Cerita Delegasi KAA di Balik Meriahnya Festival of Nations

Nadi Tirta Pradesha, CNN Indonesia | Senin, 27/04/2015 15:53 WIB
Cerita Delegasi KAA di Balik Meriahnya Festival of Nations Peserta parade asal India mengikuti Karnaval Asia Afrika di jalan Asia Afrika, Bandung, Jawa Barat, Sabtu (25/4). Parade berkaitan rangkaian Peringatan ke-60 Tahun Konferensi Asia Afrika diikuti sejumlah negara peserta dengan menampilkan budaya dan pakaian tradisional masing-masing negara. (ANTARA FOTO/M Agung Rajasa)
Bandung, CNN Indonesia -- Usai sudah rangkaian acara kebudayaan yang mengiringi perhelatan Konferensi Asia Afrika. Gelaran bertingkat internasional tersebut tentu menyisakan pengalaman unik, terlebih bagi mereka yang terjun langsung ke dalam.

"KAA bagi kami di Bandung adalah terlahir kembali semangat cinta kebersamaan dan gotong royong Bandung. Itu nilai-nilai revolusi mental yang bagi saya paling mahal," ujar Ridwan Kamil ketika ditemui di Pendopo Walikota Bandung, Jl Dalem Kaum, Bandung, Sabtu (25/4).

Pernyataan tersebut jelas berhubungan langsung dengan fenomena membludaknya relawan dengan jumlah yang massif. Wali Kota Bandung, Ridwan Kamil berkata hanya menargetkan sebanyak tiga ribu relawan, namun via pendaftaran online jumlah tersebut dapat dilewati dengan mudah. Menurut rilis Solidaritas Relawan Untuk Asian African Carnival 2015, terhitung jumlah pendaftar resmi hampir 16 ribu orang dan pada akhirnya mengerucut sebanyak 5.522 orang.


Acara dengan skala sebesar Konferensi Asia Afrika tentu membutuhkan banyak 'tangan' untuk dapat terselenggara dengan lancar. Salah satu formasi relawan yang bekerja di belakang kerumunan dan menjaga agar area di tiap acara tetap bersih adalah tim Pakistan. Tentu jumlah anggota formasi ini tidak sedikit.

"Kurang lebih 650 relawan, dibagi ke dalam tujuh acara. Dari semua event ini ada yang orangnya sama juga. Nah, di setiap event itu beda koordinatornya," ujar koordinator tim Pakistan yang berpangkat Prabu, Ari Rizki Nugraha (21) ketika ditemui di acara penutup Karnaval Asia Afrika, Festival of Nations di Jl Ir. H. Djuanda, Minggu (26/4).

Beroperasi bak semut, tim Pakistan tidak punya banyak waktu untuk menikmati berbagai rangkaian Karnaval Asia Afrika, termasuk sesi parade yang digelar di Jl Asia-Afrika. Di saat orang-orang sibuk menonton parade mereka bergerak menyusuri jalanan dari titik mulai parade, Simpang Lima hingga Alun-alun, titik akhir parade. Menyanggupi tugas, Ari pun mengaku masih ada yang kurang dari Karnaval Asia Afrika.

"Yang disayangkan itu masih banyak pengunjung yang enggak sadar. Tempat sampah udah ada tapi buangnya di luarnya," kata Ari menambahkan. Dia juga merasa siap jika dipanggil lagi untuk menjadi relawan di Karnaval Asia Afrika yang notabene kini dicanangkan sebagai acara tahunan.

"Saya pribadi siap. Jika memang relawan sangat dibutuhkan, diberi ruang dan pengakuan. Kami juga inginnya berperan langsung. Turun langsung tanpa ada batasan. Jika diberi ruang seperti itu sih menurut saya semua mau," ujar Ari menutup pembicaraan.

Jika pengalaman sukarela anggota tim Pakistan tersebut menggambarkan dedikasi, maka lain lagi dengan cerita beberapa delegasi kebudayaan negara-negara peserta Karnaval Asia Afrika. Mewakili negaranya, mereka datang untuk mengenalkan kebudayaan pada pengunjung Karnaval Asia Afrika.

"Saya melihat orang-orang di Bandung penuh harapan dan ramah. Jalanan di Bandung juga sangat bersih. Ini sebuah kota yang luar biasa. Saya akan pulang besok dan saya merasa sedih, tapi insya Allah saya akan kembali di lain waktu bersama keluarga saya untuk melihat alam Bandung yang indah," ujar delegasi Yordania, Osthman Alshobaki (37).

Walaupun penampilan tim Yordania di Parade Karnaval Asia Afrika terlihat mulus, namun di baliknya terdapat cerita kurang mengenakkan. Osthman berkata bahwa timnya kehilangan tiga koper yang berisi pakaian tradisional Yordania. Namun, hal ini tidak menghalangi keinginannya untuk menjalin hubungan resmi dengan Bandung.

"Saya akan bilang ke wali kota Amman untuk menjalin hubungan sister city dengan Bandung, insya Allah," ucap osthman.

Jika delegasi Yordania kehilangan barang bawaan mereka, lain lagi dengan kejadian yang menimpa delegasi Kamboja. Mereka sempat berurusan dengan pihak Bandara Husein Sastranegara karena bentuk dan bahan kostum mereka.

"Padahal benda-benda itu untuk persiapan tarian klasik Kamboja. Saya pun paham bahwa benda-benda yang kami bawa seperti pisau akan dipertanyakan oleh imigrasi. Kami harus membuka semua koper kami dan menunjukkan izin resmi, tapi hanya itu kesulitan yang kami hadapi, kami sangat berbahagia karena kami sangat menyukai kota ini," ujar Pen Hun (32), koordinator delegasi Departemen Seni dan Budaya Kementerian Kebudayaan Kamboja.

Senada dengan delegasi Yordania, tim Kamboja juga menyanggupi apabila diundang kembali tahun depan. Pen Hun juga menyatakan bahwa timnya akan mempersiapkan segala hal dengan baik, terutama yang berhubungan dengan kebudayaan.

Hal ini tentu menjadi salah satu faktor pembantu dalam misi menjadikan Karnaval Asia Afrika untuk mencapai taraf festival tingkat internasional, yang menurut Ridwan Kamil adalah selevel dengan Karnaval Rio di Brasil. Hal ini tak hanya mendongkrak pariwisata Indonesia, khususnya Bandung, di mata wisatawan mancanegara tapi juga menggemukkan keuntungan ekonomi yang akan didulang.

"Pertama begini, saya sudah menghitung sebenarnya, jumlah bisnisnya ada sekitar 10 ribu bisnis, sekitar 1 triliun uang mengalir," imbuh Menpar Arief Yahya pada Sabtu (25/4) di Pendopo Wali Kota Bandung.

"Jadi kan Bandung ditetapkan sebagai Ibukota Asia-Afrika, dan Asia-Afrika adalah jalan bersejarah dan yang punya itu hanya Bandung. Oleh karena itu, kita harus kasih slice menjadi event tahunan, karena hanya Bandung yang bisa melakukan annual international event dan itu kita harapkan akan bisa menarik orang-orang dari Asia-Afrika," kata Arief menutup percakapan.

(Lihat juga: Parade Budaya Apik Penutup Konferensi Asia-Afrika)


(mer/mer)