'Negara Blok M' dan Jurus MRT Beri Nyawa Baru Sebuah Kawasan

CNN Indonesia
Kamis, 10 Sep 2026 18:38 WIB
Beberapa waktu belakangan kerap muncul di linimasa istilah "Negara Blok M" untuk menyebut tempat yang kini makin ramai oleh pengunjung, Jakarta, 10 Januari 2026. (CNN Indonesia/Adhi Wicaksono)
MRT Jakarta mengusung gagasan Blok M sebagai kawasan yang tak cuma berfungsi secara fisik, tetapi juga memiliki aktivitas, hingga keterikatan dengan masyarakat. (CNN Indonesia/Adhi Wicaksono).

Dari Konsep MRT ke Strategi Kota

Apa yang dilakukan MRT di Blok M tidak berdiri sendiri. Pemprov DKI Jakarta melihat pendekatan placemaking sebagai bagian dari arah penataan kawasan di Jakarta.

Kepala Dinas Komunikasi, Informatika, dan Statistik (Diskominfotik) DKI Jakarta Marulina Dewi mengatakan Jakarta tak hanya membutuhkan pembangunan infrastruktur, tetapi juga ruang kota yang hidup, nyaman, dan inklusif.

"Placemaking pada dasarnya sejalan dengan arah penataan kota yang sedang dikembangkan oleh Pemerintah Provinsi DKI Jakarta. Jakarta tidak hanya membutuhkan pembangunan infrastruktur, tetapi juga ruang-ruang kota yang hidup, nyaman, inklusif, dan mampu menjadi bagian dari aktivitas masyarakat sehari-hari," ujar Marulina.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Menurutnya, Pemprov DKI memberikan mandat kepada MRT Jakarta untuk mengembangkan kawasan sekaligus menjadi salah satu contoh bagaimana transportasi, ruang publik, aktivitas ekonomi, komunitas dan gaya hidup dapat terhubung.

"Ke depan, kami melihat konsep ini bukan hanya sebagai program dari satu institusi, tetapi sebagai pendekatan kolaboratif dalam penataan kawasan, mulai dari Pemerintah Provinsi DKI Jakarta, BUMD, pelaku usaha, komunitas, dan masyarakat," ujarnya.

Marulina mengatakan prinsipnya adalah mengembangkan potensi yang telah ada di sebuah kawasan, bukan sekadar menciptakan sesuatu yang baru.

Karena itu, pendekatan yang digunakan tidak harus seragam. Blok M memiliki karakter dan sejarah sendiri, sementara kawasan lain dapat memiliki identitas berbeda.

Sejumlah kawasan lain pun dinilai memiliki potensi untuk dikembangkan dengan pendekatan serupa, terutama kawasan yang memiliki simpul transportasi, perdagangan, komunitas, dan aktivitas yang sudah terbentuk.

Dukuh Atas menjadi salah satu contoh. Pemprov tengah mengembangkan konektivitas antarmoda melalui Pedestrian Deck untuk memperkuat mobilitas di kawasan tersebut.

Selain itu, Manggarai disebut sebagai titik simpul yang terus berkembang, sementara Glodok dan Kota Tua diproyeksikan menjadi simpul lain ketika MRT Fase 2A hingga Kota Tua selesai dikembangkan.

Namun, menurut Marulina, karakter setiap kawasan tetap harus menjadi dasar.

"Setiap kawasan di Jakarta memiliki karakter, sejarah, komunitas, dan potensi yang berbeda. Karena itu, yang kami dorong adalah bagaimana setiap kawasan dapat dikembangkan berdasarkan identitas dan kebutuhan masyarakatnya," katanya.

Ruang Komunitas

Pengamat tata kota Yayat Supriatna menilai konsep placemaking yang dikembangkan MRT di Blok M memiliki potensi untuk menjadikan ruang sebagai tempat lahirnya kreativitas dan gagasan masyarakat.

Namun, ia mengingatkan bahwa desain fisik tidak otomatis membuat sebuah kawasan menjadi a place.

