'Kuliner Daging Anjing, Cukuplah Tercatat dalam Sejarah'

Windratie, CNN Indonesia | Jumat, 24/04/2015 16:30 WIB
'Kuliner Daging Anjing, Cukuplah Tercatat dalam Sejarah' Seruan menentang perdagangan anjing untuk konsumsi di Indonesia rupanya tak hanya datang dari para aktivis pecinta hewan, pakar kuliner Nusantara juga tidak menyetujui hal tersebut. (CNN Indonesia internet/ noragomez82/Pixabay)
Jakarta, CNN Indonesia -- Beberapa waktu yang lalu menguak isu tentang perdagangan anjing untuk dikonsumsi. Perdagangan anjing untuk konsumsi di berbagai kota di Indonesia memang kian marak.

Laman change.org mengeluarkan data mengejutkan. Di situ tertera, di Yogyakarta saja diperkirakan 360 ekor anjing dibunuh setiap minggunya.

Sementara, di Manado dan Sumatera Utara, di mana anjing dianggap sebagai makanan yang lezat jika dikalkulasikan dalam satu minggu secara total ada 3600 anjing dibunuh secara kejam, berdasarkan change.org.


Belum lagi berbicara tentang data dari Jakarta, Manado, dan Yogyakarta. “Jika dijumlahkan semua, didapat angka 4680 anjing per minggu, 18.720 per bulan dan 224.640 per tahun.....Dan jangan lupa estimasi tersebut hanya di 4 daerah saja di Indonesia,” kata laman tersebut mengungkapkan.

Mengonsumsi daging anjing di beberapa tempat di Indonesia adalah tradisi kuliner, seperti halnya pada masyarakat Manado, Sulawesi Utara.

RW, singkatan dari rintek wuuk  (dalam bahasa Manado artinya bulu halus) adalah makanan dengan bahan dasar daging anjing yang jadi makanan wajib setiap kali perhelatan pesta pernikahan di Sulawesi Utara.

Seruan menentang perdagangan anjing untuk konsumsi di Indonesia rupanya tak hanya datang dari para aktivis pecinta hewan, pakar kuliner Nusantara juga tidak menyetujui hal tersebut.

Bondan Winarno, pemerhati warisan kuliner Nusantara, mengatakan bahwa Manado adalah salah satu provinsi dengan kualitas makanan yang luar biasa.

“Dan kalau kita mau betul-betul serius, makanan Manado yang dibuat bahannya ikan dan bahannya ayam itu sudah sangat enak, lalu mengapa kita cari protein yang aneh-aneh itu,” kata Bondan saat ditemui di peresmian sebuah pusat kuliner di Pondok Cabe, Tangerang Selatan.

“Kalau mau ada yang enggak halal silahkan, tapi yang seperti anjing segala macam itu oke deh lupakan saja. Masih banyak makanan Manado lain yang jauh lebih enak dari itu.”

Meskipun tradisi menyantap hidangan dari daging anjing sudah sejak lama dilakukan nenek moyang mereka, cukuplah itu tercatat dalam sejarah, kata Bondan.

“Bahwa itu adalah bagian dari pusaka kuliner mereka, tapi enggak usah kita ikut-ikutan mengonsumsinya.”

Salah satu negara dengan perdagangan daging anjing terbesar adalah Korea Selatan. Bahkan di Korea saja makan daging anjing sudah dilarang oleh pemerintah. Artinya, dilarang diperjualbelikan di tempat umum, ucap Bondan.

“Masih ingat waktu Olimpiade di Korea Selatan belum lama ini, itu pemerintah Korea Selatan dengan tegas menyatakan, tidak boleh ada restoran yang menyajikan daging anjing. Karena mereka memang tidak mau jadi masalah,” ucapnya.

Menurut change.org, penelusuran tentang perlakukan kejam terhadap anjing dilakukan oleh Jakarta Animal Aid Network dan Animal Firends Yogja. Investigasi bisnis anjing ini dilakukan di DIY, Solo, Jakarta, Bandung, Medan, Manado, dan Bali.

Masyarakat sekitar diwawancara, beberapa fakta tidak berperikemanusiaan ditemukan. Di antaranya, transportasi ilegal puluhan anjing-anjing untuk dikonsumsi dari Pangandaran, Jawa Barat ke wilayah DIY  dan Solo yang lepas dari pengawasan Dinas Peternakan dan instansi terkait lain. Padahal, risiko rabies sangat besar.

Selain itu, anjing-anjing juga ditangkap, dicuri, diangkut, disekap, dan dibantai dengan kejam tanpa standar higienis dan tidak sesuai dengan undang-undang tentang kesejahteraan hewan.


(win/mer)