Menantang Arus dan Terowongan MRT, Wujudkan Pedestrian Deck Dukuh Atas
Gambaran tersebut juga diakui Pemprov DKI Jakarta. Kepala Dinas Komunikasi, Informatika, dan Statistik (Diskominfotik) DKI Jakarta Marulina Dewi mengatakan tantangan terbesar dalam mewujudkan integrasi kawasan Dukuh Atas bukan semata pembangunan fisik.
Banyak hal yang perlu dilakukan seperti memastikan berbagai operator transportasi, sistem, kewenangan, dan pemilik aset dapat bekerja bersama sehingga masyarakat dapat berpindah antarmoda dengan mudah, aman, dan nyaman.
Menurut Marulina, setiap pihak memiliki kebutuhan operasional dan kewenangan yang berbeda sehingga seluruh perencanaan harus diselaraskan agar konektivitas yang dibangun benar-benar berorientasi pada pengguna.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Terlebih, kawasan Dukuh Atas menghubungkan berbagai ragam moda transportasi, yang masing-masing memiliki karakteristik infrastruktur dan pengelolaan berbeda," ujar Marulina kepada CNNIndonesia.com, Kamis (30/7).
Lihat Juga : |
Karena itu, kata dia, Pemprov DKI Jakarta bersama PT MRT Jakarta terus membangun koordinasi dengan pemerintah pusat, operator transportasi publik, komunitas, serta para pemilik aset di kawasan Dukuh Atas.
Salah satu upaya yang telah dilakukan ialah menggelar focus group discussion (FGD) pada 28 April 2026 yang mempertemukan pemerintah pusat, operator transportasi, komunitas, dan pemilik aset untuk memetakan kebutuhan serta peluang konektivitas kawasan.
Menurut Marulina, forum tersebut menjadi ruang untuk menyelaraskan pengembangan pedestrian deck agar tidak berjalan sendiri-sendiri, melainkan menjadi bagian dari integrasi kawasan secara keseluruhan yang memberikan manfaat bagi masyarakat maupun pemilik aset di sekitar Dukuh Atas.
"Bagi operator dan pemilik aset, konektivitas yang lebih baik akan memperkuat keterhubungan dengan jaringan trasportasi publik dan aktivitas di kawasan Dukuh Atas," tuturnya.
Pengamat tata kota Yayat Supriatna menilai pembangunan pedestrian deck merupakan langkah penting untuk meningkatkan walkability, yakni kemudahan masyarakat berjalan kaki ketika berpindah dari satu moda transportasi ke moda lainnya. Menurutnya, konsep tersebut merupakan fondasi integrasi fisik dalam sistem transportasi publik.
Namun, ia mengingatkan bahwa pembangunan infrastruktur saja belum cukup untuk mewujudkan integrasi transportasi secara utuh.
"Jadi menurut saya, di sini masalahnya dari pendekatan-pendekatan integrasi secara fisik ini, maka pengembangan selanjutnya adalah integrasi secara tarif dan integrasi secara jadwal," kata Yayat.
Lihat Juga : |
Ia menilai integrasi tarif dan jadwal akan menjadi tahapan berikutnya agar masyarakat tidak lagi terbebani biaya tambahan maupun waktu tunggu saat berpindah moda transportasi.
Pedestrian Deck Dukuh Atas saat ini memasuki tahap tender kontraktor setelah penyelesaian basic design. PT MRT Jakarta menargetkan kontraktor dapat mulai bergabung pada November mendatang, sementara pembangunan ditargetkan rampung pada akhir 2028.
Selain menghubungkan enam moda transportasi, pedestrian deck tersebut diharapkan menjadi bagian dari upaya memperkuat konektivitas kawasan Dukuh Atas melalui jaringan pejalan kaki yang lebih nyaman dan terintegrasi.
(ins)