Jepang dan Inggris Resesi, Bagaimana Indonesia Tangkis Efeknya?
CNN Indonesia
Selasa, 20 Feb 2024 10:24 WIB
Bagikan:
URL berhasil disalin
Sejumlah analis membagikan strategi agar Indonesia bisa meredam dampak negatif dari Jepang dan Inggris yang resmi jatuh ke jurang resesi ekonomi. Ilustrasi. (iStockphoto/blinow61).
Jakarta, CNN Indonesia --
Jepang dan Inggris resmi jatuh ke jurang resesi ekonomi. Bahkan, Jepang sampai kehilangan posisinya sebagai negara dengan perekonomian terbesar ketiga di dunia dan disalip Jerman.
Pertumbuhan ekonomi Negeri Sakura negatif dalam dua kuartal berturut-turut, yakni minus 3,3 persen secara tahunan (year on year/yoy) pada kuartal III 2023 dan turun 0,4 persen yoy di kuartal berikutnya. Ini merupakan indikator perekonomian suatu negara berada dalam resesi teknis.
Tak jauh beda, ekonomi Inggris juga memble dalam dua kuartal beruntun. Pada kuartal III 2023 perekonomian Inggris terkontraksi 0,1 persen dan berlanjut di kuartal IV 2023 yang minus 0,3 persen.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Senior Quantitative Analyst BSI Institute Kurniawati Yuli Ashari mewanti-wanti dampak buruk pelemahan ekonomi dua negara maju tersebut. Ia secara spesifik menyoroti Jepang yang merupakan salah satu mitra dagang terbesar Indonesia.
"Terkait dengan pelemahan perekonomian Jepang, kami memandang dampak ke Indonesia yang cukup langsung dapat terlihat dari jalur perdagangan dan investasi, mengingat Jepang adalah salah satu partner dagang terbesar Indonesia, selain Tiongkok dan AS," ucapnya kepada CNNIndonesia.com, Selasa (20/2).
Wanita yang akrab disapa Nia itu juga menyinggung soal foreign direct investment (FDI). Ia mengatakan investasi asing langsung dari Jepang ke Indonesia cukup besar, setelah Singapura dan Hong Kong.
Kondisi yang tak baik-baik saja di Jepang dipastikan bakal memberi dampak negatif ke perekonomian tanah air.
"Pelemahan perekonomian Jepang berpotensi memberi spillover negatif bagi perekonomian domestik, terutama dari kinerja ekspor," wanti-wanti Nia.
"Ini sejalan dengan permintaannya (dari Jepang) yang berpotensi turun dan juga dari sisi pengembangan struktur perekonomian kita karena terkait dengan sumber investasi," tambahnya.
Untuk memitigasi hal tersebut, Nia menyarankan pemerintah harus mengambil jalan diversifikasi. Ini bisa ditempuh dengan mencari opsi negara tujuan ekspor baru hingga sasaran investor anyar.
Sementara itu, Ekonom Center of Reform on Economics (Core) Indonesia Yusuf Rendy Manilet mengatakan Indonesia punya share yang relatif kecil terhadap perekonomian global. Meski ada dampak ke tanah air, resesi Jepang dan Inggris tidak akan signifikan.
Meski begitu, Yusuf menyebut Indonesia tetap harus menyimpan perhatian besar terhadap kondisi di dua negara maju ini. Utamanya, kepada Jepang yang merupakan mitra dagang utama Indonesia.
Ia juga mewanti-wanti dampak tidak langsung yang terjadi dari pelemahan ekonomi Jepang. Yusuf mengatakan ada potensi rambatan pelemahan ekonomi imbas Jepang dan AS yang berhubungan kental dalam perdagangan internasional.
Jika ekspor AS ke Jepang menurun, kinerja ekonomi Negeri Paman Sam itu juga akan merosot.
"Amerika Serikat merupakan salah satu negara penyumbang utama ekonomi global sehingga melemahnya ekonomi AS juga akan ikut melemahkan ekonomi negara-negara berkembang, seperti Indonesia," ucap Yusuf.
"Selain dampak melalui perdagangan internasional, saya kira dampak juga bisa diberikan kepada pasar keuangan melalui sentimen di pasar keuangan. Meskipun demikian, menurut saya sentimen di pasar keuangan sifatnya sementara dan dalam jangka pendek. Tetapi, tentu juga menjadi hal yang perlu diantisipasi di tengah upaya untuk menjaga stabilitas pasar keuangan di Indonesia yang ada kaitannya dengan menjaga stabilitas nilai tukar rupiah," tambahnya.
Untuk itu, Yusuf meminta Komite Stabilitas Sistem Keuangan (KSSK) untuk guyub dan melihat lebih dalam dampak resesi Jepang dan Inggris terhadap sektor keuangan, terutama untuk jangka pendek dan menengah.
Ia juga meminta Bank Indonesia (BI) dan Kementerian Keuangan melihat perlukah adanya penyesuaian suku bunga acuan atau kebijakan moneter lain. Selain itu, Yusuf menyinggung soal pemberian insentif tertentu dari pemerintah maupun kebijakan fiskal lain.
