IHSG Bisa Sentuh 7.090, Saham Media TV Boleh Diadu
CNN Indonesia
Senin, 27 Jun 2022 07:13 WIB
Bagikan:
URL berhasil disalin
Analis merekomendasikan saham-saham media televisi, seperti NETV, SCMA, dan MNCN, seiring meningkatnya belanja iklan di media. (ANTARA FOTO/M Risyal Hidayat).
Jakarta, CNN Indonesia --
Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) menguat 44,67 poin atau 0,64 persen ke level 7.042 pada perdagangan akhir pekan lalu. Investor asing mencatat jual bersih (net sell) di seluruh pasar sebesar Rp1,08 triliun.
Dalam sepekan terakhir, indeks saham menguat sebanyak empat kali dan melemah hanya satu kali.
Pelaksana Harian Sekretaris Perusahaan Bursa Efek Indonesia (BEI) Yulianto Aji Sadono menghitung kapitalisasi pasar bursa naik 0,93 persen, yakni dari Rp9.087,685 triliun pada pekan sebelumnya menjadi Rp9.171,842 triliun.
Sementara, rata-rata frekuensi harian bursa merosot 9,01 persen dari 1,38 juta transaksi menjadi 1,25 juta transaksi. Hal yang sama terjadi pada rata-rata volume transaksi harian bursa yang turun 11,92 persen, yaitu dari 28,103 miliar saham menjadi 24,753 miliar saham.
"Rata-rata nilai transaksi harian bursa selama sepekan turut meningkat sebesar 0,55 persen sebesar Rp17,332 triliun dari Rp17,237 triliun pada pekan sebelumnya," tutur Yulianto, seperti dikutip dari situs IDX, Jumat (26/6).
Analis Pasar Modal Lucky Bayu Purnomo memprediksi IHSG akan cenderung menguat seminggu ke depan. Menurutnya, indeks akan bergerak di rentang support 6.985 dan resistance 7.090.
Lucky mengatakan indeks akan diwarnai sentimen positif usai rapat dewan gubernur (RDG) Bank Indonesia (BI) yang masih menahan suku bunga acuan di level 3,5 persen. Menurutnya, keputusan BI tersebut menunjukkan kondisi makro ekonomi dalam negeri masih terkendali.
"Di tengah kenaikan inflasi Amerika yang cukup tinggi, BI masih berupaya untuk melakukan langkah-langkah yang prudent untuk tetap menahan suku bunga di angka 3,5 persen," kata Lucky kepada CNNIndonesia.com.
Sementara secara global, sentimen yang paling berpengaruh pada pergerakan indeks ialah harga minyak dunia yang dalam satu bulan terakhir bertengger pada angka US$110 hingga US$114 per barel.
"Minyak dunia masih menjadi katalis positif karena mencerminkan tingginya likuiditas. Karena tingginya likuiditas tersebut akan memberikan sentimen pada kinerja indeks yang cenderung volatile," ungkap Lucky.
Namun akibat volatilitas tersebut, ia menyarankan investor membeli emiten sektor barang konsumen non-primer, khususnya emiten media televisi.
Menurutnya, emiten televisi menjadi pilihan yang menarik karena banyak perusahaan produsen barang konsumen yang bergerak cepat atawa FMCG yang berbelanja iklan di media menjelang pertengahan tahun.
"Walaupun saat ini hampir seluruh masyarakat menggunakan gawai untuk melihat konten tapi masih ada masyarakat yang menggunakan televisi sebagai referensi dan masih ada perusahaan yang menggunakan televisi untuk obyek promosi," imbuh Lucky.
Untuk pembelian jangka pendek, ada beberapa saham emiten media televisi yang disarankan untuk dikoleksi pekan ini. Pertama, PT Net Visi Media Tbk atau NETV yang naik 1,29 persen ke level 314 pada pekan lalu. Ia memprediksi NETV dapat menyentuh level 350 pekan ini.
