ANALISIS

Akankah Rupiah Terus Merana di Rp18 Ribu atau Bangkit di Akhir Tahun?

CNN Indonesia
Kamis, 09 Jul 2026 07:30 WIB
Ilustrasi uang bantuan dari pemerintah sebesar 600 ribu rupiah bagi pekerja bergaji Di bawah 5 juta rupiah. CNN Indonesia/Safir Makk
Ekonom menilai pelemahan tersebut dipicu kombinasi tekanan eksternal dan domestik, meski faktor global masih menjadi penyebab utama. (FOTO:CNN Indonesia/ Safir Makki).

Rizal mengatakan rupiah yang bertahan di atas Rp18 ribu berisiko meningkatkan biaya impor, terutama energi, pangan, dan bahan baku industri, sehingga berpotensi mendorong inflasi.

"Selain itu, beban pembayaran utang luar negeri pemerintah maupun swasta meningkat, biaya produksi dunia usaha naik, ruang fiskal semakin terbatas, dan kepercayaan investor dapat melemah apabila depresiasi berlangsung dalam waktu yang berkepanjangan," ujar Rizal.

Josua menambahkan dampak lainnya adalah kenaikan biaya produksi dan melemahnya daya beli masyarakat. Bahan baku impor, energi, obat, elektronik, mesin, hingga pangan impor akan menjadi lebih mahal.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Pada Juni 2026, inflasi tercatat mencapai 3,34 persen secara tahunan dengan tekanan dari transportasi, BBM nonsubsidi, pangan, serta kenaikan biaya input impor akibat pelemahan rupiah.

Jika rupiah terus melemah, perusahaan akan semakin terdorong menaikkan harga jual, sedangkan rumah tangga menghadapi tekanan biaya hidup yang lebih besar.

Menurut dia, pelemahan rupiah juga berpotensi membuat Bank Indonesia mempertahankan suku bunga tinggi lebih lama, sehingga imbal hasil SBN tetap tinggi.

Dampaknya, biaya utang pemerintah naik, bunga kredit sulit turun, dan sektor riil bisa menahan investasi. Selain itu, APBN juga menjadi lebih sensitif terhadap kenaikan harga minyak, subsidi energi, dan pembayaran utang luar negeri.

"Defisit APBN semester I 2026 masih terkendali di 0,76 persen PDB, tetapi risiko tetap ada karena pelemahan rupiah dan harga minyak dapat menaikkan tekanan belanja," ujar Josua.

Proyeksi Akhir Tahun

Rizal memproyeksikan hingga akhir 2026 rupiah masih berpotensi bergerak volatil di kisaran Rp17.800-Rp18.300 per dolar AS.

Menurut dia, peluang penguatan tetap terbuka apabila tekanan global mereda, The Fed mulai melonggarkan kebijakan moneternya dan arus modal asing kembali masuk.

"Namun, jika ketidakpastian global masih tinggi, rupiah berpotensi bertahan di atas Rp18 ribu meskipun Bank Indonesia terus melakukan langkah stabilisasi," katanya.

Sementara itu, Josua memperkirakan rupiah masih bergerak rapuh di kisaran Rp17.800-Rp18.200 per dolar AS dalam jangka pendek.

Menurut dia, pada akhir tahun rupiah berpeluang kembali berada di bawah Rp18 ribu per dolar AS, yakni di kisaran Rp17.700-Rp18.000, apabila dolar AS melemah, harga minyak dunia turun, imbal hasil obligasi AS menurun, arus modal masuk membaik, serta pemerintah mampu menjaga kredibilitas fiskal.

Sebaliknya, rupiah bisa bertahan di atas Rp18 ribu jika harga minyak kembali naik, inflasi AS tetap tinggi, Bank Sentral AS mempertahankan kebijakan ketat, atau kekhawatiran terhadap risiko domestik semakin meningkat.

"Mata uang Asia bisa mendapat dukungan dari dolar AS yang lebih lemah pada semester II, tetapi Indonesia masih menghadapi risiko dari arah kebijakan domestik dan kerentanan eksternal," ujar Josua.

[Gambas:Video CNN]

(dhz/ins) Add as a preferred
source on Google

HALAMAN:
1 2