'Negara Blok M' dan Jurus MRT Beri Nyawa Baru Sebuah Kawasan

CNN Indonesia
Kamis, 10 Sep 2026 18:38 WIB
Beberapa waktu belakangan kerap muncul di linimasa istilah "Negara Blok M" untuk menyebut tempat yang kini makin ramai oleh pengunjung, Jakarta, 10 Januari 2026. (CNN Indonesia/Adhi Wicaksono)
MRT Jakarta mengusung gagasan Blok M sebagai kawasan yang tak cuma berfungsi secara fisik, tetapi juga memiliki aktivitas, hingga keterikatan dengan masyarakat. (CNN Indonesia/Adhi Wicaksono).
Jakarta, CNN Indonesia --

Istilah 'Negara Blok M' belakangan kerap muncul di media sosial untuk menggambarkan sebuah kawasan hipster populer di Jakarta Selatan.

Sebutan itu terdengar seperti lelucon, tetapi perlahan mencerminkan bagaimana kawasan tersebut memiliki kehidupan yang seolah berdiri sendiri di tengah hiruk-pikuk Jakarta.

Gulir lini masa media sosial, terutama TikTok, mudah menemukan wajah Blok M yang berbeda-beda. Ada antrean makanan, kedai kopi, toko vinyl, komunitas, pertunjukan musik, hingga sudut-sudut kawasan yang ramai didatangi anak muda.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Pergi ke Blok M pun bagi sebagian orang tak lagi semata-mata soal makan atau mencari tempat nongkrong. Pengunjung datang untuk berjalan kaki, bertemu teman, berburu makanan, menghadiri acara, atau sekadar menikmati keramaian.

Blok M perlahan berubah dari tempat yang dilewati menjadi tempat yang dituju.

Perubahan wajah itu tidak terlepas dari transformasi pendekatan PT MRT Jakarta (Perseroda).

Jika sebelumnya MRT lebih dikenal sebagai moda yang membawa penumpang dari satu stasiun ke stasiun lain, kini perusahaan pelat merah itu juga mengembangkan kawasan di sekitar jaringan transportasinya.

Salah satu pendekatan yang dibawa adalah placemaking, yakni gagasan untuk membuat sebuah kawasan tidak hanya berfungsi secara fisik, tetapi juga memiliki aktivitas, identitas, dan keterikatan dengan masyarakat yang menggunakannya.

Division Head Business Planning and Expansion Division MRT Jakarta Samuel Ryan Pradipta mengatakan pendekatan tersebut merupakan bagian dari upaya MRT untuk menjadi city regenerator, atau menghidupkan kembali simpul-simpul ekonomi perkotaan.

"City regenerator ini sebetulnya menghidupkan lagi simpul-simpul ekonomi yang ada di kota, khususnya di Jakarta," ujar Samuel dalam workshop MRT Journalism Fellowship Program 2026 di Kantor MRT, Jakarta Pusat, Rabu (9/9).

Blok M menjadi salah satu contoh yang dipakai MRT untuk menerjemahkan gagasan tersebut. Namun, placemaking bagi MRT bukan sekadar membuat ruang baru atau mempercantik kawasan.

"Placemaking ini sebetulnya sebuah konsep di mana saat kita merancang sebuah tata kota atau pengembangan sebuah kawasan menjadi ruang ketiga," ujar Samuel.

Ruang ketiga yang dimaksud adalah tempat setelah rumah dan tujuan utama seperti kantor atau sekolah. Di sana, masyarakat dapat berhenti, berkumpul, berinteraksi, mengekspresikan diri, atau sekadar menghabiskan waktu.

"Tapi enggak cuma bikin ruangnya doang. Karena kalau ruang ya cuma tempat aja gitu kan. Ya saya ke situ cuma duduk makan atau minum, habis itu gesit pulang gitu. Nah, enggak ada keterikatan secara emosionalnya," katanya.

Bagi MRT, keterikatan itulah yang disebut sebagai sense of place. Perubahan Blok M menjadi salah satu contoh bagaimana MRT mencoba memperluas fungsi transportasi menjadi pengembangan kawasan.

Samuel mengatakan Blok M sebelumnya berada dalam kondisi sepi. Kini, kawasan tersebut dipenuhi aktivitas, tenant, komunitas, dan berbagai acara.

Dari sisi kunjungan, ia menyebut jumlah orang yang datang ke Blok M sebelumnya hanya sekitar 400 orang per hari. Kini, angkanya mencapai sekitar 40 ribu orang pada hari kerja.

