Yang Terjadi di Sendi Ketika Seseorang Meretakkan Jarinya

Windratie, CNN Indonesia | Kamis, 16/04/2015 15:34 WIB
Yang Terjadi di Sendi Ketika Seseorang Meretakkan Jarinya Sekelompok peneliti melihat apa yang terjadi pada sendi saat seseorang meretakkan buku jarinya. (Thinkstock/Purestock)
Jakarta, CNN Indonesia -- Misteri tentang apa yang terjadi ketika seseorang meretakkan buku jari terpecahkan. Ini berkat tes sederhana 'pull my finger' atau 'tarik jari saya' yang dilakukan para peneliti di Inggris, seperti dilansir laman Independent.

Dalam studi baru yang diterbitkan oleh Universitas Alberta, tim peneliti menggunakan video MRI untuk meneliti apa yang terjadi di dalam sendi jari saat terdengar bunyi 'pop'. Mereka mengamati, suara disebabkan oleh pembentukan rongga secara cepat di dalam sendi saat ditarik.

“Kami menyebutnya 'penelitian tarik jari', dan benar-benar menarik jari seseorang dan memfilmkan apa yang terjadi di MRI,” kata Greg Kawchuk. Peneliti Inggris percaya, gelembung uap terbentuk di sendi sehingga menyebabkan suara. Namun, gagasan tersebut diragukan pada 1970-an oleh teori tandingan gelembung yang runtuh.


Menempatkan kebiasaan meretakkan jari ke dalam pembuluh yang perlahan-lahan menarik buku-buku jari ke luar, para peneliti menangkap momen retak, yang terjadi dalam waktu kurang dari 310 milidetik.

Menggunakan gerak lambat video, kelompok tersebut mampu melihat apa yang terjadi di dalam sendi. Dalam setiap contoh, meretakkan dan memisahkan sendi diasosiasikan dengan penciptaan secara cepat rongga diisi gas di dalam cairan sinovial, zat alami yang melumasi sendi.

“Sedikitnya ini seperti membentuk ruang hampa,” kata Kawchuk, ahli struktur dan fungsi tulang belakang. “Ketika permukaan sendi tiba-tiba terpisah, tidak ada lagi cairan yang tersedia untuk mengisi volume sendi meningkat, sehingga rongga tercipta, dan peristiwa tersebut dihubungkan dengan suara.”

Lebih dari sekedar menyelesaikan keingintahuan ilmiah, temuan tersebut membawa peneliti lebih dekat untuk menentukan apakah kemampuan meretakkan sendi adalah bawaan dan sehat tidaknya kebiasaan ini.

Namun, para peneliti masih belum jelas, mengapa hanya beberapa orang yang dapat meretakkan sendi mereka sesuai keinginan.

“Apakah ini soal mempelajari keterampilan seperti bersiul, atau apakah beberapa sendiri bisa melakukannya sementara sendi yang lain tidak mampu? Menjawab pertanyaan ini membantu kita untuk memahami bagaimana cara kerja sendi, baik saat mereka sehat ataupun saat sedang bermasalah, kata Kawchuck.

“Kita bisa menggunakan penemuan ini untuk melihat ketika masalah sendi sebelum gejala mulai.”


(win/mer)