Cara Tubuh Merespons Perubahan Cuaca

Tri Wahyuni, CNN Indonesia | Jumat, 10/04/2015 19:22 WIB
Cara Tubuh Merespons Perubahan Cuaca Ilustrasi demam dan daya tahan tubuh. (Thinkstock/Marcel Braendli)
Jakarta, CNN Indonesia -- Selama ini cuaca dingin cenderung diasosiasikan sebagai penyebab pilek dan batuk, serta cuaca panas dengan dehidrasi dan sengatan panas. Tapi, sebenarnya, efek cuaca terhadap kesehatan jauh melampaui itu.

Orang yang merasakan pegal pada sendinya ternyata bisa tahu kapan bahwa sebentar lagi akan hujan. Hal ini disebabkan mereka bisa merasakannya dengan tulang mereka. Bagaimana bisa?

Ternyata sakit yang dirasakan dalam tubuh tidak hanya disebabkan virus, bakteri, atau hal lainnya. Melainkan juga adanya perubahan cuaca atau udara. Dilansir dari Health Me Up, berikut beberapa penyakit yang timbul karena perubahan cuaca.


1. Sakit kepala
Sakit kepala dan migrain terjadi ketika tekanan udara turun atau tingkat kelembapan tiba-tiba meningkat. Buktinya, orang-orang yang tinggal di iklim yang stabil kurang rentan terhadap migrain. Sedangkan mereka yang tinggal di tempat yang cuacanya tak menentu lebih rentan terkena migrain.

Selain perubahan cuaca ekstrem, migrain juga bisa disebabkan oleh musim panas juga dapat memicu migrain. Hal ini disebabkan adanya peningkatan paparan cahaya terang.

2. Alergi
Orang yang alergi terhadap serbuk sari bunga memiliki hari-hari yang sulit di musim panas. Pasalnya, serbuk sari yang terbang di udara akan membuat hidung meler, bersin dan mata berair.

Bagi orang-orang yang alergi terhadap debu, cuaca panas dapat memiliki efek yang sama. Perubahan suhu yang mendadak juga bisa memicu alergi.

3. Tekanan darah
Kebanyakan orang tidak menyadari hal ini, tapi cuaca memiliki efek yang luar biasa pada tekanan darah. Semakin dingin, pembuluh darah Anda menyempit dan volume darah yang sama harus melewati ruang yang lebih kecil. Inilah yang menyebabkan tekanan darah meningkat.

4. Pilek dan flu
Ternyata pilek tidak benar-benar disebabkan oleh udara dingin. Pilek cenderung terjadi lebih sering pada musim dingin karena kurangnya kelembapan yang menyebabkan lapisan lendir di hidung Anda mengering. Hal ini akan membuat Anda lebih rentan terhadap virus.

Sementara itu, perubahan suhu yang mendadak juga bisa menyebabkan pilek atau flu. Sebab perubahan suhu melemahkan sistem kekebalan tubuh Anda.

5. Kesehatan mental
Musim dingin atau musim hujan dengan curah yang yang tinggi dapat menyebabkan terjadinya gangguan musiman atau seasonal affected disorder (SAD). Sindrom ini merupakan jenis depresi. Penelitian juga menemukan bahwa tingkat bunuh diri cenderung memuncak pada awal musim panas.

6. Nyeri sendi
Perubahan tekanan udara mendadak, yang biasanya terjadi sebelum badai, dapat menyebabkan nyeri pada pergelangan tangan, jari, pergelangan kaki, lutut dan pinggul. Cuaca dingin juga menyebabkan cairan sendi menebal, menyebabkan kekakuan dan nyeri pada sendi.

7. Kesehatan jantung
Cuaca dingin memiliki efek buruk pada kesehatan jantung. Sebuah studi menemukan bahwa penurunan suhu sebanyak 5 °C menyebabkan peningkatan sebesar 7 persen pada  jumlah penderita stroke dan 12 persen pada jumlah kasus serangan jantung di seluruh dunia.

8. Gula darah
Orang yang diabetes mungkin harus melakukan kontrol lebih pada gula darah mereka selama musim dingin. Sebab, tekanan udara lebih rendah menyebabkan darah menjadi lebih kental.

9. Kondisi pernapasan
Musim panas dan hujan bisa membuat udara jadi cukup lembap. Udara yang lembap membuat sulit bernapas, terutama bagi orang-orang yang memiliki gangguan pernapasan. Orang dengan menderita sinus juga dipengaruhi oleh cuaca, karena perubahan tekanan udara memengaruhi sinus akut mereka.

(utw/utw)