Saluran Cerna yang Sehat Buat Anak Jadi Pandai

Tri Wahyuni, CNN Indonesia | Senin, 16/03/2015 17:15 WIB
Saluran Cerna yang Sehat Buat Anak Jadi Pandai ilustrasi anak (John Morgan/Flickr)
Jakarta, CNN Indonesia -- Mempunyai anak yang cerdas dan berperilaku baik merupakan dambaan setiap orang tua. Selain aspek pendidikan, aspek lainnya seperti psikologis dan kesehatan ternyata sangat berpengaruh untuk mencetak anak yang cerdas.

Masa krusial pertumbuhan anak terjadi ketika usianya mencapai dua tahun. Saat itulah otaknya sedang terbentuk. Dan faktanya, proses terbentuknya otak pun ternyata dipengaruhi kesehatan saluran pencernaan.

Para ahli percaya bahwa antara saluran pencernaan dan otak terjadi komunikasi dua arah. Di dalam saluran cerna terdapat sito anatomi dan mikrobiota sedangkan dalam otak terdapat sito anatomi dan signaling.


"Mikrobiota pada anak begitu banyak jenisnya. Mikrobiota itu mengeluarkan berbagai hormon masing-masing dan hormon itu secara sendiri-sendiri memberikan sinyal ke otak," kata dokter spesialis anak, Ahmad Suryawan, dalam acara talkshow bertajuk Saluran Cerna Sehat, Bekal Anak Cerdas yang diselenggarakan di Mandarin Oriental Hotel, Jakarta, Senin (16/3).

Mikrobiota pada saluran pencernaan terdiri dari bakteri baik, seperti prebiotik dan Lactobacilus reuteri dan masih banyak lagi. Bakteri baik ini akan berperan dalam membantu kinerja saluran cerna, terutama usus, agar proses pencernaan dan penyerapan gizi berjalan maksimal.

Signaling atau pemberi sinyal pada otak diindikasikan akan memicu perkembangan sirkuit pada otak anak. Sirkuit pada otak berfungsi untuk memaksimalkan fungsi otak sehingga semua komponennya bisa bekerja harmonis dan mendukung tumbuh kembang anak dengan sempurna.

Oleh sebab itu gangguan pencernaan yang terjadi pada masa kanak-kanak, umumnya di bawah usia dua tahun, akan lebih membahayakan ketimbang  ketika dewasa.

"Saluran cerna yang tidak benar kalau itu terjadi di usia anak, gangguan signaling yang sedang terbentuk juga mempengaruhi pembentukan sirkuit otak," ujar dokter yang akrab disapa Wawan ini.

Sementara itu, otak pun melakukan komunikasi pada saluran cerna. "Otak bisa mempengaruhi saluran cerna dan hormon. Makanya kalau stres, saluran cernanya yang kena. Perut jadi sakit," kata Wawan menjelaskan. Inilah yang disebut komunikasi dua arah atau gut brain axis. "Bukan cuma gut dan brain tapi dari gut ke brain dan sebaliknya."

Bukti adanya hubungan saluran pencernaan dan pembentukan sirkuit otak ini ternyata telah dilakukan pada seekor tikus.

Wawan menjelaskan, beberapa peneliti mencoba merekayasa saluran cerna pada tikus. Mereka membersihkan mikrobiota yang ada di dalam usus hingga tak bersisa. "Ternyata tikus yang saluran pencernaannya tidak ada mikrobiotanya jauh lebih stres," ucapnya.

Kemudian, para peneliti merekayasa lagi saluran cerna tikus-tikus tersebut dengan berbagai mikrobiota.

"Ternyata tikus yang saluran cernanya terganggu tadi jadi normal (perilakunya). Padahal otaknya tidak diobati tapi saluran cernanya," ujar Wawan menjelaskan. (chs/utw)