Wanita Ingin Mengandung Anak dari Sel Telur Mendiang Putrinya

Windratie, CNN Indonesia | Jumat, 08/05/2015 16:17 WIB
Wanita Ingin Mengandung Anak dari Sel Telur Mendiang Putrinya Sang putri membekukan sel telurnya setelah didiagnosa menderita kanker. (Thinkstock/Monkey Business Images)
Jakarta, CNN Indonesia -- Seorang ibu melakukan perlawanan hukum atas kepemilikan sel telur mendiang putrinya yang dibekukan agar dia bisa mengandung cucunya sendiri.

Dalam kasus pertama yang terjadi untuk prosedur ini, perempuan 59 tahun dan suaminya (58) menantang penolakan regulator independen yang memungkinkan mereka mengambil telur ke klinik perawatan kesuburan di Amerika Serikat.

Pasangan tersebut berkata, itu adalah keinginan besar putrinya, satu-satunya anak mereka yang meninggal karena kanker usus di akhir usia dua puluhan, agar telurnya dibuahi oleh sperma donor dan ditanamkan ke dalam rahim ibunya sendiri.


Awalnya, sang putri membekukan sel telurnya setelah didiagnosa menderita kanker, berharap agar dia bisa memiliki anaknya sendiri di masa depan. Orang tuanya ingin mengekspor sel telur putrinya ke New York, di mana klinik tersebut siap memberikan perawatan dengan perkiraan biaya hingga £ 60.000 atau sekitar Rp 1,2 miliar.

Dilansir dari laman Independent, Mohamed Taranissi, yang menjalankan klinik kesuburan ARGC di London berkata, “Saya belum pernah mendengar kasus ibu pengganti melibatkan seorang ibu dan sel telur anaknya yang telah wafat. Ini mungkin adalah yang pertama di dunia.”

Namun,  lembaga Human Fertilisation and Embryology Authority (HFEA) menolak mengeluarkan 'arahan khusus' yang memungkinkan telur dipindahkan dari penyimpanan di London dan dikirim ke Amerika Serikat.

Komite persetujuan hukum sudah mengetuk palu tahun lalu. Dikatakan, tidak ada bukti cukup yang menunjukkan bahwa anak perempuan tersebut menginginkan ibunya menggunakan sperma donor untuk mengandung anaknya.

Komite berpendapat bahwa tidak ada bukti persetujuan tertulis yang jelas. Mereka berhak menggunakan kebijakannya untuk menolak mengeluarkan arahan khusus. Tanpa mengantongi kebijakan itu, mengekspor sel telur dianggap melanggar hukum.

Perempuan menopause masih dapat melahirkan anak menggunakan telur donor dan sperma, meskipun dokter kandungan memeringatkan risiko terkait kehamilan, seperti keguguran, yang lebih besar. Aplikasi judicial review terdaftar anonim sebagai 'M vs HFEA', ini bisa dipahami karena keluarga ingin agar identitasnya dirahasiakan.

Dokumen yang sudah dalam domain publik mengungkapkan, putri pasangan tersebut didiagnosis kanker usus dan memilih untuk membekukan dan menyimpan tiga sel telurnya di IVF Hammersmith di London barat pada 2008 silam.

Dia lalu mengisi formulir yang memberikan persetujuan agar telurnya disimpan untuk digunakan setelah kematiannya. Namun, dia tidak mengisi formulir terpisah yang menunjukkan bagaimana dia ingin agar telurnya digunakan. Secara teknis itu berarti persetujuannya menjadi tidak valid.

Dia meninggal pada 2011, tanpa petunjuk lebih lanjut. Perempuan itu masih lajang. Dia telah bertanya pada seorang dokter, apakah seseorang dengan stoma seperti dirinya bisa memiliki anak. Dokter menegaskan hal itu mungkin.

Namun, sang ibu berkata, bahwa kemudian disepakati, jika putrinya tidak dapat mengandung anak, “saya akan melakukannya untuk dia.” Dokumen tersebut berkata, perempuan muda itu ingin ibunya mengandung bayinya, dalam konteks dia tidak bisa meninggalkan rumah sakit dalam keadaan hidup.”

Pasangan itu lalu mendatangi klinik kesuburan setelah putri mereka meninggal. Mereka berharap menciptakan embrio menggunakan teknik bayi tabung standar dari telur putri mereka dan sperma donor anonim. Namun, tidak ada klinik di Inggris yang siap melaksanakannya.


(win/mer)