Bersambung ke halaman berikutnya...
Mitigasi Pemerintah Indonesia
Sekretaris Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian Susiwijono Moegiarso menyebut negara terus memperhatikan dampak transmisi perlambatan ekonomi global terhadap perekonomian nasional. Susi mengatakan pelemahan di Jepang menjadi salah satu yang dipelototi.
Ia mengatakan Indonesia punya hubungan kerja sama yang baik dengan Jepang, termasuk dalam aspek investasi dan ekspor impor. Susi menyebut Jepang adalah salah satu tujuan utama ekspor bagi Indonesia untuk komoditas batu bara, komponen elektronik, nikel, dan otomotif.
Kemenko Perekonomian mencatat ekspor Indonesia ke Jepang sepanjang 2023 berada pada peringkat keempat dengan total mencapai US$18,8 miliar. FDI Jepang ke Indonesia pada tahun lalu juga berada pada peringkat keempat sebanyak US$4,63 miliar.
"Meski hingga saat ini perekonomian nasional masih menunjukkan resiliensi dengan capaian pertumbuhan yang solid ditopang oleh permintaan domestik yang terus tumbuh dan dijaga dengan inflasi yang terkendali, pemerintah tetap mengambil sejumlah langkah antisipatif terhadap risiko ekonomi global tersebut untuk menjaga perekonomian Indonesia tetap stabil," ucap Susi dalam keterangan resmi, Sabtu (17/2).
Salah satu mitigasinya adalah pembentukan Satuan Tugas (Satgas) Peningkatan Ekspor Nasional.
Menko Perekonomian Airlangga Hartarto bertindak sebagai ketua tim pengarah satgas dan anggotanya adalah para menteri terkait serta pelaku usaha.
Satgas Peningkatan Ekspor Nasional ini sudah menentukan 12 negara prioritas tujuan ekspor Indonesia, yakni Arab Saudi, Belanda, Brasil, Chile, China, Filipina, India, Kenya, Korea Selatan, Meksiko, Uni Emirat Arab (UEA), dan Vietnam.
"Adapun produk ekspor prioritas yang ditetapkan, mulai dari ikan dan olahan ikan, sarang burung walet, kelapa dan kelapa olahan, kopi dan rempah olahan, bahan nabati dan margarin, kakao, makanan olahan, bungkil dan pakan ternak, semen, produk kimia, karet dan produk dari karet, kulit dan produk dari kulit, pulp dan kertas, tekstil dan produk tekstil (TPT) dan alas kaki, logam mulia dan perhiasan, mesin-mesin, elektronik, otomotif, furnitur, serta mainan," tutup Susi.
Jepang dan Inggris resmi jatuh ke jurang resesi ekonomi. Bahkan, Jepang sampai kehilangan posisinya sebagai negara dengan perekonomian terbesar ketiga di dunia dan disalip Jerman.
Pertumbuhan ekonomi Negeri Sakura negatif dalam dua kuartal berturut-turut, yakni minus 3,3 persen secara tahunan (year on year/yoy) pada kuartal III 2023 dan turun 0,4 persen yoy di kuartal berikutnya. Ini merupakan indikator perekonomian suatu negara berada dalam resesi teknis.
Tak jauh beda, ekonomi Inggris juga memble dalam dua kuartal beruntun. Pada kuartal III 2023 perekonomian Inggris terkontraksi 0,1 persen dan berlanjut di kuartal IV 2023 yang minus 0,3 persen.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Senior Quantitative Analyst BSI Institute Kurniawati Yuli Ashari mewanti-wanti dampak buruk pelemahan ekonomi dua negara maju tersebut. Ia secara spesifik menyoroti Jepang yang merupakan salah satu mitra dagang terbesar Indonesia.
"Terkait dengan pelemahan perekonomian Jepang, kami memandang dampak ke Indonesia yang cukup langsung dapat terlihat dari jalur perdagangan dan investasi, mengingat Jepang adalah salah satu partner dagang terbesar Indonesia, selain Tiongkok dan AS," ucapnya kepada CNNIndonesia.com, Selasa (20/2).
Wanita yang akrab disapa Nia itu juga menyinggung soal foreign direct investment (FDI). Ia mengatakan investasi asing langsung dari Jepang ke Indonesia cukup besar, setelah Singapura dan Hong Kong.
Kondisi yang tak baik-baik saja di Jepang dipastikan bakal memberi dampak negatif ke perekonomian tanah air.
"Pelemahan perekonomian Jepang berpotensi memberi spillover negatif bagi perekonomian domestik, terutama dari kinerja ekspor," wanti-wanti Nia.
"Ini sejalan dengan permintaannya (dari Jepang) yang berpotensi turun dan juga dari sisi pengembangan struktur perekonomian kita karena terkait dengan sumber investasi," tambahnya.
Untuk memitigasi hal tersebut, Nia menyarankan pemerintah harus mengambil jalan diversifikasi. Ini bisa ditempuh dengan mencari opsi negara tujuan ekspor baru hingga sasaran investor anyar.
