Kenapa Indonesia Tidak Boleh Protes Rendang Diklaim Malaysia?

Windratie, CNN Indonesia | Jumat, 24/04/2015 10:24 WIB
Kenapa Indonesia Tidak Boleh Protes Rendang Diklaim Malaysia? Rendang, masakan khas Indonesia yang kerap menjadi polemik diperebutkan antara Indonesia dan Malaysia. (Getty Images/ Thinkstock/zkruger)
Jakarta, CNN Indonesia -- Jika membahas tentang warisan kuliner, penduduk Indonesia sempat terbakar oleh rasa nasionalisme saat beberapa masakan Nasional diklaim sebagai masakan asli Malaysia.

Polemik rendang, misalnya, yang sempat membuat hubungan kedua negara serumpun ini merenggang. Termasuk juga Lumpia Semarang, yang juga diakui Malaysia sebagai masakan tradisional negaranya.

Protes dalam sebuah aksi damai digelar di Kedutaan Besar Malaysia. Di situ orang Indonesia ramai-ramai berjuang mempertahankan penganan khas Semarang itu.


Sebetulnya, sebelum kita sendiri sebagai anak Indonesia, maju memprotes produk yang kita akui sebagai milik Bangsa, apa yang bisa kita lakukan untuk melestarikannya?

Pemerhati warisan kuliner Nusantara Bondan Winarno mengatakan, dia sendiri tidak habis pikir betapa mudahnya orang-orang Indonesia marah untuk urusan tersebut.

“Lucunya orang-orang kita gampang marah. Kalau rendang disebut sebagai masakan Malaysia marah. Saya bilang, 'jangan marah kalau kamu sendiri enggak pernah makan rendang,” kata Bondan saat ditemui di peresmian sebuah pusat kuliner di Pondok Cabe, Tangerang Selatan, Kamis (23/4).

“Kamu sendiri kalau pergi ke luar negeri oleh-olehnya apa, enggak bawa rendang bawanya malah donat (menyebut merek donat waralaba dari luar negri). Yang ditenteng bukan rendang Padang, jadah manten dari Yogya. Itu karena kita sendiri enggak bangga,” kata Bondan melanjutkan.

Kita tidak memakai masakan Indonesia sebagai pusat dari kehidupan sehari-hari, ujarnya. Bondan bercerita tentang kejadian di negara tetangga Indonesia, Singapura, tentang penghargaan pemerintah dalam melestarikan kuliner bangsa.

“Di Singapura, pemerintahnya sadar bahwa kalau mereka tidak melakukan sesuatu, masakan pinggir jalan akan tergusur, akan hilang. Karena itu pemerintahnya memberikan subsidi yang luar biasa,” ucap Bondan.

Pemerintah Negeri Merlion tersebut bahkan membangun sekolah khusus untuk mempelajari masakan tradisionalnya. “Siapa yang belajar di situ dikasih subsidi 90 persen. Maksudnya apa? Supaya banyak yang belajar, dan supaya resep-resep tradisional mereka tetap di jaga.”

Menurutnya, kita jangan hanya menyediakan makanan. “Kalau menyediakan makanan pergi ke mal juga banyak. Tapi, konsepnya seharusnya destinasi wisata.”

Di Indonesia, Bondan berkata, wisata yang paling siap sebetulnya adalah kuliner. Dia memberikan contoh, “Kalau Anda mau ke Semarang, destinasi wisatanya apa sih? Gedung Batu, jauh panas. Lawang Sewu, banyak setannya ngapain,” ujarnya sambil berguyon.

“Tapi kalau Anda saya kasih daftar makanan Semarang yang maknyus semua, saya jamin tiga hari tiga malam Anda sudah kekenyangan, padahal daftarnya masih belum selesai. Nah itu terjadi di banyak kota di Indonesia.”

Contoh nyata makanan tradisional mulai tergusur di tanah kelahirannya sendiri adalah makanan Betawi. Bondan bertanya, “Mau makan makanan betawi di Jakarta Pusat, siapa yang bisa tunjukkan? Enggak ada kan. Artinya, di Jakarta Pusat makanan Betawi sudah terpinggirkan.

“Kita tanya lagi, di Jakarta Timur ada  enggak? Ada, tapi sudah masuk pinggiran Ragunan, Jagakarsa, Srengseng Sawah. Jakarta Selatan ada enggak? Ada tapi lagi-lagi tempatnya di pinggiran, salah satu yang terbaik di Pondok Cabe.”

Dari situ kita bisa melihat, bahwa jika tidak ada upaya, maka semua masakan Indonesia akan terpinggirkan, ujar Bondan.


(win/mer)