Mencari Sebab PHK Masih Terjadi di RI
Ia menilai tekanan ekonomi yang dirasakan masyarakat berpotensi memicu berbagai persoalan sosial seperti kerusuhan, kasus kriminal, hingga main hakim sendiri apabila tidak segera diatasi.
Menurut dia, masyarakat yang tidak memiliki pendapatan cenderung lebih mudah tersulut emosinya.
"Hal tersebut tidak dibenarkan, tetapi itu adalah buah dari ekonomi yang tidak tumbuh optimal," ujarnya.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Huda menambahkan masyarakat yang menganggur juga memiliki risiko lebih besar terlibat dalam aktivitas tidak produktif yang pada akhirnya bisa menimbulkan tindak pidana kejahatan.
Menurut dia, kondisi tersebut semakin berat ketika ketimpangan antara kelompok berpenghasilan tinggi dan rendah masih lebar.
Huda menilai dalam dua tahun terakhir berbagai komponen ekonomi menunjukkan tanda-tanda pelemahan, mulai dari konsumsi masyarakat yang melambat, meningkatnya kasus PHK, hingga semakin sulitnya akses masyarakat ke pasar kerja.
Di sisi lain, pemerintah terus menyampaikan ekonomi tumbuh kuat, sedangkan sebagian masyarakat di kelas bawah tidak merasakannya.
"Ketika pemerintah klaim ekonomi tumbuh tinggi, maka pertanyaannya adalah pertumbuhan ekonomi saat ini untuk apa dan untuk siapa?" ujar Huda.
Kata Purbaya Soal Fenomena Ini
Purbaya menilai fenomena PHK yang masih terus terjadi di tengah pertumbuhan ekonomi tidak bisa dipandang dari hanya satu sisi. Menurut dia, publik tidak bisa hanya melihat perusahaan yang tutup, tetapi juga perusahaan baru yang menciptakan lapangan kerja.
Purbaya mengatakan keluar-masuknya perusahaan merupakan hal yang lazim terjadi dalam perekonomian yang kompetitif. Karena itu, menurutnya, kondisi pasar tenaga kerja harus dilihat secara menyeluruh, bukan hanya dari jumlah perusahaan yang tutup atau melakukan PHK.
"Di ekonomi itu selalu ada seperti itu. Dalam pasar yang kompetitif ada keluar masuk (perusahaan), entry dan exit. Jadi jangan lihat yang exit saja, karena di ekonomi yang lagi tumbuh pun ada perusahaan bangkrut," ujar Purbaya dalam konferensi pers APBN KiTa di Kementerian Keuangan, Jakarta, Selasa (21/7).
Ia menilai indikator yang lebih tepat untuk melihat kondisi pasar tenaga kerja adalah penciptaan lapangan kerja secara keseluruhan. Menurutnya, penurunan tingkat pengangguran menunjukkan jumlah pekerjaan baru kemungkinan lebih banyak dibandingkan lapangan kerja yang hilang akibat PHK.
"Kalau kita lihat unemployment (pengangguran) turun, sepertinya sih banyak penciptaan lapangan kerja dibanding yang keluar. Justru pertumbuhan ekonomi menggambarkan itu sebetulnya," katanya.
Lihat Juga : |
Meski demikian, ia mengakui PHK dan kebangkrutan perusahaan tetap terjadi di sejumlah sektor. Namun, menurutnya, kondisi tersebut harus dibandingkan dengan jumlah perusahaan baru maupun lapangan kerja baru yang tercipta.
"Bukan berarti enggak ada pemecatan, enggak ada perusahaan bangkrut. Itu pasti ada. Cuma kita lihat yang baru berapa. Harusnya banyak perusahaan baru atau yang menciptakan lapangan kerja baru dibandingkan perusahaan bangkrut atau keluar," tutur Purbaya.
Ia memastikan pemerintah terus memantau perkembangan tersebut sembari menggulirkan berbagai stimulus ekonomi agar pertumbuhan tetap terjaga. Dengan pertumbuhan ekonomi yang lebih tinggi, menurutnya, peluang terciptanya lapangan kerja baru juga akan semakin besar.
(dhz/ins)