Kemudian, ada PT Surya Citra Media Tbk atau SCMA yang ditutup menguat 1,75 persen ke posisi 232. Ia memprediksi SCMA akan menyentuh 300 pekan ini.
Adapula PT Media Nusantara Citra Tbk atau MNCN yang meningkat 0,51 persen ke posisi 990. Lucky memprediksi saham emiten ini dapat menyentuh posisi 1.080.
Selain merekomendasikan saham emiten media televisi, ia juga menilai beralihnya sejumlah negara Eropa ke batu bara menjadi pemanis bagi emiten-emiten pertambangan, utamanya batu bara, emas dan nikel.
"Itu angin segar yang bukan hanya bagus bagi (emiten) batu bara, tetapi juga untuk tambang emas, nikel, jadi yang dapat sentimen positif," jelasnya.
Oleh karena itu, ia memilih beberapa saham sektor pertambangan untuk investasi jangka panjang dari sektor pertambangan, yaitu MDKA, PTBA, ANTM, dan TINS.
Sementara itu, Pengamat Pasar Modal Riska Afriani memproyeksikan selama sepekan ke depan, IHSG bergerak di rentang support 5.891 dan resistance 7.110.
Menurut Riska, sentimen global yang akan mempengaruhi pergerakan indeks adalah kekhawatiran investor akan kemungkinan bank sentral AS alias the Fed menaikkan suku bunga dengan lebih agresif.
"Kenaikan suku bunga The Fed diperkirakan memperlambat pertumbuhan ekonomi global, sehingga baik secara langsung maupun tidak langsung akan berpengaruh terhadap IHSG," ujarnya.
Kemudian, harga komoditas, seperti emas, minyak, gas, CPO, termasuk gandum akan menyita perhatian pelaku pasar seiring dengan konflik antara Rusia dan Ukraina yang mempengaruhi permintaan global dan ketidakpastian pasokan.
"Konflik kedua negara tersebut turut memperparah kondisi beberapa negara yang belum sepenuhnya pulih dari tekanan akibat pandemi covid-19," kata Riska.
Terkait sentimen dalam negeri, ia menilai mobilitas masyarakat yang sudah kembali membaik dan kondisi domestik yang kuat didukung oleh neraca perdagangan positif membuat Indonesia lebih mampu menghadapi risiko eksternal.
Bila dikombinasikan dengan keputusan BI untuk mempertahankan suku bunga acuan, ia memprediksi akan menjadi sentimen positif untuk IHSG, terutama bagi perusahaan yang bergerak di sektor keuangan, konsumer primer dan otomotif, dan properti.
"Keputusan BI untuk mempertahankan suku bunga acuan diharapkan bisa menjaga momentum pertumbuhan ekonomi Indonesia, sehingga membuat IHSG tetap kuat ditengah ketegangan geopolitik dan potensi kenaikan suku bunga The Fed kembali," ungkap Riska.
Dalam keadaan seperti itu, ia mengatakan investor berpeluang melakukan akumulasi beli saham. Ia menyarankan investor agar memperhatikan pertumbuhan laba bersih, rasio pembagian dividen dan proyeksi pertumbuhan perusahaan di masa yang akan datang
Sejumlah saham yang direkomendasikan untuk dikoleksi, yakni PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk atau BBRI yang ditutup menguat 0,70 persen ke posisi 4.340 pada pekan lalu.
Kemudian, PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk tau BBNI, meskipun ditutup stagnan pada posisi 8.150 di pekan sebelumnya.
Lalu, ia juga merekomendasikan emiten sektor otomotif Astra Otoparts Tbk atau AUTO yang ditutup stagnan di posisi 1.185 dan emiten sektor properti PT Pakuwon Jati Tbk atau PWON yang ditutup melemah 0,40 persen ke posisi 496.
Untuk sektor barang konsumer primer, Riska merekomendasikan PT Indofood Sukses Makmur Tbk atau INDF yang ditutup melemah 0,70 persen ke posisi 7.075.