Sementara itu, Ekonom Center of Reform on Economics (Core) Indonesia Yusuf Rendy Manilet mengatakan Indonesia punya share yang relatif kecil terhadap perekonomian global. Meski ada dampak ke tanah air, resesi Jepang dan Inggris tidak akan signifikan.
Meski begitu, Yusuf menyebut Indonesia tetap harus menyimpan perhatian besar terhadap kondisi di dua negara maju ini. Utamanya, kepada Jepang yang merupakan mitra dagang utama Indonesia.
Ia juga mewanti-wanti dampak tidak langsung yang terjadi dari pelemahan ekonomi Jepang. Yusuf mengatakan ada potensi rambatan pelemahan ekonomi imbas Jepang dan AS yang berhubungan kental dalam perdagangan internasional.
Jika ekspor AS ke Jepang menurun, kinerja ekonomi Negeri Paman Sam itu juga akan merosot.
"Amerika Serikat merupakan salah satu negara penyumbang utama ekonomi global sehingga melemahnya ekonomi AS juga akan ikut melemahkan ekonomi negara-negara berkembang, seperti Indonesia," ucap Yusuf.
"Selain dampak melalui perdagangan internasional, saya kira dampak juga bisa diberikan kepada pasar keuangan melalui sentimen di pasar keuangan. Meskipun demikian, menurut saya sentimen di pasar keuangan sifatnya sementara dan dalam jangka pendek. Tetapi, tentu juga menjadi hal yang perlu diantisipasi di tengah upaya untuk menjaga stabilitas pasar keuangan di Indonesia yang ada kaitannya dengan menjaga stabilitas nilai tukar rupiah," tambahnya.
Untuk itu, Yusuf meminta Komite Stabilitas Sistem Keuangan (KSSK) untuk guyub dan melihat lebih dalam dampak resesi Jepang dan Inggris terhadap sektor keuangan, terutama untuk jangka pendek dan menengah.
Ia juga meminta Bank Indonesia (BI) dan Kementerian Keuangan melihat perlukah adanya penyesuaian suku bunga acuan atau kebijakan moneter lain. Selain itu, Yusuf menyinggung soal pemberian insentif tertentu dari pemerintah maupun kebijakan fiskal lain.
Bersambung ke halaman berikutnya...
Mitigasi Pemerintah Indonesia
Sejumlah analis membagikan strategi agar Indonesia bisa meredam dampak negatif dari Jepang dan Inggris yang resmi jatuh ke jurang resesi ekonomi. Ilustrasi. (REUTERS/TOBY MELVILLE).
Mitigasi Pemerintah Indonesia
Sekretaris Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian Susiwijono Moegiarso menyebut negara terus memperhatikan dampak transmisi perlambatan ekonomi global terhadap perekonomian nasional. Susi mengatakan pelemahan di Jepang menjadi salah satu yang dipelototi.
Ia mengatakan Indonesia punya hubungan kerja sama yang baik dengan Jepang, termasuk dalam aspek investasi dan ekspor impor. Susi menyebut Jepang adalah salah satu tujuan utama ekspor bagi Indonesia untuk komoditas batu bara, komponen elektronik, nikel, dan otomotif.
Kemenko Perekonomian mencatat ekspor Indonesia ke Jepang sepanjang 2023 berada pada peringkat keempat dengan total mencapai US$18,8 miliar. FDI Jepang ke Indonesia pada tahun lalu juga berada pada peringkat keempat sebanyak US$4,63 miliar.
"Meski hingga saat ini perekonomian nasional masih menunjukkan resiliensi dengan capaian pertumbuhan yang solid ditopang oleh permintaan domestik yang terus tumbuh dan dijaga dengan inflasi yang terkendali, pemerintah tetap mengambil sejumlah langkah antisipatif terhadap risiko ekonomi global tersebut untuk menjaga perekonomian Indonesia tetap stabil," ucap Susi dalam keterangan resmi, Sabtu (17/2).
Salah satu mitigasinya adalah pembentukan Satuan Tugas (Satgas) Peningkatan Ekspor Nasional.
Menko Perekonomian Airlangga Hartarto bertindak sebagai ketua tim pengarah satgas dan anggotanya adalah para menteri terkait serta pelaku usaha.
Satgas Peningkatan Ekspor Nasional ini sudah menentukan 12 negara prioritas tujuan ekspor Indonesia, yakni Arab Saudi, Belanda, Brasil, Chile, China, Filipina, India, Kenya, Korea Selatan, Meksiko, Uni Emirat Arab (UEA), dan Vietnam.
"Adapun produk ekspor prioritas yang ditetapkan, mulai dari ikan dan olahan ikan, sarang burung walet, kelapa dan kelapa olahan, kopi dan rempah olahan, bahan nabati dan margarin, kakao, makanan olahan, bungkil dan pakan ternak, semen, produk kimia, karet dan produk dari karet, kulit dan produk dari kulit, pulp dan kertas, tekstil dan produk tekstil (TPT) dan alas kaki, logam mulia dan perhiasan, mesin-mesin, elektronik, otomotif, furnitur, serta mainan," tutup Susi.