Mengintip Kafe Tempat Para Intelijen Bisa Tetap Anonim

Utami Widowati, CNN Indonesia | Minggu, 19/04/2015 15:07 WIB
Mengintip Kafe Tempat Para Intelijen Bisa Tetap Anonim Lobi gedung CIA. (REUTERS/Larry Downing)
Jakarta, CNN Indonesia -- Di sejumlah kafe kita bisa memesan di meja, lalu pramusaji datang untuk mengambil pesanan atau mengantarkan pesanan. Tapi ada cara yang berlaku sama diseluruh gerai kafe Starbucks di dunia. Para barista akan menanyakan nama Anda dan menuliskannya di cangkir Anda. Lalu mereka akan memanggil nama Anda ketika pesanan selesai.  Para penyelia gerai kopi ini awalnya berpandangan  bahwa ide itu tak berisiko selain menghindari antrian panjang atau  kesalahan pemesanan.

Tapi ternyata cara itu sama sekali tak bisa diterapkan di gerai mereka yang satu ini. Karena pelanggan di gerai satu ini bukan orang sembarangan. Mereka adalah anggota CIA, lembaga intelijen di Amerika Serikat.

“Mereka bisa menggunakan nama samaran apa saja sebenarnya. Tapi cara ini akan sangat tidak nyaman katakanlah buat para agen dalam penyamaran. Hal itu tak bisa dilakukan di tempat ini,” kata seorang petugas penyedia jasa makanan di Central Intelligence Agency (CIA) yang tak ingin disebut identitasnya demi alasan keamanan.


Penulisan nama atau pemanggilan nama di gerai kafe di markas CIA di Langley, Virginia ini adalah pantangan. Akibatnya tanpa sistem penamaan antrian seringkali tak terhindarkan. Para pegawai gerai itu kafe ini sebagai Stealthy Starbucks, ada pula yang menyebutnya sebagai Store Number 1.

Hanya di gerai ini tak diberlakukan kartu pelanggan dan berbagai hadiah yang bisa didapatkan di gerai lain. Pasalnya para petugas khawatir kartu yang sama tak sengaja di gunakan di gerai lain dan jatuh ke tangan yang salah.

Namun seperti dikutip  Independent dari The Washington Post, ini adalah gerai paling sibuk di Amerika dengan ribuan pelanggannya. Mereka adalah para analis dan agen, ekonom dan insinyur, ahli geografi dan kartografi, yang menyelidiki kondisi di seluruh dunia dalam kerahasiaan.

“Tentu saja,” kata seorang petugas, “kami rata-rata adalah tipe pribadi pecandu kafein.”  Pada jam kerja sedikit saja orang yang mau meninggalkan meja kerja untuk membeli kopi. Baru pada pagi dan siang hari antrian di gerai ini membludak.  

Menurut cerita-cerita yang beredar di kalangan pegawai agensi itu, seorang petinggi pernah terganggu dengan ,dan waktu yang dihabiskan pegawai di antrian yang mengular itu. Sang petinggi lalu mendekati salah satu pegawai dari belakang dan menyapanya, “Apa yang sudah kau lakukan untuk negaramu hari ini?”

Kafe di dalam gedung berpengaman paling tinggi ini tak berbeda bentuknya dengan gerai lain. Ada kursi-kursi kayu, meja, kue-kue blueberry dan raspberry di rak kaca, dan lagu-lagu rock progresif berkumandang dari speaker. Namun sang manager gerai mengatakan kafe itu punya misi spesial. Yakni untuk memanusiakan lingkungan kerja pegawai yang bekerja di bawah tekanan tinggi. Tak jarang mereka harus bekerja di kantor tanpa jendela atau tak bisa menggunakan ponsel mereka saat waktu luang. Demi keamanan mereka harus meninggalkan ponsel di mobil.  

“Budaya kopi sangat kental di dunia militer, dan banyak orang CIA yang berasal dari budaya itu,”Vince Houghton, ahli dunia intelijen dan kurator di International Spy Museum.


