Iwan Tirta Jadikan Batik sebagai Gaya Hidup Modern

Yohannie Linggasari, CNN Indonesia | Kamis, 25/09/2014 15:50 WIB
Iwan Tirta Jadikan Batik sebagai Gaya Hidup Modern Peragaan busana Men's Fashion Show, Plaza Indonesia, Jakarta. (CNN Indonesia/Yohannie Linggasari)
Jakarta, CNN Indonesia -- Batik sebagai gaya hidup. Filosofi inilah yang hendak disampaikan tim Iwan Tirta melalui Private Collection yang ditampilkan dalam Men's Fashion Show, Plaza Indonesia, Jakarta Pusat, Rabu (24/9). Batik tidak lagi dipandang kuno, tetapi menjadi bagian dunia fesyen kaum muda.

"Cara memakai batik menjadi sangat penting untuk membongkar paradigma bahwa batik itu kuno," kata Creative Director Iwan Tirta, Era Soekamto saat ditemui seusai pergelaran busana Iwan Tirta Private Collection. Ia mengatakan kemeja batik harus pas di badan, dengan kerah yang kaku dan agak besar. Dengan begitu, akan menciptakan tampilan yang lebih bergaya.

"Konsep Iwan Tirta Private Collection adalah menjadi out of the box tetapi juga inside the box. Kami tetap berusaha memberikan kreasi baru dengan batik, tetapi juga harus menjaga pakem yang ada," ujar desainer yang juga pendiri Indonesia International Fashion Institute pada 2004 ini. Ia mencontohkan batik kawung dan batik parang yang pengerjaannya tidak boleh melanggar pakem.


Ia berharap kaum muda tidak hanya mulai memakai batik, tetapi juga paham filosofi di baliknya. "Misalnya, mereka mengerti bahwa kawung adalah motif terlama yang bisa ditemukan di candi-candi. Arti kawung sendiri adalah cahaya di atas cahaya," kata Era. Baginya, batik mengisahkan cerita tentang hubungan manusia dengan Tuhan.

Warna terang dan batik prada masih menjadi ciri khas koleksi Iwan Tirta. Batik prada tampak lebih elegan dengan adanya torehan emas pada motif batik. “Selain itu, kami juga masih menampilkan warna coletan dan pesisir,” ujar perempuan berambut panjang ini. Ia menjelaskan proses pengerjaan Iwan Tirta Private Collection selama sembilan bulan.

"Proses pengerjaan satu kain itu enam bulan. Memang cukup lama mengingat koleksi kami semuanya merupakan batik tulis tangan," katanya. Ada 36 koleksi yang ditampilkan kali ini. Bukan hanya kemeja, tetapi juga menampilkan syal dan kain.

Batik tulis tersebut dikerjakan di atas kain katun berkualitas tinggi, sutra, organza dan linen. Adapun, motifnya terdiri dari rangkok, daun, bunga, kupu-kupu, dan lainnya.

Pembuatan batik Iwan Tirta dikerjakan oleh 600 perajin batik tulis yang berada di Jakarta dan Pekalongan. Beberapa di antaranya bahkan sudah berusia di atas 70 tahun.
"Kami bahkan tahu jadwal menstruasi para perajin perempuan. Kami sesuaikan dengan pekerjaan agar suasana hati mereka terjaga," ujar desainer yang telah menyelenggarakan lebih dari 200 pergelaran busana ini.

Batik pilihan kelas atas

Batik Iwan Tirta telah dikenakan sejumlah pemimpin, seperti Nelson Mandela, Ronald Reagan, dan Bill Clinton. Iwan Tirta juga pernah diminta mendesain busana batik untuk George W. Bush dan istrinya. Selain itu, koleksinya juga pernah ditampilkan dalam berbagai pergelaran busana, yaitu di Singapura, Tokyo, Sydney, Paris, Rio de Janeiro, dan New York.

Di Indonesia, batik karya desainer yang telah wafat itu juga digemari oleh kalangan atas. Sebanyak 80 persen target pemasarannya ditujukan bagi pria. "Sementara, sebanyak 60 persen target pasar kami adalah pejabat dan pengusaha," kata Era.

Adapun, harga satu kemeja batik bervariasi tergantung dari kesulitan pembuatannya. Ada yang seharga Rp 6 juta, tetapi ada pula yang mencapai Rp 15 juta.

Sebagai 'nakhoda' Iwan Tirta selepas kematian desainer tersebut, Era mengatakan akan terus melanjutkan filosofi-filosofi Iwan Tirta dalam karya-karyanya. Ia berpendapat perlu menjaga aturan-aturan dalam mendesain batik Iwan Tirta.

"Dulu saat di Urban Crew saya bebas berkreasi pada model pakaian pria. Kalau di Iwan Tirta tidak boleh sembarangan karena segmentasinya kalangan atas yang seringkali menggunakan koleksi kami untuk acara formal," katanya kemudian mengakhiri pembicaraan.

Maestro di Balik Batik yang Mendunia

Meski telah tiada sejak 2010 lalu, karya Iwan Tirta tetap berkontribusi dalam mempromosikan batik hingga kini. Iwan lahir di Blora, 18 April 1935. Ia merupakan lulusan London School of Economics dan Yale Law School.

Kecintaannya pada batik dimulai saat ia mengadakan riset seputar tarian di Susuhunan, Surakarta. Ia mulai mengenali kain Jawa dan minatnya semakin berkembang. Apalagi, ibunya juga mengoleksi kain batik terbaik di Indonesia.

Iwan kemudian menyadari pentingnya mendokumentasikan batik. Ia mengambil tanggung jawab mendokumentasikan evolusi batik sampai menghabiskan waktu berminggu-minggu di museum serta desa demi menelusuri asal-usul dan perkembangan batik.

Pada tahun 1966, ia menyelesaikan buku tentang batik yang berisikan pola dan motif batik dengan aspek sejarah dan sosiologi. Ia kemudian mengubah pola-pola batik yang biasa digunakan kerajaan menjadi lebih modern dan unik. Desainnya telah berhasil masuk ke halaman majalah internasional, seperti Vogue, Harper's Bazaar, Architecture's Digest, New York Times, Asia Weeks, dan National Geographic.

Berbagai penghargaan juga telah ia raih. Pada Maret 1982, saat ulang tahun yang ke-46, Iwan diberi gelar oleh K.G.P.A.A Mangkunegoro VIII dari Solo. Ia juga menerima penghargaan Upakarti dari Soeharto pada 1990 serta Anugerah Kebudayaan dari Susilo Bambang Yudhoyono pada 2004.