Profil dan Kinerja Keuangan VISI yang Bakal Dicaplok Nagita Slavina

CNN Indonesia
Kamis, 12 Feb 2026 19:51 WIB
Nagita Slavina dikabarkan bakal memborong saham PT Satu Visi Putra Tbk (VISI) dan menjadi pemegang saham pengendali emiten sektor industri tersebut. (FOTO:CNN Indonesia/Agniya Khoiri).
Jakarta, CNN Indonesia --

Selebriti Nagita Slavina dikabarkan bakal memborong saham PT Satu Visi Putra Tbk (VISI) dan menjadi pemegang saham pengendali emiten sektor industri tersebut.

Melansir Keterbukaan Informasi Bursa Efek Indonesia (BEI) pada Kamis (12/2), Nagita disebut masih dalam proses negosiasi sebagai pengendali baru emiten di bidang percetakan banner, display, tinta, dan PVC Board.

Negosiasi tersebut dilakukan bersama pemegang saham penjual terhadap rencana pengambilalihan saham VISI.

"Pada 11 Februari 2026, Perseroan telah menerima surat pemberitahuan atas pengumuman negosiasi yang dilakukan oleh Nagita Slavina, selaku Calon Pengendali Baru," ungkap Direktur Utama VISI dalam Keterbukaan Informasi, Kamis (12/2).

Sejak kabar tersebut beredar, banyak yang mulai mencari profil dan kinerja dari perusahaan percetakan tersebut. Berikut CNNIndonesia.com rangkum profil dan kinerja perusahaan Satu Visi Putra yang bakal dicaplok istri Raffi Ahmad.

Profil VISI

Berdiri di Surabaya pada 2007, VISI merupakan perusahaan distribusi flex banner terkemuka di Indonesia. Perusahaan bertransformasi dengan nama Satu Visi Putra pada 2018 dan memperkuat komitmen untuk memenuhi kebutuhan pasar media visual yang terus berkembang.

Selama perjalanannya, perusahaan beberapa kali mendaftarkan merek dagang seperti MagiSign, AIFlex hingga ProFlex. Pada 2021 perusahaan juga membeli lima gudang dan 10 truk untuk mendukung operasional.

Satu Visi Putra memutuskan melangkah ke Bursa Efek Indonesia (BEI) pada 27 Februari 2024 dengan kode emiten VISI. Dibanderol Rp120 per saham, perusahaan berencana melepas 3,075 miliar lembar saham dengan target penerimaan Rp369 miliar.

Hasilnya, dari aksi korporasi tersebut perusahaan meraup dana sekitar Rp71,14 miliar.

Melansir laman BEI, sebanyak 2,2 miliar lembar saham atau setara 71,54 persen saham VISI dikuasai David Dwiputra selaku Direktur Utama dan pemegang saham pengendali. Ada juga Farrel Yonathan selaku Direktur VISI yang menguasai 6,51 persen atau 200 juta lembar saham, serta Komisaris perusahaan yakni Robert Putra Sampurna yang memiliki 1,95 persen atau 60 juta lembar saham.

Berdasarkan laporan realisasi penggunaan dana hasil penawaran umum per 31 Desember 2025, sebanyak Rp68,30 miliar digunakan untuk modal kerja dan pembayaran ke supplier. Selanjutnya, Rp1,83 miliar digunakan untuk pembelian armada truk untuk operasional perusahaan. Sisanya Rp1 miliar untuk pembelian armada truk untuk operasional perusahaan pada kuartal kedua.

Sebagai informasi, saat ini VISI masuk ke dalam papan pemantauan khusus atau Full Call Auction (FCA). Saham VISI pun bergerak lemah sampai auto reject bawah (ARB) hingga 9,89 persen di harga Rp820 per lembar.

VISI masuk ke dalam papan pemantauan FCA karena adanya penghentian sementara perdagangan Efek selama lebih dari satu hari bursa. Perdagangan VISI dihentikan sementara sebanyak dua kali sepanjang 2026, yakni pada 21 dan 23 Januari 2026 karena kenaikan harga secara kumulatif yang signifikan.

Kinerja Keuangan

Salah satu penyebab saham VISI masuk ARB lantaran volatilitas transaksi efek yang mencurigakan. Dalam hal ini, BEI menilai total aset perusahaan meningkat 0,54 persen atau Rp1,56 miliar pada 30 September 2025, dibandingkan 31 Desember 2024.

Kondisi tersebut dijelaskan emiten karena adanya kenaikan saldo kas bank, saldo persediaan, hingga akun aset lainnya yang mengalami kenaikan terkait progres pembangunan gudang baru di daerah Gresik.

Bursa juga mencurigai total liabilitas perusahaan yang meningkat 2,06 persen atau sekitar 2,18 miliar akhir September 2025. Hal itu dijelaskan VISI karena kenaikan saldo utang bank, naiknya saldo utang pajak, penurunan utang dagang, hingga penurunan utang lainnya.

VISI juga mencatatkan adanya penurunan pendapatan Rp70,25 miliar atau -21,95 persen akibat penurunan penjualan produk banner, tinta, hingga display per September 2025 dibandingkan September 2024. Sementara PVC Board masih mencatatkan kenaikan Rp1,34 miliar saja.

Penurunan penjualan juga terjadi di beberapa area seperti Jawa Timur, Jakarta, Jawa Barat, Yogyakarta, hingga area luar pulau Jawa.

"Hanya area Jawa Tengah yang mengalami peningkatan, karena perusahaan berupaya meningkatkan market share di area baru agar memiliki competitive value," tulis laporan perusahaan, Senin (2/2).

(ins/sfr)
KOMENTAR

ARTIKEL TERKAIT
TOPIK TERKAIT
TERPOPULER
LAINNYA DARI DETIKNETWORK