Kafe itu juga didekorasi dengan poster kopi asal Kenya yang terkenal itu. Sementara tak jarang sang penyelia mendengar beberapa pelanggan bicara dengan berbagai bahasa yang berbeda mulai dari Jerman hingga bahasa Arab. Kedai kopi itu juga pernah dijadikan tempat banyak wawancara untuk pencarian agen yang ingin bergabung dengan CIA. “Kopi tampaknya minuman yang cocok dengan pembicaraan itu,” kata salah seorang pegawai.

Misalnya kepala tim yang membantu menemukan Osama bin Laden, contohnya, merekrut anggotanya sembari ngopi di tempat ini, kata pegawai lain yang tak bisa disebut namanya.

Seorang agen wanita mengatakan sangat jarang bisa bertemu dengan teman semasa SMA atau kuliah di antrian kafe ini. Hingga saat inipun dia tak tahu punya teman yang bekerja di tempat yang sama. Pertemuan yang tak disengaja sangat tidak lumrah terjadi. “Karena bekerja ditempat ini bukan sesuatu yang dengan  santai bisa diceritakan lewat email atau Facebook,” katanya.

Normalnya, sepanjang hari, minuman paling laris adalah vanilla latte dan lemon pound-cake. Namun buat petugas yang lembur malam hari, baik karena krisis atau harus menghadapi orang di bagian dunia dengan zona waktu berbeda, double espressos dan Frappuccinos yang kaya gula sangat populer.

“Budaya kopi sangat kental di dunia militer, dan banyak orang CIA yang berasal dari budaya itu,” kata Vince Houghton, ahli dunia intelijen dan kurator di International Spy Museum.

“Mitos urban menyebut Starbucks CIA adalah kafe tersibuk di dunia dan itu masuk akal buat saya. Ini adalah populasi di mana setiap orang harus waspada dan menghabiskan banyak waktu untuk mengerjakan banyak dokumen. Jika satu kata saja lepas dari penelitian mereka, bisa jadi ada orang yang bakal mati.”

Sembilan barista yang bekerja di tempat itu secara berkala mendapat pembekalan tentang risiko keamanan. “Kami mengatakan jika ada orang yang tiba-tiba tertarik akan di mana mereka bekerja dan bertanya terlalu banyak, maka mereka harus menceritakannya pada kami,” kata penyelia di kedai kopi itu.

Seorang barista perempuan yang harus berangkat dari Washington DC sebelum matahari terbit untuk bekerja di gerai kopi ini mengatakan sebenarnya melamar kerja untuk sebuah perusahaan katering yang jadi penyedia jasa gedung-gedung federal di daerah itu. Sehingga dia tak pernah tahu kalau akhirnya harus bertugas di Langley. Perempuan berusia 27 tahun itu mengatakan harus menjalani pemeriksaan yang luar biasa ketat. Mereka juga harus dikawat oleh petugas saat ingin meninggalkan arena kerja mereka. “Bukan sekadar pemeriksaan pengalaman kerja,” katanya.  

Pada hari pertama dia mulai bertugas di Langley, dia sempat memasang GPS untuk mencari lokasi kerjanya yang baru, tapi tak satupun pertanda yang muncul. Dia mencoba menghubungi atasannya  untuk mendapat penjelasan. “Tahu-tahu saya sudah bekerja di Starbucks di CIA,” katanya.

Yang menyedihkan dia tak bisa bercerita tentang tempat kerjanya pada teman-temannya.”Paling yang bisa saya katakan adalah saya bekerja di kafe salah satu gedung pemerintahan.”

Dia mengatakan dia mulai mengenali wajah para pelanggannya dan selera kopi mereka. “Pria itu suka karamel-macchiato, dan wanita itu suka iced white mocca,” katanya. “Tapi saya tak tahu pekerjaan mereka,” kata sang barista sambil mengencangkan apron yang serasi dengan topinya. “Saya hanya tahu mereka membutuhkan kopi, banyak kopi.” (utw/utw)