Pada akhir pekan, jumlah pengunjung disebut berada di kisaran 60-70 ribu orang tanpa event. Ketika terdapat kegiatan besar, jumlahnya dapat mencapai 80-90 ribu orang.

Jumlah tersebut menjadi salah satu ukuran yang digunakan MRT untuk melihat apakah sebuah kawasan benar-benar hidup. Tetapi perubahan itu tidak hanya terlihat dari angka.

Bukan Sekadar Ruang Ramai

Konsep placemaking MRT mulai bergerak melampaui pembangunan fisik. Samuel mengatakan sebuah kawasan setidaknya harus memiliki empat unsur: akses dan keterhubungan, kenyamanan dan citra, aktivitas, serta interaksi sosial.

Unsur terakhir menjadi penting. Pasalnya, menurut Samuel, ruang yang hanya menyediakan tempat makan atau kegiatan belum sepenuhnya dapat disebut placemaking jika orang tidak bisa berkumpul dan berinteraksi di dalamnya.

"Kalau nomor empatnya tidak terpenuhi, sebetulnya belum bisa dibilang placemaking-nya sempurna," terangnya.

Karena itu, MRT mengisi ruang-ruang Blok M dengan berbagai aktivitas dan mencoba membangun identitas tertentu.

Samuel menyebut tema Blok M sebagai urban youth hub sekaligus ruang nostalgia. Anak muda menjadi salah satu kelompok utama yang dituju, tetapi memori generasi yang lebih tua terhadap Blok M juga dipertahankan.

"Jadi nostalgianya itu tetap di-keep gitu, supaya semua kalangan, semua umur itu bisa datang ke Blok M," ujarnya.

Pendekatan tersebut diterjemahkan melalui pelibatan komunitas, kurasi tenant, serta berbagai kegiatan. Di Blok M Hub, misalnya, tenant tidak dibiarkan seragam. MRT mencoba menghadirkan pilihan makanan dan bisnis yang beragam.

Aktivitas kemudian menyebar melalui event dengan tema berbeda, mulai dari musik, fashion, gim hingga komunitas hobi.

"Masyarakat itu butuhnya banyak-banyak, beda-beda. Ada yang sukanya musik, ada yang sukanya fashion, ada yang sukanya games, ada yang dia sukanya vinyl," kata Samuel.

Bagi MRT, keberagaman itu menjadi cara untuk menjaga agar kawasan tidak hidup hanya pada satu jenis aktivitas. Selain event besar, aktivasi berskala lebih kecil juga dilakukan secara rutin. Tujuannya sederhana: selalu ada alasan baru bagi orang untuk datang.

Kendati, Samuel mengatakan revitalisasi Blok M baru berjalan sekitar separuh dari keseluruhan konsep yang ingin dikembangkan.

"Beberapa konsep ini akan diterapkan MRT, yang pertama di Blok M kemarin sudah, walaupun itu baru setengah jalan. Itu Blok M akan dibuat jauh lebih rapi dan lebih bagus lagi, jadi kami sebetulnya baru setengah jalan untuk revitalisasi Blok M," kata Samuel.

Artinya, wajah Blok M yang sekarang ramai masih akan terus mengalami perubahan.

MRT juga tidak melihat placemaking sebagai konsep yang berhenti pada satu bentuk. Samuel mengatakan karakter kawasan perlu dipertahankan, tetapi aktivitas di dalamnya dapat berubah mengikuti kebutuhan dan pergantian generasi.

Untuk Blok M, karakter itu dirumuskan sebagai ruang anak muda sekaligus nostalgia. Namun, beberapa tahun ke depan, aktivitas yang mengisinya dapat kembali berubah.

Pendekatan serupa juga direncanakan dibawa MRT ke kawasan lain, termasuk Kota Tua. Bedanya, karakter yang diangkat akan menyesuaikan identitas kawasan tersebut.

Samuel mengatakan perusahaan ingin mempertahankan heritage Chinatown dan 'Little Amsterdam' di Kota Tua, sembari menggabungkannya dengan aktivitas retail, komunitas dan elemen modern.

Dengan begitu, setiap kawasan tidak dipaksa menjadi versi lain dari Blok M. Justru, pendekatan placemaking MRT diarahkan untuk mencari 'jiwa' masing-masing tempat.

Pada akhirnya, perubahan Blok M mungkin memang bisa dihitung melalui jumlah pengunjung, tenant, event, dan aktivitas yang tumbuh. Tetapi ukuran lain yang lebih sulit dihitung adalah apakah orang merasa memiliki hubungan dengan kawasan tersebut.

