Jibaku Bertahan di Blok M, dari Pijat Refleksi hingga Lapak Aksesori

Endrapta Ibrahim Pramudhiaz | CNN Indonesia
Jumat, 29 Mei 2026 12:30 WIB
Jibaku Bertahan di Blok M, dari Pijat Refleksi hingga Lapak Aksesori
Blok M menjadi tempat mencari penghidupan yang tak lekang oleh waktu. Ilustrasi. (CNN Indonesia/Endrapta Ibrahim).
Jakarta, CNN Indonesia --

Tangan Rohman terus bergerak menekan titik demi titik. Kedua telapak tangannya meremas kuat, seolah tak memberi ruang bagi pegal untuk bertahan lebih lama di Blok M.

Krim pijat berwarna putih yang melapisi telapak tangannya membuat gerakannya semakin luwes. Jari-jarinya seakan hafal betul jalur yang harus ditelusuri.

Di bawah cahaya lampu area bawah tanah Mal Blok M, yang kini berganti wajah menjadi Blok M Hub, Rohman menunjukkan kepiawaiannya.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Jika kemampuan memijat bisa diukur lewat penghargaan dunia film, barangkali koleksi piala Oscar miliknya sudah melampaui Jack Nicholson.

Urat-urat yang menonjol di lengannya memperlihatkan seberapa besar tenaga yang ia keluarkan malam itu. Tubuhnya terlihat kecil dan ramping, tetapi kekuatan yang mengalir dari tangannya terasa sebaliknya.

Seluruh sisa energi seperti dipusatkan ke telapak tangan, ke tekanan-tekanan yang tak putus selama memijat pelanggan terakhirnya malam itu. Rohman menjelma menjadi Naruto. Bedanya, ia bukan memusatkan cakra untuk mengeluarkan jurus rasengan, tetapi ia pusatkan untuk memberikan pijatan yang berkesan.

Tangannya menekan, lalu meremas kembali. Ritmenya teratur, seperti sudah dilakukan ribuan kali. Kaki yang sepanjang hari dipakai berpindah dari satu tempat ke tempat lain, mengejar para pejabat negara dengan jadwal yang acap kali berubah mendadak, perlahan terasa lebih ringan di bawah pijatan Rohman.

Tempat Rohman bekerja berada di sudut yang tak terlalu dilirik anak-anak muda yang memadati Blok M Hub setiap malam. Untuk sampai ke lapaknya, orang harus berjalan cukup jauh ke bagian paling ujung bangunan.

Jika masuk dari tangga dekat salah satu gerai minimarket, pengunjung mesti menyusuri lorong panjang yang kini penuh dengan deretan tenant makanan. Jauh berbeda dengan wajah Mal Blok M beberapa tahun lalu, saat bangunan ini hidup segan mati pun tak mau.

Setelah deretan booth makanan, pengunjung akan melewati lapak pakaian thrift. Berbagai kaos dengan motif beragam, jaket denim, hingga celana panjang, tergantung rapat saling berdempetan.

Dari situ, lorong terbuka menuju sebuah ruang transisi yang lebih luas. Sebuah area penghubung antara Blok M Hub dan Halte Transjakarta Blok M.

Nuansa tua masih terasa di area itu. Langit-langitnya tinggi. Tidak seramai lorong depan, tapi juga tidak sepi. Orang-orang berlalu-lalang. Ada yang berjalan cepat menghampiri gate masuk halte, ada yang duduk santai di bangku sambil menyantap makanan.

Di sisi pinggir dan bagian tengah area itu berdiri berbagai kios kecil. Ada salon bercat pink yang mencolok, penjual sandal, toko sepatu, baju bayi, serta konter aksesori ponsel. Di antaranya ada deretan kursi refleksi tempat Rohman mengandalkan kedua tangannya mencari nafkah.

Malam itu, Senin (25/5), jam menunjukkan 20.35 WIB. Walaupun biasanya tutup pukul 21.00 WIB, Rohman masih menerima pelanggan terakhir. Ia pun mempersilakan saya duduk di salah satu kursi tempat refleksinya.

