Setetes BBM, Panjang Perjalanannya, Bijak Menggunakannya
Bagi sebagian besar orang, perjalanan BBM mungkin terasa sederhana. Datang ke SPBU, antre sebentar, isi tangki, lalu kendaraan kembali melaju.
Namun, sebelum BBM mengalir dari nozzle ke tangki kendaraan, ada perjalanan panjang yang sudah lebih dulu dilalui. Dari mencari minyak di dalam perut bumi, mengangkat minyak mentah ke permukaan, mengolahnya di kilang, hingga mendistribusikannya ke berbagai wilayah Indonesia.
Di setiap tahap, ada teknologi, investasi, infrastruktur, tenaga manusia, sekaligus risiko yang tidak kecil.
Karena itu, BBM bukan sekadar produk yang tersedia di SPBU. Di balik setiap liternya terdapat rantai energi yang panjang dan kompleks.
"Dengan proses yang kompleks tersebut, Pertamina terus menjaga ketahanan energi nasional dan pada saat yang sama mengajak masyarakat untuk bijak menggunakan energi sesuai kebutuhan," kata Vice President (VP) Corporate Communication Pertamina Muhammad Baron kepada CNN Indonesia.
Semua dimulai dari mencari minyak
Perjalanan BBM bermula jauh sebelum minyak mentah masuk ke kilang. Di sektor hulu, terlebih dahulu melakukan eksplorasi untuk mencari cadangan minyak dan gas bumi. Proses ini membutuhkan survei geologi, teknologi seismik, pengeboran eksplorasi dengan investasi yang besar dengan risiko tinggi.
Tidak setiap wilayah yang diperkirakan memiliki potensi migas akhirnya menghasilkan cadangan yang ekonomis untuk diproduksi.
Ketika cadangan ditemukan dan dinilai layak dikembangkan, minyak mentah kemudian diproduksi dan dibawa menuju fasilitas pengolahan.
Di sinilah perjalanan berikutnya dimulai. Dari minyak mentah menjadi BBM
Minyak yang keluar dari sumur belum bisa langsung digunakan untuk mengisi kendaraan.
Minyak mentah harus terlebih dahulu masuk ke kilang untuk diolah menjadi berbagai produk energi yang dibutuhkan masyarakat. Mulai dari bensin, solar, avtur LPG, hingga produk turunan lainnya.
Proses di kilang membutuhkan teknologi dan fasilitas dengan tingkat kompleksitas tinggi. Peralatan harus terus dipelihara dan dioperasikan secara andal agar mampu menghasilkan produk dengan kualitas yang memenuhi standar. Artinya, ada investasi yang terus berjalan bahkan setelah minyak ditemukan.
Setelah proses pengolahan selesai, perjalanan BBM belum berakhir.
Produk-produk tersebut harus didistribusikan ke berbagai wilayah Indonesia melalui jaringan distribusi dengan dukungan berbagai moda transportasi.
Kapal, jalur pipa, mobil tangki hingga fasilitas penyimpanan atau Terminal BBM menjadi bagian dari rantai yang memastikan BBM dapat tersedia di SPBU, termasuk di wilayah yang secara geografis tidak mudah dijangkau.
Tantangannya tidak sederhana. Indonesia merupakan negara kepulauan dengan ribuan pulau dan kondisi geografis yang beragam. Mengirim energi dari satu wilayah ke wilayah lain membutuhkan infrastruktur sekaligus perencanaan yang matang.
Pertamina pun terus melakukan investasi, mulai dari pengembangan infrastruktur energi, peningkatan kapasitas dan keandalan kilang, hingga digitalisasi sistem distribusi. Tujuannya satu: memastikan energi terjaga bagi masyarakat.
Ketika persoalan energi bukan lagi soal dalam negeri
Panjang perjalanan BBM semakin terasa ketika melihat dari mana bahan bakar minyak di Indonesia berasal.
Produksi minyak dalam negeri hingga kini belum mampu memenuhi seluruh kebutuhan nasional. Karena itu, Indonesia masih membutuhkan minyak mentah dan produk BBM dari berbagai negara.
Kebutuhan BBM nasional berada di kisaran 1,5 juta hingga 1,6 juta barel per hari, sementara produksi domestik sekitar 600 ribu barel per hari. Kesenjangan tersebut membuat impor menjadi bagian dari pemenuhan kebutuhan energi nasional.
Di titik inilah kondisi global ikut menentukan. Konflik geopolitik, gangguan jalur pelayaran, perubahan harga minyak dunia hingga kondisi pasokan dari negara produsen dapat memberikan dampak terhadap rantai energi global.
