3 Tantangan Ekonomi RI di 2023 Versi Sri Mulyani

tim | CNN Indonesia
Jumat, 02 Des 2022 20:58 WIB
Menkeu Sri Mulyani menyebut ada 3 tantangan ekonomi yang harus diwaspadai pemerintah pada 2023 mendatang; kenaikan suku bunga, inflasi dan pelemahan ekspor. Menkeu Sri Mulyani menyebut ada 3 tantangan ekonomi yang harus diwaspadai pemerintah pada 2023 mendatang; kenaikan suku bunga, inflasi dan pelemahan ekspor. (CNN Indonesia/ Bisma Septalisma).
Jakarta, CNN Indonesia --

Menteri Keuangan Sri Mulyani mengungkapkan tiga tantangan ekonomi Indonesia pada tahun depan yang betul-betul harus dimitigasi.

Pertama, adalah suku bunga yang tinggi. Menurutnya, hingga tahun depan bank sentral negara utama bakal masih menaikkan suku bunga untuk menahan laju inflasi. Salah satunya The Fed yang bakal berimbas pada penguatan dolar AS dan imbal hasil obligasi pemerintahnya.

Kondisi ini akan memberikan dampak pada keluarnya dana asing atau outflow dari Indonesia. Sebab, investor akan memilih untuk menaruh dananya di negara yang memiliki bunga tinggi.

"Kalau interest rate high terjadi, maka akan ada capital outflow. Ini yang sekarang kita rasakan, SBN kita dalam hal ini termasuk kena capital outflow non residence. Jadi pemegang SBN asing keluar dari Indonesia atau melepas SBN kita, artinya yield SBN kita akan naik," ujarnya dalam CEO Forum, Jumat (2/12).

Kedua, inflasi karena kenaikan harga energi yang bakal berdampak pada daya beli masyarakat. Pasalnya, harga minyak masih dibayangi ketidakpastian di tengah kondisi perang Rusia-Ukraina yang tak kunjung usai, pertemuan OPEC, dan rencana negara G7 menetapkan harga minyak.

Daya beli ini adalah risiko yang harus tetap dijaga pemerintah agar perekonomian tetap tangguh. Apalagi, konsumsi masyarakat menjadi motor penggerak utama perekonomian Indonesia.

Artinya, konsumsi harus tetap bisa tumbuh di atas 5 persen agar perekonomian terealisasi tinggi seperti sekarang.

"Daya beli konsumsi kita harus terus dijaga, makanya perhatian bapak presiden detail mengenai inflasi ini. Terus menegur, diingatkan semua kepala daerah dan kita semua," imbuhnya.

Ketiga, pelemahan ekonomi global ke kinerja ekspor. Jika perekonomian negara mitra dagang melemah, maka ekspor Indonesia akan turun dan tak bisa lagi setinggi saat ini. Di sinilah kebijakan pemerintah harus betul-betul tepat.

"Tahun ini ekspor tinggi karena dua hal volume, itu kan sebagian karena permintaan tinggi dari RRT, AS, Eropa, Jepang untuk CPO kita. Kalau dunia temaram pasti permintaan ekspor turun, komoditas tak setinggi itu. Ini menjadi faktor ketiga dalam outlook growth kita tahun depan yang harus terus dimonitor," pungkasnya.

[Gambas:Video CNN]

Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto mengatakan ekonomi dunia memang masih belum terang dan penuh badai. Menurutnya, hal ini tercermin dari masih banyaknya negara mengalami lonjakan inflasi dan perekonomian yang melambat. Bahkan, tahun depan banyak yang bakal masuk ke jurang resesi.

"Beberapa yang menjadi perhatian pemerintah, terkait dengan global, memang globalnya belum terang, ini masih penuh badai," ujarnya dalam CEO Forum di Istana Negara, Jumat (2/12).

Menurutnya, meski perekonomian Indonesia saat ini tanggung dan mampu tumbuh di atas 5 persen, jika perekonomian global masih dibayangi awan gelap akan tetap terdampak.

Karenanya, koordinasi dengan berbagai pihak harus dilakukan, terutama kebijakan moneter Bank Indonesia, dan sektor riil melalui kebijakan di Otoritas Jasa Keuangan. Bila ketiganya bisa berjalan dengan serentak, maka ekonomi akan tetap tangguh.

"Sebetulnya mengorkestrasi ekonomi Indonesia adalah stabilisasi fiskal, moneter dan sektor riil. Kalau tiga itu bisa semua dalam harmoni, ekonomi kita akan tahan," jelasnya.

Selain itu, hal lain yang harus menjadi perhatian pemerintah adalah perkembangan covid-19, tak hanya di Indonesia tapi juga di negara mitra dagang. Misalnya, di China, jika kebijakan zero covidnya diterapkan, maka akan berdampak ke perekonomian dalam negeri melalui sisi ekspor.

"Kita lihat contohnya China menerapkan lockdown sampai pelabuhan, terjadilah disruption supply chain. Jika ini terjadi akan berdampak ke Indonesia, karena negara tujuan ekspor kita salah satu utama ke China, maka ini akan terganggu juga," jelasnya.

Sebelumnya, Menteri Keuangan Sri Mulyani memang mengungkapkan menjaga kinerja ekspor menjadi sangat penting. Sebab, di situasi saat ini, ekspor menjadi salah satu andalan untuk mendorong perekonomian yang tinggi.

"Kalau dunia temaram pasti permintaan ekspor turun. Ini adalah hal yang harus kita jaga betul-betul," pungkasnya.

(ldy/agt)


[Gambas:Video CNN]
SAAT INI
BERITA UTAMA
REKOMENDASI
TERBARU
LAINNYA DI DETIKNETWORK
LIVE REPORT
LIHAT SELENGKAPNYA

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

TERPOPULER