"Konsep placemaking di MRT, di Blok M itu menarik. Itu kan membentuk ruang bagaimana masyarakat menjadikan ruang itu sebagai ruang inovatif, ruang kreatif, menciptakan ide-ide gagasan baru," kata Yayat.

"Karena sebetulnya setiap ruang itu harus ada penjaganya. Penjaganya itu siapa? Komunitas," sambungnya.

Bagi Yayat, komunitas harus memiliki ruang untuk beraktivitas dan menciptakan karya. Ia mengambil contoh Pasar Seni Ancol pada masa lalu yang menurutnya pernah menjadi ruang berkumpul sekaligus rumah bagi para seniman.

Ia berharap Blok M juga dapat berkembang ke arah tersebut, bukan hanya menjadi tempat dengan banyak tenant dan aktivitas komersial.

"Justru yang menarik jika nanti di situ juga ada panggung seni, panggung karya, apakah sastrawan, seniman, tarian, panggung untuk para calon-calon aktor," ujarnya.

Dengan begitu, menurut Yayat, placemaking tidak hanya menghasilkan transaksi, tetapi juga membangun modal sosial dan kreativitas warga kota.

Blok M Bikin Betah

Sebagian pengunjung memang merasakan bahwa Blok M telah berkembang menjadi ruang sosial.

Zahwa (25) datang ke Blok M untuk bertemu teman dan mencoba berbagai jajanan. Ia menilai kawasan tersebut kini lebih ramai, lebih hidup, dan memiliki pengunjung yang lebih beragam.

"Sekarang lebih ramai, lebih hidup, dan banyak kegiatan. Lebih bervariasi aja warganya," kata Zahwa.

Ia juga merasa Blok M kini sudah menjadi tujuan, bukan sekadar tempat transit.

"Sekarang Blok M udah jadi tempat yang sengaja didatangi karena banyak tempat yang bisa dituju di Blok M karena juga transportasi umum banyak juga yang punya stasiun di Blok M," ujarnya.

Yang membuatnya betah adalah keberagaman orang yang ditemui.

"Karena semua kalangan masyarakat 'diterima' di Blok M, semua orang bisa jadi apa yang mereka mau di sana."

Bagi Zahwa, keberagaman itu sudah cukup untuk memberikan identitas pada kawasan tersebut.

Senada, Sam (27) juga memiliki pengalaman serupa. Ia pertama kali datang ke Blok M ketika merantau ke Jakarta pada 2022.

Ia menjadi saksi perubahan pada wajah kawasan, mulai dari trotoar, jalan, hingga semakin banyaknya tempat makan dan kedai kopi.

"Wah, banyak banget yang berubah. Sejak pertama kali ke Blok M sewaktu awal merantau ke Jakarta pada 2022, 'wajah' Blok M sudah berubah signifikan," ujar Sam.

Sam mengaku pernah menghabiskan empat hingga lima jam di Blok M hanya untuk mengobrol dengan orang-orang yang ditemuinya.

Dari aktivitas nongkrong itu, ia bahkan mendapatkan sejumlah teman baik.

Kini, Blok M masih menjadi tempat singgah baginya sebelum atau setelah bekerja. Pada akhir pekan, ia juga terkadang sengaja datang untuk makan di Blok M Square, membeli buku atau mencari terbitan lama. Ia menilai fungsi kawasan pun ikut bergeser.

"Sekarang saya mendapatkan kesan bahwa Blok M sekarang menjadi tempat yang sengaja didatangi," ujarnya.

Menurut Sam, perkembangan budaya membuat Blok M menjadi destinasi kuliner hingga wisata. Namun, ia juga melihat identitas tersebut bukan sepenuhnya hasil dari revitalisasi terbaru.

"Dari dulu Blok M sebenarnya sudah punya identitasnya sendiri. Banyak subkultur berkembang di sana sejak era 1980-an. Entah itu musik, buku, dan lainnya," kata Sam.

Di sisi lain, ia juga menilai ada sejumlah hal yang masih perlu dibenahi, seperti tempat sampah, parkir, hingga sirkulasi udara di sekitar Blok M Hub.

(sfr/sfr)

HALAMAN:
1 2