Samuel menyebut tujuan placemaking adalah membangun keterikatan semacam itu.

"Sense of emotional, bahwa saya udah berapa minggu nih enggak ke sana, saya harus ke sana, udah kangen sama tempatnya," ucap dia.

Bersambung ke halaman berikutnya...

Jakarta, CNN Indonesia --

Istilah 'Negara Blok M' belakangan kerap muncul di media sosial untuk menggambarkan sebuah kawasan hipster populer di Jakarta Selatan.

Sebutan itu terdengar seperti lelucon, tetapi perlahan mencerminkan bagaimana kawasan tersebut memiliki kehidupan yang seolah berdiri sendiri di tengah hiruk-pikuk Jakarta.

Gulir lini masa media sosial, terutama TikTok, mudah menemukan wajah Blok M yang berbeda-beda. Ada antrean makanan, kedai kopi, toko vinyl, komunitas, pertunjukan musik, hingga sudut-sudut kawasan yang ramai didatangi anak muda.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Pergi ke Blok M pun bagi sebagian orang tak lagi semata-mata soal makan atau mencari tempat nongkrong. Pengunjung datang untuk berjalan kaki, bertemu teman, berburu makanan, menghadiri acara, atau sekadar menikmati keramaian.

Blok M perlahan berubah dari tempat yang dilewati menjadi tempat yang dituju.

Perubahan wajah itu tidak terlepas dari transformasi pendekatan PT MRT Jakarta (Perseroda).

Jika sebelumnya MRT lebih dikenal sebagai moda yang membawa penumpang dari satu stasiun ke stasiun lain, kini perusahaan pelat merah itu juga mengembangkan kawasan di sekitar jaringan transportasinya.

Salah satu pendekatan yang dibawa adalah placemaking, yakni gagasan untuk membuat sebuah kawasan tidak hanya berfungsi secara fisik, tetapi juga memiliki aktivitas, identitas, dan keterikatan dengan masyarakat yang menggunakannya.

Division Head Business Planning and Expansion Division MRT Jakarta Samuel Ryan Pradipta mengatakan pendekatan tersebut merupakan bagian dari upaya MRT untuk menjadi city regenerator, atau menghidupkan kembali simpul-simpul ekonomi perkotaan.

"City regenerator ini sebetulnya menghidupkan lagi simpul-simpul ekonomi yang ada di kota, khususnya di Jakarta," ujar Samuel dalam workshop MRT Journalism Fellowship Program 2026 di Kantor MRT, Jakarta Pusat, Rabu (9/9).

Blok M menjadi salah satu contoh yang dipakai MRT untuk menerjemahkan gagasan tersebut. Namun, placemaking bagi MRT bukan sekadar membuat ruang baru atau mempercantik kawasan.

"Placemaking ini sebetulnya sebuah konsep di mana saat kita merancang sebuah tata kota atau pengembangan sebuah kawasan menjadi ruang ketiga," ujar Samuel.

Ruang ketiga yang dimaksud adalah tempat setelah rumah dan tujuan utama seperti kantor atau sekolah. Di sana, masyarakat dapat berhenti, berkumpul, berinteraksi, mengekspresikan diri, atau sekadar menghabiskan waktu.

"Tapi enggak cuma bikin ruangnya doang. Karena kalau ruang ya cuma tempat aja gitu kan. Ya saya ke situ cuma duduk makan atau minum, habis itu gesit pulang gitu. Nah, enggak ada keterikatan secara emosionalnya," katanya.

Bagi MRT, keterikatan itulah yang disebut sebagai sense of place. Perubahan Blok M menjadi salah satu contoh bagaimana MRT mencoba memperluas fungsi transportasi menjadi pengembangan kawasan.

Samuel mengatakan Blok M sebelumnya berada dalam kondisi sepi. Kini, kawasan tersebut dipenuhi aktivitas, tenant, komunitas, dan berbagai acara.

Dari sisi kunjungan, ia menyebut jumlah orang yang datang ke Blok M sebelumnya hanya sekitar 400 orang per hari. Kini, angkanya mencapai sekitar 40 ribu orang pada hari kerja.

Pada akhir pekan, jumlah pengunjung disebut berada di kisaran 60-70 ribu orang tanpa event. Ketika terdapat kegiatan besar, jumlahnya dapat mencapai 80-90 ribu orang.

Jumlah tersebut menjadi salah satu ukuran yang digunakan MRT untuk melihat apakah sebuah kawasan benar-benar hidup. Tetapi perubahan itu tidak hanya terlihat dari angka.

