Sensus Ekonomi 2026: Cerita, Canda, dan Tawa di Balik Data

Endrapta Ibrahim Pramudhiaz | CNN Indonesia
Kamis, 30 Jul 2026 08:15 WIB
petugas Sensus Ekonomi 2026
Di balik angka yang dikumpulkan, ada cerita, canda, hingga tawa warga yang ikut mengiringi proses pendataan Sensus Ekonomi 2026. (CNN Indonesia/ Endrapta Ibrahim).
Jakarta, CNN Indonesia --

Siti Masruroh sibuk menekan layar telepon pintarnya. Kedua ibu jarinya bergerak cepat dari satu angka ke angka lain.

Siti tampak beberapa kali memastikan kembali jawaban yang baru saja disampaikan oleh wanita di hadapannya. Di layar ponsel itu, perlahan muncul deretan angka yang kelak menjadi bagian dari potret besar perekonomian Indonesia.

Di depan Siti ada seorang wanita berkerudung merah muda. Sebut saja namanya Ayu. Jarak antara mereka berdua tak sampai satu meter.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Sudah sekitar 10 menit Ayu duduk di hadapan Siti. Ia menjawab satu per satu pertanyaan yang diajukan petugas Sensus Ekonomi 2026 tersebut. Sesekali, jawaban Ayu diselipi celetukan yang membuat suasana pendataan menjadi jauh dari kesan kaku.

"Ibu, ada usahanya?"

"Iya."

"Pendapatan ibu per hari? Pendapatan kotor?"

"Rp130 ribu. Bikinnya cuma dikit. Kita banyakin, enggak ada yang beli. Pembelinya enggak ada. Buang-buang modal. Jadi kita bikin dikit-dikit aja. Yang penting lancar gitu."

Ayu terlihat berkelakar. Siti dan seorang rekannya pun tertawa kecil.

Siang itu, panas Pegangsaan Dua, Kelapa Gading, Jakarta Utara, terasa menyengat. Matahari seperti tidak memberi ruang bagi warga untuk berlama-lama berada di luar rumah. Namun, suasana di rumah Ayu justru terasa lebih cair.

Pertanyaan demi pertanyaan terus mengalir.

"Kalau untuk modalnya itu 100 persen Ibu modal pribadi atau ada pinjam koperasi, pinjam ke KUR, atau yang lainnya gitu?

"Enggak ada."

"100 persen modal sendiri?"

"Iya."

Siti kembali mencatat jawaban tersebut.

Tak lama kemudian, Ayu menambahkan satu kalimat yang membuat suasana kembali pecah.

"Modal dari bapak (suaminya Ayu) sih dikasih."

Senyum lebar langsung terlihat di wajah Siti.

Percakapan sederhana itu menjadi satu dari sekian banyak momen yang ditemui petugas sensus ketika turun langsung ke lapangan. Di balik angka-angka yang dikumpulkan, ada cerita, canda, hingga tawa warga yang ikut mengiringi proses pendataan.

Bagi Siti, Sensus Ekonomi 2026 bukan hanya soal memasukkan jawaban ke dalam formulir digital. Setiap rumah yang didatangi membawa cerita berbeda.

Ada warga yang menjawab singkat. Ada pula yang justru membuka percakapan lebih panjang.

"Kalau kita masuk ke rumah setiap warga itu, kalau di sini kebanyakan nenek-nenek yang sudah tidak bekerja. Jadi kita mendengarkan curhat," ujar Siti ketika ditemui CNNIndonesia.com di lokasi, Kamis (23/7).

Menurut dia, waktu yang paling banyak tersita bukan untuk mengisi data.

"Lamanya bukan pengisian datanya. Curhatnya, ceritanya, sedihnya. Itulah pokoknya banyak. Kalau di perkampungan lebih seperti itu. Orangnya lebih welcome, lebih terbuka," ujarnya.

Di tengah percakapan ringan semacam itulah Siti menjalankan tugasnya.

Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Kota Jakarta Utara Theresia Parwati menjelaskan Sensus Ekonomi merupakan pendataan yang dilakukan untuk memetakan kondisi perekonomian Indonesia secara menyeluruh.

"Tujuannya untuk melakukan pemetaan kondisi ekonomi seperti apa sekarang dan juga membuat rencana-rencana ke depan sebaiknya apa yang harus dilakukan, intervensi ekonomi seperti apa yang bisa dilakukan," ujar Theresia ketika ditemui CNNIndonesia.com di kantornya.

Sensus Ekonomi digelar setiap 10 tahun sekali. Pelaksanaan pada tahun ini menjadi penting karena kondisi perekonomian telah mengalami banyak perubahan sejak sensus sebelumnya pada 2016. Salah satu perubahan terbesar datang dari pandemi Covid-19.

Pandemi mempercepat penggunaan teknologi digital di berbagai sektor. Aktivitas ekonomi yang sebelumnya harus dilakukan secara langsung dan memiliki tempat usaha fisik, kini bisa berlangsung dari balik layar telepon pintar.

Perubahan itu terlihat dari banyaknya usaha yang memanfaatkan marketplace, media sosial, hingga aplikasi perpesanan seperti WhatsApp untuk berjualan.

Theresia mencontohkan pusat-pusat perdagangan seperti Pasar Pagi Mangga Dua dan ITC. Sejumlah toko fisik di pusat perbelanjaan tersebut memang tidak lagi beroperasi. Namun, kondisi itu tidak serta-merta berarti kegiatan ekonomi berhenti.

"Kalau dulu benar-benar murni semua usaha hanya dilakukan kalau ada fisiknya, sekarang orang tidak kelihatan fisiknya, tetapi sudah melakukan kegiatan-kegiatan ekonomi," ujar Theresia.

Ada usaha berbasis affiliate. Ada penjualan melalui marketplace. Ada pula pelaku usaha yang memanfaatkan Instagram hingga TikTok untuk menawarkan barang dan jasa.

Seluruh aktivitas itu menjadi bagian dari perekonomian yang ingin dipotret melalui Sensus Ekonomi 2026.

Pendataan tersebut mencakup berbagai skala usaha. Mulai dari keluarga yang menjalankan usaha kecil-kecilan, UMKM, perusahaan menengah, hingga perusahaan besar yang menjadi penggerak perekonomian nasional.

Di Jakarta Utara, cakupan pendataan dilakukan di seluruh wilayah. Theresia mengatakan petugas melakukan pendataan ke seluruh RT dan RW yang menjadi wilayah kerja BPS Jakarta Utara.

Di salah satu kawasan padat penduduk, Siti bertugas mendata sekitar 700 rumah. Untuk dapat masuk ke wilayah tersebut, prosesnya pun tidak dilakukan sembarangan. Petugas terlebih dahulu berkoordinasi dengan pengurus RW. Setelah itu, informasi diteruskan kepada pengurus RT.

Data mengenai petugas, wilayah tugas, hingga identitas petugas kemudian disebarkan kepada warga. Setelah koordinasi selesai, Siti dan petugas lainnya mulai mendatangi rumah-rumah warga.

Bersambung ke halaman berikutnya...

Add as a preferred
source on Google
Tantangan Petugas di Lapangan BACA HALAMAN BERIKUTNYA

HALAMAN:
1 2