Terakhir, PT Unilever Indonesia Tbk atau UNVR yang ditutup menguat 0,60 persen ke posisi 4.990.
Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) menguat 44,67 poin atau 0,64 persen ke level 7.042 pada perdagangan akhir pekan lalu. Investor asing mencatat jual bersih (net sell) di seluruh pasar sebesar Rp1,08 triliun.
Dalam sepekan terakhir, indeks saham menguat sebanyak empat kali dan melemah hanya satu kali.
Pelaksana Harian Sekretaris Perusahaan Bursa Efek Indonesia (BEI) Yulianto Aji Sadono menghitung kapitalisasi pasar bursa naik 0,93 persen, yakni dari Rp9.087,685 triliun pada pekan sebelumnya menjadi Rp9.171,842 triliun.
Sementara, rata-rata frekuensi harian bursa merosot 9,01 persen dari 1,38 juta transaksi menjadi 1,25 juta transaksi. Hal yang sama terjadi pada rata-rata volume transaksi harian bursa yang turun 11,92 persen, yaitu dari 28,103 miliar saham menjadi 24,753 miliar saham.
"Rata-rata nilai transaksi harian bursa selama sepekan turut meningkat sebesar 0,55 persen sebesar Rp17,332 triliun dari Rp17,237 triliun pada pekan sebelumnya," tutur Yulianto, seperti dikutip dari situs IDX, Jumat (26/6).
Analis Pasar Modal Lucky Bayu Purnomo memprediksi IHSG akan cenderung menguat seminggu ke depan. Menurutnya, indeks akan bergerak di rentang support 6.985 dan resistance 7.090.
Lucky mengatakan indeks akan diwarnai sentimen positif usai rapat dewan gubernur (RDG) Bank Indonesia (BI) yang masih menahan suku bunga acuan di level 3,5 persen. Menurutnya, keputusan BI tersebut menunjukkan kondisi makro ekonomi dalam negeri masih terkendali.
"Di tengah kenaikan inflasi Amerika yang cukup tinggi, BI masih berupaya untuk melakukan langkah-langkah yang prudent untuk tetap menahan suku bunga di angka 3,5 persen," kata Lucky kepada CNNIndonesia.com.
Sementara secara global, sentimen yang paling berpengaruh pada pergerakan indeks ialah harga minyak dunia yang dalam satu bulan terakhir bertengger pada angka US$110 hingga US$114 per barel.
"Minyak dunia masih menjadi katalis positif karena mencerminkan tingginya likuiditas. Karena tingginya likuiditas tersebut akan memberikan sentimen pada kinerja indeks yang cenderung volatile," ungkap Lucky.
Namun akibat volatilitas tersebut, ia menyarankan investor membeli emiten sektor barang konsumen non-primer, khususnya emiten media televisi.
Menurutnya, emiten televisi menjadi pilihan yang menarik karena banyak perusahaan produsen barang konsumen yang bergerak cepat atawa FMCG yang berbelanja iklan di media menjelang pertengahan tahun.
"Walaupun saat ini hampir seluruh masyarakat menggunakan gawai untuk melihat konten tapi masih ada masyarakat yang menggunakan televisi sebagai referensi dan masih ada perusahaan yang menggunakan televisi untuk obyek promosi," imbuh Lucky.
Untuk pembelian jangka pendek, ada beberapa saham emiten media televisi yang disarankan untuk dikoleksi pekan ini. Pertama, PT Net Visi Media Tbk atau NETV yang naik 1,29 persen ke level 314 pada pekan lalu. Ia memprediksi NETV dapat menyentuh level 350 pekan ini.
Kemudian, ada PT Surya Citra Media Tbk atau SCMA yang ditutup menguat 1,75 persen ke posisi 232. Ia memprediksi SCMA akan menyentuh 300 pekan ini.
Adapula PT Media Nusantara Citra Tbk atau MNCN yang meningkat 0,51 persen ke posisi 990. Lucky memprediksi saham emiten ini dapat menyentuh posisi 1.080.
