Bukti ini ditemukan oleh para peneliti pada dua penemuan sebelumnya, kata Heejo Jo, pemimpin penelitian dari Pusat Pengendalian dan Pencegahaan Penyakit di Atlanta, Georgia. “Kami ingin menemukan hubungan yang sama dengan menggunakan berbagai ukuran berbeda,” kata Jo.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Misalnya, masalah dengan teman sebaya dan kesulitan psikososial lainnya. Ini dibandingkan dengan ibu yang memiliki BMI sehat, antara 18,5 dan 25.
Mereka juga tiga kali berisiko lebih besar terdiagnosis gangguan spektrum autisme, dan empat kali lebih mungkin memiliki gangguan attention-deficit/ hyperactivity disorder (ADHD), seperti dilaporkan dalam jurnal Pediatrics.
Para peneliti memperhitungkan berat badan pada masa kehamilan, diabetes kehamilan, durasi menyusui, depresi pasca-melahirkan, dan berat badan bayi saat lahir.
“Kita tahu obesitas berhubungan dengan masalah kesehatan selama kehamilan dan selama kita hidup,” kata JO. “Saya pikir ini menambah informasi bahwa obesitas tidak hanya memengaruhi kesehatan perempuan tetapi juga kesehatan untuk anaknya di masa depan.”
Sementara itu, Jed Friedman dari Universitas Denver Colorado mengatakan, diet selama kehamilan dan menyusui memainkan peran sangat signifikan pada kesehatan anak. Perempuan harus menerima perawatan komprehensif dan membahas semua masalah kesehatan dan medis dengan dokter sebelum hamil, termasuk berat badan.
“Penurunan berat badan pra-kehamilan dianjurkan untuk perempuan sangat gemuk,” kata Friedman. Semakin sehat perempuan memasuki masa kehamilan, maka semakin baik, ucapnya.
Badan Pediatrik di Amerika menyarankan, anak-anak yang mengalami keterlambatan perkembangan atau cacat pada usia 8, 18, 24, dan 30 bulan, dan ibu yang mengalami obesitas parah sebelum hamil harus diperiksa sampai tuntas. “Dan jika mereka mengalami masalah apapun, bawa anak segera (untuk diperiksa),” ucap Friedman.
(win/mer)