Bank Dunia Prediksi Subsidi PLN-Pertamina Naik Jadi 1,5 Persen PDB

Safyra Primadhyta | CNN Indonesia
Rabu, 22 Jun 2022 17:10 WIB
Bank Dunia (World Bank) memproyeksi subsidi untuk PT PLN (Persero) dan PT Pertamina (Persero) tahun ini naik menjadi 1,5 persen terhadap PDB. Bank Dunia (World Bank) memproyeksi subsidi untuk PT PLN (Persero) dan PT Pertamina (Persero) tahun ini naik menjadi 1,5 persen terhadap PDB. Ilustrasi. (ANTARA FOTO/Zabur Karuru).
Jakarta, CNN Indonesia --

Bank Dunia (World Bank) memproyeksi alokasi subsidi untuk PT PLN (Persero) dan PT Pertamina (Persero) naik menjadi 1,5 persen terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) pada 2022.

Kepala Ekonom Bank Dunia Dunia dan Timor Leste Habib Rab mengatakan subsidi untuk BUMN yang menjual listrik dan BBM tahun lalu hanya 0,7 persen terhadap PDB.

Menurut dia, alokasi subsidi otomatis naik lantaran harga minyak mentah dunia terus meningkat beberapa waktu terakhir. Alhasil, beban biaya operasional PLN dan Pertamina ikut membengkak.


Sementara, pemerintah tak menaikkan tarif listrik kepada pelanggan. Begitu juga dengan Pertamina yang tak mengerek harga BBM cukup lama.

Pertamina baru menaikkan harga BBM jenis Pertamax menjadi paling mahal Rp13 ribu pada 1 April 2022 lalu. Namun, harga BBM penugasan Pertalite masih ditahan di level Rp7.650 per liter.

"Kami memperkirakan subsidi yang dibayarkan kepada BUMN untuk mengkompensasi penjualan listrik dan bahan bakar di bawah harga pasar diproyeksi naik dari 0,7 persen dari PDB pada 2021 menjadi 1,5 persen dari PDB pada 2022," ungkap Rab dalam dalam Indonesia Economic Prospects (IEP) Launch, Rabu (22/6).

Pemerintah akhirnya baru menaikkan tarif listrik mulai 1 Juli 2022 mendatang. Itu pun hanya berlaku bagi kantor pemerintahan, rumah tangga golongan R2 dengan daya 3.500 VA sampai 5.500 VA, dan R3 dengan daya lebih dari 6.600 VA.

Sisanya, rumah tangga golongan R1 dan pelaku usaha industri masih mendapatkan subsidi dari pemerintah. Dengan demikian, alokasi subsidi tetap meningkat dari pemerintah.

"Jadi hampir dua kali lipat subsidi ini akan membantu menjaga inflasi dalam jangka pendek dan membantu mempertahankan permintaan domestik," jelas Rab.

Sebelumnya, Menteri Keuangan Sri Mulyani mengatakan realisasi subsidi energi mencapai Rp21,7 triliun per Februari 2022. Dana ini untuk mensubsidi BBM, LPG, dan listrik.

"Penyaluran subsidi BBM, LPG, dan listrik sebesar Rp21,7 triliun," ujar Sri Mulyani.

Ia menjabarkan pemerintah menyalurkan subsidi BBM Sebanyak 1,39 juta KL pada Februari 2022. Jumlahnya naik dibandingkan dengan periode yang sama tahun lalu, yakni 1,18 juta KL.

Lalu, realisasi subsidi LPG sebesar 632 juta kg per Februari 2022. Angkanya juga naik dari Februari 2022 yang hanya 603 juta kg.

Begitu juga dengan penyaluran subsidi listrik yang mencapai 38,2 juta per Februari 2022. Realisasi tersebut naik dari posisi Februari 2021 yang sebanyak 37,2 juta.

[Gambas:Video CNN]



(aud/sfr)
TOPIK TERKAIT
ARTIKEL TERKAIT
BACA JUGA
Lihat Semua
SAAT INI
BERITA UTAMA
REKOMENDASI
TERBARU
LAINNYA DI DETIKNETWORK
LIVE REPORT
LIHAT SELENGKAPNYA
TERPOPULER