Selain merekomendasikan saham emiten media televisi, ia juga menilai beralihnya sejumlah negara Eropa ke batu bara menjadi pemanis bagi emiten-emiten pertambangan, utamanya batu bara, emas dan nikel.
"Itu angin segar yang bukan hanya bagus bagi (emiten) batu bara, tetapi juga untuk tambang emas, nikel, jadi yang dapat sentimen positif," jelasnya.
Oleh karena itu, ia memilih beberapa saham sektor pertambangan untuk investasi jangka panjang dari sektor pertambangan, yaitu MDKA, PTBA, ANTM, dan TINS.
Emiten Bank hingga Otomotif
Analis merekomendasikan saham-saham media televisi, seperti NETV, SCMA, dan MNCN, seiring meningkatnya belanja iklan di media. (CNN Indonesia/Andry Novelino).
Sementara itu, Pengamat Pasar Modal Riska Afriani memproyeksikan selama sepekan ke depan, IHSG bergerak di rentang support 5.891 dan resistance 7.110.
Menurut Riska, sentimen global yang akan mempengaruhi pergerakan indeks adalah kekhawatiran investor akan kemungkinan bank sentral AS alias the Fed menaikkan suku bunga dengan lebih agresif.
"Kenaikan suku bunga The Fed diperkirakan memperlambat pertumbuhan ekonomi global, sehingga baik secara langsung maupun tidak langsung akan berpengaruh terhadap IHSG," ujarnya.
Kemudian, harga komoditas, seperti emas, minyak, gas, CPO, termasuk gandum akan menyita perhatian pelaku pasar seiring dengan konflik antara Rusia dan Ukraina yang mempengaruhi permintaan global dan ketidakpastian pasokan.
"Konflik kedua negara tersebut turut memperparah kondisi beberapa negara yang belum sepenuhnya pulih dari tekanan akibat pandemi covid-19," kata Riska.
Terkait sentimen dalam negeri, ia menilai mobilitas masyarakat yang sudah kembali membaik dan kondisi domestik yang kuat didukung oleh neraca perdagangan positif membuat Indonesia lebih mampu menghadapi risiko eksternal.
Bila dikombinasikan dengan keputusan BI untuk mempertahankan suku bunga acuan, ia memprediksi akan menjadi sentimen positif untuk IHSG, terutama bagi perusahaan yang bergerak di sektor keuangan, konsumer primer dan otomotif, dan properti.
"Keputusan BI untuk mempertahankan suku bunga acuan diharapkan bisa menjaga momentum pertumbuhan ekonomi Indonesia, sehingga membuat IHSG tetap kuat ditengah ketegangan geopolitik dan potensi kenaikan suku bunga The Fed kembali," ungkap Riska.
Dalam keadaan seperti itu, ia mengatakan investor berpeluang melakukan akumulasi beli saham. Ia menyarankan investor agar memperhatikan pertumbuhan laba bersih, rasio pembagian dividen dan proyeksi pertumbuhan perusahaan di masa yang akan datang
Sejumlah saham yang direkomendasikan untuk dikoleksi, yakni PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk atau BBRI yang ditutup menguat 0,70 persen ke posisi 4.340 pada pekan lalu.
Kemudian, PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk tau BBNI, meskipun ditutup stagnan pada posisi 8.150 di pekan sebelumnya.
Lalu, ia juga merekomendasikan emiten sektor otomotif Astra Otoparts Tbk atau AUTO yang ditutup stagnan di posisi 1.185 dan emiten sektor properti PT Pakuwon Jati Tbk atau PWON yang ditutup melemah 0,40 persen ke posisi 496.
Untuk sektor barang konsumer primer, Riska merekomendasikan PT Indofood Sukses Makmur Tbk atau INDF yang ditutup melemah 0,70 persen ke posisi 7.075.
Terakhir, PT Unilever Indonesia Tbk atau UNVR yang ditutup menguat 0,60 persen ke posisi 4.990.