Sensus Ekonomi 2026: Cerita, Canda, dan Tawa di Balik Data
Tantangan Petugas di Lapangan
Namun, tidak semua proses berjalan mulus.
Saat pengumpulan data di perumahan komplek, penolakan sering datang dengan alasan yang beragam. Ada warga yang tidak memiliki waktu.
Ada pula yang meminta petugas datang pada waktu lain. Bahkan, setelah koordinasi dilakukan dengan pengurus RW dan petugas keamanan, tetap ada warga yang tidak bersedia didata.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Situasi serupa juga ditemui di pusat-pusat perbelanjaan.
Theresia mengatakan sebagian pegawai toko enggan memberikan data karena merasa tidak memiliki kewenangan untuk menjawab pertanyaan petugas. Dalam kondisi seperti itu, BPS tidak memaksakan pendataan.
BPS Jakarta Utara juga berkoordinasi dengan pengelola mal untuk membantu proses pendataan. Informasi mengenai jadwal kedatangan petugas disebarkan kepada para pemilik toko, sehingga mereka mengetahui adanya Sensus Ekonomi 2026.
Pemilik usaha pun diberikan beberapa pilihan. Mereka dapat didata langsung oleh petugas, mengisi kuesioner, atau mengakses tautan yang telah disiapkan.
Ternyata, sebagian besar pelaku usaha yang ditemui di beberapa pusat perbelanjaan justru memilih untuk didatangi langsung. Contohnya di Mall of Indonesia. Saya berkesempatan mengikuti dua petugas dan dua pengawas mendatangi salah satu toko fesyen.
Setelah menunjukkan surat tugas dan identitas, petugas langsung berbincang dengan karyawan toko. Pertanyaannya beragam.
Mulai dari nama usaha, tahun berdiri, nomor telepon, jumlah karyawan, hingga estimasi omzet harian. Petugas juga menanyakan apakah usaha tersebut memiliki aktivitas penjualan secara daring ataut tidak.
Prosesnya berjalan santai.
Tidak ada tumpukan dokumen yang harus disiapkan. Tidak ada bukti transaksi yang diminta. Petugas hanya mencatat informasi berdasarkan jawaban responden.
Satu telepon pintar berada di tangan petugas. Dari layar kecil itulah angka-angka dikumpulkan.
Kelak, angka-angka tersebut akan digabungkan menjadi data yang lebih besar untuk membantu menggambarkan kondisi ekonomi Indonesia
Dinamika Sensus Ekonomi 2026 juga terjadi di dunia maya.
Di media sosial, sempat ramai perbincangan mengenai daftar pertanyaan yang diajukan petugas sensus. Sebagian masyarakat mempertanyakan mengapa petugas menanyakan hal-hal yang dianggap cukup detail, mulai dari penghasilan, pengeluaran, hingga kepemilikan aset.
Theresia memahami kekhawatiran tersebut.
Menurut dia, masyarakat saat ini hidup di tengah arus informasi yang sangat cepat. Sebuah informasi dapat menyebar luas hanya dalam hitungan menit.
Ia menyadari tidak mudah membuat seluruh masyarakat memiliki pemahaman yang sama.
Namun, Theresia berharap masyarakat mau memeriksa kembali informasi yang diterima sebelum mempercayainya.
Sebab, menurut dia, Sensus Ekonomi merupakan kegiatan pendataan, bukan hal lain seperti pemeriksaan pajak.
"BPS adalah tukang potret. Tukang potret itu artinya hanya memotret sesuai dengan kondisi yang ada. Ketika nanti data itu digunakan untuk kebijakan apa pun, intervensinya sudah di luar kewenangan kami," ujar Theresia.
BPS, kata Theresia, hanya menyediakan data mengenai kondisi ekonomi. Data tersebut kemudian dapat digunakan pemerintah untuk merancang kebijakan.
BPS juga tidak meminta dokumen sebagai bukti atas setiap jawaban responden. Informasi mengenai aset, pendapatan, gaji, dan berbagai hal lainnya disampaikan berdasarkan pengakuan responden.
Ia menegaskan data individu, keluarga, maupun perusahaan tidak akan dipublikasikan secara pribadi.
"Sesuai dengan Undang-Undang Nomor 16 Tahun 1997, data pribadi individu, perusahaan, maupun keluarga tidak akan keluar. Data yang keluar hanya dalam bentuk agregat untuk kepentingan statistik, bukan perpajakan dan bukan penegakan hukum," ujar Theresia.
***
Hari mulai beranjak sore ketika Siti keluar dari salah satu rumah warga. Senyum masih terlihat di wajahnya. Pendataan berjalan lancar. Tidak ada penolakan. Tidak ada keributan seperti yang mungkin tergambar dari berbagai perbincangan di media sosial.
Namun, pekerjaan Siti belum selesai. Arsiyanti yang bertugas mengawasi para petugas Sensus Ekonomi sudah menunggunya. Masih ada sejumlah rumah lain yang harus mereka datangi.
Lihat Juga : |
Di tangan Siti, sebuah telepon pintar menjadi alat untuk mengumpulkan jawaban dari warga. Di tangan petugas lain, perangkat yang sama melakukan hal serupa di toko, pasar, pusat perbelanjaan, dan berbagai tempat usaha.
Tidak semua proses berlangsung dalam suasana serius. Ada tawa. Ada candaan. Ada warga yang menyelipkan cerita pribadi di tengah pertanyaan mengenai omzet dan modal usaha.
Namun, di balik percakapan sederhana itu, ada pekerjaan besar yang sedang dilakukan.
Sensus Ekonomi 2026 berusaha menangkap perubahan ekonomi Indonesia yang semakin kompleks. Ekonomi tidak lagi hanya berlangsung di toko, pasar, kantor, atau pabrik.
Sebagian kini berlangsung melalui layar telepon pintar, dari rumah-rumah kecil, melalui percakapan di media sosial, atau melalui transaksi yang bahkan tidak terlihat secara fisik.
Oleh karena itu, setiap jawaban memiliki arti. Jawaban Ayu mengenai usaha kecilnya. Jawaban pemilik toko di pusat perbelanjaan. Semuanya menjadi bagian dari mozaik besar perekonomian Indonesia. Di situlah pentingnya Sensus Ekonomi 2026.
Sebelum kembali melanjutkan pendataan, Arsiyanti menyampaikan pesan sederhana kepada masyarakat.
"Jangan takut. Terima kami, tidak usah takut. Kami bukan orang pajak. Kami hanya ingin memperbarui data," ujarnya.
(sfr) Add
as a preferred source on Google