Pertamina Sulap Minyak Bekas MBG Jadi Avtur
PT Pertamina Patra Niaga berinovasi mengolah minyak jelantah atau used cooking oil (UCO) menjadi bahan bakar pesawat ramah lingkungan sustainable aviation fuel (SAF) alias bioavtur.
Bahan baku berupa limbah minyak goreng tersebut salah satunya akan dipasok dari Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) atau dapur program Makan Bergizi Gratis (MBG).
Executive General Manager PT Pertamina Patra Niaga Kilang Cilacap Hermawan Budiantoro menjelaskan pengumpulan UCO dari SPPG merupakan bagian dari skema business-to-business (B2B).
Selain SPPG, pasokan minyak jelantah juga akan diserap dari Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih (KDMP), serta sektor hotel, restoran, dan kafe (horeka).
"Kemudian juga skema business-to-business, jadi (pasokannya) dari SPPG, Horeka, KDMP," ujar Hermawan dalam acara media gathering di Kabupaten Cilacap, Jawa Tengah, Kamis (10/9).
Pengadaan UCO melalui jalur B2B ini dilakukan melalui kesepakatan pengadaan (procurement agreement) dan penyediaan kotak pengumpulan (UCO Collection Box).
Pengumpulan pasokan UCO secara B2B dinilai dapat lebih besar dikumpulkannya dibandingkan hanya mengandalkan skala rumah tangga.
Namun, perseroan tetap menjalankan skema business-to-customer (B2C) dengan mengumpulkan minyak jelantah langsung dari masyarakat, komunitas, hingga kalangan pegawai internal (perwira).
"Ada dispenser-dispenser untuk mengumpulkan, baik itu di kilang maupun di MOR (Marketing Operation Region), kemudian nantinya akan kita gunakan," ujar Hermawan.
Pengembangan bioavtur ramah lingkungan oleh Pertamina telah melewati serangkaian proses panjang sejak akhir 2020.
Pertamina menggunakan bahan baku berupa minyak inti sawit yang telah dimurnikan atau Refined, Bleached, and Deodorized Palm Kernel Oil (RBDPKO).
Pada Desember 2020, uji coba (co-processing) perdana dilakukan di Kilang Cilacap dengan injeksi 2 persen RBDPKO, yang kemudian ditingkatkan menjadi 2,4 persen pada Februari 2021.
Lihat Juga : |
Hasil racikan tersebut sukses diujicobakan pada penerbangan pesawat CN-235 rute Jakarta-Bandung pada Oktober 2021.
Memasuki pertengahan 2023, Pertamina mulai memproduksi SAF untuk uji coba penerbangan komersial.
Puncaknya, pada September 2023, bioavtur ini berhasil menerbangkan armada Boeing 737-800NG milik Garuda Indonesia dengan rute penerbangan Jakarta-Solo.
Sepanjang paruh kedua 2023, perusahaan juga mengantongi sertifikasi Awareness System.
Pada 2024, penggunaan minyak jelantah atau UCO dilakukan.
Selama 2024, Pertamina secara intensif melakukan uji lapangan dan meraih sertifikasi ISCC CORSIA serta sertifikasi untuk unit produksi Treated Distillate Hydrotreating (TDHT) di Kilang Cilacap.
Menyusul rampungnya seluruh tahapan sertifikasi tersebut, Pertamina pun meluncurkan ekosistem SAF pada 2025.
Produksi perdana U-SAF di Kilang RU IV Cilacap bergulir pada periode Juli hingga Agustus 2025.
Setelah fasilitas resmi memproduksi bioavtur secara masal, fokus perusahaan pada 2026 dan seterusnya adalah menjaga stabilitas kualitas produk (maintenance).
(dhz/sfr)