Ke Mana '30 Ikon Kuliner Tradisional Indonesia' Sekarang?

Windratie, CNN Indonesia | Jumat, 24/04/2015 13:05 WIB
Ke Mana '30 Ikon Kuliner Tradisional Indonesia' Sekarang? Untuk melestarikan warisan kuliner Indonesia, salah satu upaya yang dilakukan oleh pemerintah Indonesia adalah dengan mencanangkan '30 Ikon kuliner Indonesia, salah satunya Lunpia Semarang. (Getty Images/ Paul_Brighton/Thinkstock)
Jakarta, CNN Indonesia -- Untuk melestarikan warisan kuliner Indonesia, salah satu upaya yang dilakukan oleh pemerintah Indonesia adalah dengan mencanangkan '30 Ikon kuliner Indonesia'.

Upaya ini dilakukan pada periode pemerintahan di bawah kepimpinan Marie Elka Pangestu, saat itu Kementrian Pariwisata masih bernama Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif.

Namun, menurut pemerhati kuliner Indonesia Bondan Winarno, upaya pelestarian kuliner Indonesia tersebut sekarang menjadi tidak jelas. 


“Itu satu usaha untuk mempromosikan masakan Indonesia. Dan mohon maaf angka 30 itu angka pertama, jadi bukan berarti kita hanya berhenti di situ. Tapi sayangnya sekarang, kuliner itu tidak masuk di mana-mana,” kata Bondan yang menegaskan bahwa ada lebih dari 30 warisan kuliner di Indonesia.

“Cari-cari masuk (kementerian) pariwisata sudah enggak ada lagi mandatnya, perdagangan juga enggak ada. Katanya mau masuk badan ekonomi kreatif yang sampai sekarang juga belum jelas.”

Jika dihitung, sudah jauh lebih dari 30 ikon kuliner yang ada di Indonesia, kata Bondan. “Sudah banyak sekali ikon kuliner daerah yang harusnya kita usulkan lagi.”

Jika kita pergi ke daerah-daerah, akan banyak sekali makanan asli Indonesia dijumpai. Misalnya, makanan akar kelapa asli Betawi yang jejaknya lambat-laun menghilang.

“Kita tahunya paling kembang goyang, kerak telor, padahal kue jajanan Jakarta itu luar biasa hebatnya, termasuk bir pletok,” kata Bondan saat ditemui di peresmian sebuah pusat kuliner di Pondok Cabe, Tangerang Selatan, Kamis (23/4).

Dari Sabang sampai Merauke, masakan tradisional Indonesia tersebar. Sayangnya, orang Indonesia sendiri tidak pernah melakukan apa-apa terhadap makanan asli bangsanya, ujar Bondan.  

“Saya katakan pada orang pemerintah, 'kamu enggak usah ikut-ikutan bangga deh bahwa CNNGO itu memilih rendang sebagai makanan terenak di dunia. What have you done?” ucap Bondan.   

“Kamu sudah melakukan apa untuk rendang? Nol. Bahkan ngomong pun enggak kok, jadi kita tuh bejo (bahasa Jawa: beruntung) untung kepilih, tapi kita tidak melakukan apa pun untuk mempromosikan makanan Indonesia. Jadi itu saya sebalnya di situ.”

Pemerintah Indonesia sendiri semestinya tidak perlu malu belajar dari negara lain. Bondan bercerita, di Malaysia, setiap ulang tahun kemerdekaan mereka mencanangkan warisan nasional Malaysia yang baru.

“Jadi sekarang ini jumlahnya saya kira sudah ada 400-an, dimulai dari 50 yang pertama, 50 itu rendang sudah masuk.”

Tidak cuma kuliner, warisan budaya lain seperti pakaian nasional, lagu kebangsaan, semuanya diakui dan dicatat. “Dia enggak salah menyebut rendang sebagai kekayaan Malaysia, karena setiap tahun baru orang Malaysia memang makan rendang.”

Orang Indonesia sendiri, kata Bondan, yang justru tidak mengerti tentang budaya kulinernya.

“Lihat dong rendang Kota Bharu kaya apa? Itu bukan rendang, itu kalio. Tapi kenapa kita sendiri enggak pernah mengatakan yang namanya rendang Indonesia itu harus caramelize, sudah terjadi karemelisasi.”

Rendang adalah kuliner yang prosesnya yaitu dengan memasak gulai sapi sampai pada tahapan tertentu. Gulai sapi dimasak sampai menjadi tahap menjadi kalio. Pada tahap ini, kalio terus dimasak sampai terkaramelisasi, maka jadilah rendang, Bondan menjelaskan.

Sayangnya pemerintah sendiri tidak pernah melakukan penjelasan tentang rendang Indonesia tersebut.



(win/mer)