20-25 persen, nanti dihitung-hitung dulu tapi berkisar segitu, soalnya kalau cuma 10 persen tidak menutup modal," jelasnya.
Rencana kenaikan harga kue dan bakmi ayam ini meresahkan Yanti (45 tahun) sebagai konsumen. Maklum, ia mengaku sering mengonsumsi kedua jenis makanan itu.
"Iya khawatir sih kalau naik, apalagi lumayan sering ya jajan itu. Apalagi kalau mie ayam gitu yang naik ya, walau cuma naik Rp1.000-2.000 pasti tetap berasa sih di dompet. Kalau kue-kue mungkin bisa dikurangi karena jajan, tapi mie susah ya" ungkap Yanti.
Bersambung ke halaman berikutnya...
Harga Naik Sejak Ramadan
Pedagang kue dan mie akan menaikkan harga barang dagangannya jika harga tepung terigu kian mahal. Ilustrasi. (CNNIndonesia/Melani Putri).
Harga Naik Sejak Ramadan
Yuni, pedagang sembako di Pasar Segar Cinere, Depok mengatakan kenaikan harga tepung terigu dan mie sejatinya sudah terjadi sejak Ramadan.
Harga tepung terigu kiloan tak bermerek misalnya, naik dari Rp9.000 ke Rp10 ribu hingga tembus Rp10.500 per kg sampai hari ini.
"Untungnya kalau tepung itu yang beli pasti yang butuh, jadi mereka mau tidak mau tetap beli meski naik, ya namanya tetap butuh ya, buat jualan misalnya," ucap Yuni.
Ia pun mengaku tak terlalu khawatir jika harga tepung terigu naik. Sebab, menurutnya, bahan pangan ini bukan yang utama dicari masyarakat rumahan.
Beda hal jika minyak goreng yang naik. Sebab, bahan pangan ini lebih luas aspek konsumsinya, mulai dari ibu rumah tangga sampai pedagang.
"Sebenarnya ya maunya tidak naik, tapi tidak khawatir juga karena ini biasanya tetap ada yang beli karena sudah terlanjur butuh sama yang saya jual relatif sedikit sebenarnya ketimbang beras, gula, begitu," terangnya.
Senada, Agata, pedagang di Pasar Pondok Labu, mengatakan kenaikan harga tepung terigu memang sudah terjadi sejak bulan puasa. Tapi, harga yang dijualnya masih berkisar Rp9.500 per kg.
"Dari produsen sudah naik 10-15 persen kali ya sejak Ramadan itu," ungkap Agata.
Tak hanya tepung terigu, harga mie juga naik, baik mie telur maupun mie instan. Mie telur misalnya, harganya naik dari Rp4.000 menjadi Rp4.500 per kemasan.
Sementara mie instan seperti Indomie, naik dari Rp26 ribu sampai Rp28 ribu per 10 kemasan menjadi Rp27 ribu sampai Rp29 ribu per 10 kemasan.
"Kalau beli per dus, itu naiknya Rp6.000-7.000, isi 40. Ini dari sebelum Lebaran juga sudah naiknya," katanya.
Hanya saja, ia mengaku penjualan mie instan masih cukup ramai. "Mungkin karena orang mau tidak mau tetap akan stok di rumah ya buat jaga-jaga atau lapar tengah malam," tutupnya.