Bukan Sekadar Ruang Ramai

Konsep placemaking MRT mulai bergerak melampaui pembangunan fisik. Samuel mengatakan sebuah kawasan setidaknya harus memiliki empat unsur: akses dan keterhubungan, kenyamanan dan citra, aktivitas, serta interaksi sosial.

Unsur terakhir menjadi penting. Pasalnya, menurut Samuel, ruang yang hanya menyediakan tempat makan atau kegiatan belum sepenuhnya dapat disebut placemaking jika orang tidak bisa berkumpul dan berinteraksi di dalamnya.

"Kalau nomor empatnya tidak terpenuhi, sebetulnya belum bisa dibilang placemaking-nya sempurna," terangnya.

Karena itu, MRT mengisi ruang-ruang Blok M dengan berbagai aktivitas dan mencoba membangun identitas tertentu.

Samuel menyebut tema Blok M sebagai urban youth hub sekaligus ruang nostalgia. Anak muda menjadi salah satu kelompok utama yang dituju, tetapi memori generasi yang lebih tua terhadap Blok M juga dipertahankan.

"Jadi nostalgianya itu tetap di-keep gitu, supaya semua kalangan, semua umur itu bisa datang ke Blok M," ujarnya.

Pendekatan tersebut diterjemahkan melalui pelibatan komunitas, kurasi tenant, serta berbagai kegiatan. Di Blok M Hub, misalnya, tenant tidak dibiarkan seragam. MRT mencoba menghadirkan pilihan makanan dan bisnis yang beragam.

Aktivitas kemudian menyebar melalui event dengan tema berbeda, mulai dari musik, fashion, gim hingga komunitas hobi.

"Masyarakat itu butuhnya banyak-banyak, beda-beda. Ada yang sukanya musik, ada yang sukanya fashion, ada yang sukanya games, ada yang dia sukanya vinyl," kata Samuel.

Bagi MRT, keberagaman itu menjadi cara untuk menjaga agar kawasan tidak hidup hanya pada satu jenis aktivitas. Selain event besar, aktivasi berskala lebih kecil juga dilakukan secara rutin. Tujuannya sederhana: selalu ada alasan baru bagi orang untuk datang.

Kendati, Samuel mengatakan revitalisasi Blok M baru berjalan sekitar separuh dari keseluruhan konsep yang ingin dikembangkan.

"Beberapa konsep ini akan diterapkan MRT, yang pertama di Blok M kemarin sudah, walaupun itu baru setengah jalan. Itu Blok M akan dibuat jauh lebih rapi dan lebih bagus lagi, jadi kami sebetulnya baru setengah jalan untuk revitalisasi Blok M," kata Samuel.

Artinya, wajah Blok M yang sekarang ramai masih akan terus mengalami perubahan.

MRT juga tidak melihat placemaking sebagai konsep yang berhenti pada satu bentuk. Samuel mengatakan karakter kawasan perlu dipertahankan, tetapi aktivitas di dalamnya dapat berubah mengikuti kebutuhan dan pergantian generasi.

Untuk Blok M, karakter itu dirumuskan sebagai ruang anak muda sekaligus nostalgia. Namun, beberapa tahun ke depan, aktivitas yang mengisinya dapat kembali berubah.

Pendekatan serupa juga direncanakan dibawa MRT ke kawasan lain, termasuk Kota Tua. Bedanya, karakter yang diangkat akan menyesuaikan identitas kawasan tersebut.

Samuel mengatakan perusahaan ingin mempertahankan heritage Chinatown dan 'Little Amsterdam' di Kota Tua, sembari menggabungkannya dengan aktivitas retail, komunitas dan elemen modern.

Dengan begitu, setiap kawasan tidak dipaksa menjadi versi lain dari Blok M. Justru, pendekatan placemaking MRT diarahkan untuk mencari 'jiwa' masing-masing tempat.

Pada akhirnya, perubahan Blok M mungkin memang bisa dihitung melalui jumlah pengunjung, tenant, event, dan aktivitas yang tumbuh. Tetapi ukuran lain yang lebih sulit dihitung adalah apakah orang merasa memiliki hubungan dengan kawasan tersebut.

Samuel menyebut tujuan placemaking adalah membangun keterikatan semacam itu.

"Sense of emotional, bahwa saya udah berapa minggu nih enggak ke sana, saya harus ke sana, udah kangen sama tempatnya," ucap dia.

Bersambung ke halaman berikutnya...

Dari Konsep MRT ke Strategi Kota BACA HALAMAN BERIKUTNYA

HALAMAN:
1 2