Gelombang Panas Bisa Gerus Ekonomi Eropa hingga Rp3.700 T

CNN Indonesia
Selasa, 11 Agu 2026 19:22 WIB
Gelombang panas terancam menggerus perekonomian Uni Eropa hingga Rp3.700 triliun pada tahun ini. Harga pangan melejit hingga pengiriman barang terganggu. (Foto: Alberto PIZZOLI / AFP)
Jakarta, CNN Indonesia --

Gelombang panas dan kekeringan pada tahun ini mulai mengganggu perekonomian Eropa, bahkan menggerus ekonomi hingga Rp3.700 triliun.

Bank asal Belanda, Triodos, memperkirakan gangguan akibat panas yang ekstrim dan kekeringan dapat memangkas sekitar 1 persen produk domestik bruto (PDB) Uni Eropa. Nilai 1 persen itu sekitar US$208 miliar atau setara Rp3.700 triliun (asumsi kurs Rp17.810 per dolar AS).

Dampak gelombang panas juga dirasakan pada produktivitas pekerja. Suhu yang tinggi membuat aktivitas kerja menjadi terganggu sehingga produktivitas ikut menurun. Triodos memperkirakan penurunan produktivitas tenaga kerja saja dapat memangkas PDB Uni Eropa sekitar 0,6 persen.

Selain menekan produktivitas kerja, cuaca yang ekstrim juga mendorong kenaikan harga pangan. Produksi pertanian yang menurun berpotensi membuat harga sejumlah bahan pangan meningkat. Perkiraan hasil panen jagung dan bunga matahari turun sekitar 6 persen hingga 7 persen pada Juli 2026.

Kenaikan harga pangan tersebut menjadi tekanan tambahan bagi perekonomian Eropa bersamaan dengan kenaikan harga listrik akibat terbatasnya produksi energi.

Kondisi kenaikan harga-harga tersebut menjadi tantangan bagi Bank Sentral Eropa (ECB) yang harus menjaga inflasi tetap terkendali di tengah dampak ekonomi akibat cuaca ekstrim. Kenaikan harga pangan dan energi dapat menambah pukulan inflasi ketika pertumbuhan ekonomi justru mengalami tekanan.

"Kenaikan harga pangan, keterbatasan pembangkitan listrik, kenaikan harga listrik, serta gangguan terhadap jalan, jalur kereta api, dan transportasi perairan darat semakin memperparah dampak tersebut," kata Triodos dikutip Reuters, Selasa (11/8).

Prancis jadi negara paling terpukul. Triodos memperkirakan gelombang panas berulang dapat memangkas PDB Perancis sekitar 1,4 persen dan berpotensi membuat ekonomi negara tersebut mengalami kontraksi tahunan sekitar 0,6 persen.

Italia, Spanyol, dan Belgia turut mengalami kerugian ekonomi yang cukup besar, Sementara itu, Polandia diperkirakan mengalami kerugian yang lebih kecil karena mengalami suhu panas yang lebih sebentar dibandingkan dengan negara lainnya.

Dampak cuaca ekstrim tersebut salah satunya dirasakan oleh Jerman. Rendahnya permukaan air Sungai Rhine mengakibatkan arus pengiriman barang terganggu.

Grup perbankan asal Belanda, ING, memperkirakan gangguan lalu lintas di Sungai Rhine dapat memangkas pertumbuhan ekonomi Jerman sebesar 0,3 poin persentase pada tahun ini.

Dari sektor pariwisata, wilayah Eropa Selatan juga berpotensi mengalami tekanan akibat kenaikan suhu ekstrim. Suhu yang mencapai 45 derajat celcius di sejumlah wilayah membuat wisatawan enggan datang. Akibatnya, pendapatan dari pariwisata di negara seperti Italia dan Spanyol merosot.

Di sektor energi, lebih dari enam pembangkit listrik tenaga nuklir mengurangi produksinya karena kesulitan dalam proses pendinginan sebagai dampak dari gelombang panas tersebut. Pasalnya, suhu tinggi dan rendahnya debit air sungai mengganggu pembangkit listrik di proses pendinginan.

Di lain sisi, permintaan terhadap listrik juga meningkat akibat penggunaan pendingin ruangan (AC) selama cuaca ekstrim.

Gangguan akibat cuaca yang ekstrim juga berpotensi meluas ke sektor transportasi. Terjadinya gangguan pada jalan, kereta api dan jalur perairan pedalaman juga menambah kerugian ekonomi akibat gelombang panas.

Selain Sungai Rhine, Sungai Danube juga terkena dampak dari gelombang panas. Rendahnya permukaan Sungai Danube mengganggu aktivitas pengiriman barang. Kedua sungai tersebut merupakan jalur penting untuk aktivitas pengiriman barang di sejumlah wilayah Eropa.

Pada sektor pertanian, cuaca yang ekstrim terancam membuat hasil panen jagung merosot sekitar 6 persen-7 persen pada Juli 2026. 

Tekanan ekonomi tersebut terjadi saat pertumbuhan Uni Eropa memang diperkirakan relatif terbatas tahun ini. Komisi Eropa memperkirakan ekonomi di Uni Eropa tumbuh 1,1 persen, sementara Dana Moneter Internasional (IMF) memperkirakan pertumbuhan ekonomi sekitar 0,9 persen.

(lil/pta)
KOMENTAR

ARTIKEL TERKAIT
TOPIK TERKAIT
TERPOPULER
LAINNYA DARI DETIKNETWORK