Menikmati Makanan Rumahan di Warung Pelataran Mal

Tri Wahyuni, CNN Indonesia | Sabtu, 24/01/2015 17:45 WIB
Menikmati Makanan Rumahan di Warung Pelataran Mal Suasana warung lesehan di Blok M Square (CNN Indonesia/Tri Wahyuni)
Jakarta, CNN Indonesia -- Ada yang berbeda di pelataran Blok M Square menjelang pukul 18.30. Pelataran yang tadinya kosong, tiba-tiba terlihat orang seperti sedang mempersiapkan diri untuk membuat sesuatu.

Makanan di Warung Lesehan Ibu Gendut (CNN Indonesia/Tri Wahyuni)
Tikar pun mulai digelar. Meja-meja pendek mulai disusun. Begitu juga dengan makanan. Satu per satu makanan pun mulai di tata di atas meja besar yang telah disiapkan. Ternyata sedari tadi mereka ingin menggelar dagangannya, dengan membuka warung lesehan di pelataran Blok M Square. Tidak hanya satu, ada beberapa warung lesehan di sini.

Belum juga selesai berberes dan 'membuka' warungnya, beberapa pengunjung sudah berdatangan. Mereka tak sabar ingin membeli lauk dan membawanya pulang untuk disantap di rumah.


Usai para pedagang selesai menggelar warung lesehannya, saya pun memilih salah satu warung untuk mencoba makanannya. Berbagai lauk dan sayur yang tersusun rapi di atas meja, seolah menggugah selera setiap orang yang melintas, termasuk saya.

Akhirnya saya menjatuhkan pilihan pada satu warung di sudut bernama Warung Lesehan Ibu Gendut. Lebih dari 20 macam masakan tersaji di warung ini, mulai dari rendang, ayam goreng, gulai ikan, kikil, urap, gudeg, sampai sate usus, sate telur, dan masih banyak lagi dihidangkan oleh Ibu Gendut, panggilan untuk pemilik warung yang sekaligus dijadikan nama warung ini.

Makanan di Warung Lesehan Ibu Gendut (CNN Indonesia/Tri Wahyuni)
Di sini, pramusaji akan memberikan Anda sepiring nasi, kemudian Anda bebas memilih lauk dan sayur mana saja yang ingin Anda makan. Anda pun bisa meminta pramusaji untuk mengambilkannya. Setelah itu, Anda membawa makanan Anda ke seseorang, yang entah disebut apa, yang mencatatkan jumlah tagihan Anda dalam selembar kertas buram.

Saat itu saya memesan tumis cumi, urap, dan gudeg, dengan segelas es teh manis. Saya pun menerima lembaran kertas yang bertuliskan angka 31 di dalamnya. Ketika itu saya tidak tahu guna kertas ini, tapi ternyata kertas ini digunakan untuk membayar di kasir nantinya, untuk memudahkan.

Setelah memilih tempat duduk lesehan, saya pun mulai menyantap makanan saya. Semilir terpa angin malam diramaikan dengan alunan musik dari toko yang Anda di mal, mengiringi prosesi makan saya.

Setelah saya mencicipi, rasa makanan di warung lesehan ini enak. Semua makanan rasanya pas. Seperti layaknya makan di teras rumah sendiri.

Namun, memang, harga makanan di sini cukup mahal. Nasinya saja dihargai Rp 5 ribu, seekor ayam Rp 15 ribu, bahkan satu ekor cumi besar bisa mencapai Rp 40 ribu. Walaupun makanannya merakyat, tapi harganya cukup membuat terbelalak jika dibandingkan warteg biasa.

Tapi, makanan di sini semuanya segar dan baru di masak pagi hari. Ibu Gendut mengatakan ia memasak sejak pukul 7 pagi. Semua makanannya ia boyong ke tempat jualan dengan menggunakan mobil panther.

Warung yang buka sejak pukul 18.30 sampai pukul 02.00 ini pun makanannya selalu habis, bahkan sebelum jam dua pun sudah habis.

(mer/mer)