Lihat Juga : |
Salah satu jalur yang menjadi perhatian adalah Selat Hormuz. Jalur pelayaran strategis tersebut selama ini menjadi salah satu rute penting bagi perdagangan minyak dunia.
Ketika terjadi konflik di kawasan Timur Tengah dan muncul risiko gangguan terhadap jalur tersebut, dampaknya tidak hanya dirasakan negara-negara di sekitar kawasan.
Negara seperti Indonesia juga harus menghitung ulang strategi pasokannya.Pemerintah kemudian memperluas sumber impor minyak dari berbagai kawasan di luar Timur Tengah. Amerika Serikat, Afrika, Asia dan negara-negara ASEAN menjadi alternatif sumber pasokan untuk menjaga kebutuhan energi nasional.
Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Bahlil Lahadalia mengatakan Indonesia mendatangkan minyak dari sejumlah negara karena pasokan dari Timur Tengah mengalami gangguan.
Bersama Pertamina, pemerintah juga mendorong diversifikasi sumber pasokan agar Indonesia tidak terlalu bergantung pada satu kawasan.
Langkah lain dilakukan dengan mendorong produksi minyak dalam negeri untuk diprioritaskan sebagai bahan baku kilang nasional, mengoptimalkan operasi kilang serta mencari sumber LPG alternatif.
Pertamina sendiri terus menjajaki sumber pasokan dari berbagai negara, termasuk kawasan Afrika.
Selama ini, kebutuhan minyak mentah dan BBM Indonesia dipenuhi melalui kombinasi produksi domestik dan impor dari sejumlah negara, antara lain Arab Saudi, Irak, Uni Emirat Arab, Kuwait, Singapura, Malaysia, India, Nigeria, Angola, Amerika Serikat, Brasil dan Mesir, sesuai kebutuhan pengadaan.
Bijak menggunakan energi
Berbagai fakta tersebut menunjukkan bahwa menjaga ketahanan energi bukan hanya menjadi pekerjaan pemerintah dan Pertamina.
Masyarakat juga memiliki peran, salah satunya melalui cara menggunakan energi.
Setiap liter BBM yang digunakan telah melewati perjalanan panjang. Karena itu, menggunakan energi sesuai kebutuhan menjadi bagian sederhana yang bisa dilakukan masyarakat dalam menjaga ketahanan energi.
Penggunaan BBM juga sebaiknya disesuaikan dengan spesifikasi kendaraan dan rekomendasi pabrikan. Selain membantu menjaga performa mesin, pemilihan BBM yang tepat dapat membuat penggunaan bahan bakar lebih efisien dan membantu menekan potensi emisi.
"Menggunakan BBM sesuai spesifikasi kendaraan merupakan bentuk kontribusi nyata dalam mendukung ketahanan energi nasional," ujar Baron.
Ketua Research Group on Energy Security for Sustainable Development Universitas Indonesia (RESSED UI) Ali Ahmudi mengatakan penghematan BBM perlu menjadi gerakan bersama.
"Jadi ya jangan boros-boros, karena situasi sedang darurat. Kalau nggak perlu-perlu amat bepergian, enggak usah," kata Ali kepada CNN Indonesia beberapa waktu lalu.
Pakar kebijakan publik Trubus Rahardiansah juga menilai penggunaan energi secara berlebihan dapat menjadi persoalan serius jika tidak diantisipasi.
Menurutnya, ketidakpastian situasi global membuat efisiensi energi semakin penting. Karena itu, edukasi mengenai penggunaan energi secara bijak perlu dilakukan lebih masif melalui berbagai platform.
Bahkan, sosialisasi bisa dilakukan di ruang-ruang yang dekat dengan masyarakat, termasuk SPBU.
Sebab pada akhirnya, menjaga ketahanan energi tidak hanya berbicara tentang berapa banyak minyak yang bisa diproduksi, berapa banyak yang bisa diimpor, atau seberapa besar kapasitas kilang yang dimiliki.
Ada bagian lain yang tidak kalah penting: bagaimana energi yang sudah tersedia digunakan.
Maka, ketika BBM sudah berada di dalam tangki kendaraan, perjalanan panjang itu seharusnya tidak berakhir dengan penggunaan yang berlebihan.
Menggunakan BBM sesuai kebutuhan, memilih bahan bakar sesuai spesifikasi kendaraan, dan menghindari pemborosan adalah langkah sederhana yang bisa dilakukan setiap orang.
Sebab menjaga energi bukan hanya tentang memastikan BBM tersedia hari ini, tetapi juga memastikan energi tetap cukup untuk kebutuhan anak cucu kita di kemudian hari.
(lid/sur)