"Tutup jam 9 malam. Biasanya buka jam 10 atau 11, bahkan jam 12 siang. Soalnya kalau pagi enggak ada yang datang," katanya sambil memijat.

Rohman belum terlalu lama menjadi terapis di tempat itu. Ia mulai bekerja sekitar pertengahan pandemi Covid-19, sekitar 2020. Namun selama kurang lebih enam tahun, ia sudah mengenal betul tempat tersebut.

Ia hafal siapa pedagang yang paling lama bertahan di sana. Menurut dia, warung di sebelah tempat dia bekerja, pedagang aksesori kecil-kecilan, dan konter HP yang ada sekarang adalah para penghuni lama.

"Sebelum ini dibangun, masih emperan ini belum ada busway, masih Metro Mini, mereka-mereka sudah di sini," ujar Rohman.

Rohman menduga para pedagang lama itu menyewa tempat dalam jangka sangat panjang, bahkan puluhan tahun. Itu sebabnya mereka masih bertahan sampai sekarang, meski wajah Blok M sudah berganti.

Selama bekerja di area tersebut, Rohman merasakan perubahan besar, terutama setelah kawasan tersebut dikelola Pemerintah Provinsi Jakarta.

Beberapa sudut mulai direnovasi. Pagar diganti. Sejumlah area dibenahi. Ia mendengar kabar sebagian area nantinya ditutup kaca dan dibuat lebih tertata. Katanya, perubahan lebih besar akan datang pada Agustus 2027.

"Ada renovasi besar-besaran pada Agustus 2027. Ini rencana kemarin dengar dari manajemen sini katanya (para penjual) mau dipindahin lagi ke dalam situ yang tadinya buat Ramayana. Ini mau dikosongin semua, mau direnovasi," ucap Rohman.

Selain perubahan fisik bangunan, Rohman merasakan perubahan lain yang lebih penting, yaitu keamanan.

Dulu, cerita soal pencurian atau pungutan liar bukan hal asing di sana. Ia pernah mendengar ada toko sepatu kehilangan belasan pasang barang dagangan. Ia juga mengingat masa ketika masih ada orang-orang yang datang malam-malam meminta uang keamanan kepada pedagang.

"Pas 2023-2024 itu masih ada. Jam 9 (malam) lewat kalau lihat kita belum tutup, nyamperin orang-orangnya. 'Bang, tarikan, bang, tarikan keamanan,'," ujar Rohman.

Menurut Rohman, keadaan berubah setelah perubahan pengelola kawasan. Kini ia merasa jauh lebih aman berjualan.

Namun, ada satu hal yang masih menjadi beban pikirannya, yaitu sewa kios. Menurut Rohman, harga sewa tempatnya terus naik. Yang dulu masih di kisaran Rp3 juta hingga Rp4 juta per bulan, kini menembus lebih dari Rp5 juta.

Hal lain yang menjadi sorotan Rohman adalah menjamurnya tenant makanan di sepanjang lorong Blok M Hub tidak banyak memengaruhi usahanya. Pelanggan pijat refleksi Rohman datang dari jalur yang berbeda. Kebanyakan justru datang dari luar.

Ada orang-orang dari luar kota yang sedang menginap di hotel daerah Palatehan, tamu dari Sumatra, sampai pejabat legislatif dan kepolisian.

"Kayak (anggota) DPR ke sini dia. Langganan saya semua mayoritas orang-orang pejabat semua. Orang-orang punya nama semua lah," ujar Rohman.

Di lorong yang sama tempat Rohman mengandalkan pijatan tangannya, beberapa meter dari kursi refleksi itu, seorang pedagang lain menggantungkan hidup pada benda-benda kecil.

Bersambung ke halaman berikutnya...

Add as a preferred
source on Google
Tahan Banting BACA HALAMAN BERIKUTNYA

HALAMAN:
1 2