Mengenal Karawo, Kain Khas Gorontalo

Tri Wahyuni, CNN Indonesia | Senin, 11/05/2015 15:45 WIB
Gorontalo memiliki kain yang unik, namanya kain karawo yang dibuat dengan teknik sulam. Kain Karawo, kain khas dari Gorontalo, yang dibuat dengan teknik sulam.
Jakarta, CNN Indonesia -- Mempunyai 34 provinsi, puluhan ribu pulau, dan ribuan suku tentu membuat Indonesia sangat kaya. Dari segi alam Indonesia bahkan punya 'kolam susu', belum lagi dari segi budaya.

Salah satu bukti kekayaan budaya Indonesia terlihat dari banyaknya ragam kain tradisional dari berbagai daerah. Ada beragam motif batik, tenun, songket, dan masih banyak lagi.

Dari sekian banyak jenis kain, ternyata Gorontalo punya kain yang unik. Namanya kain karawo.


Kain karawo dibuat dengan teknik sulam. Mengutip situs resmi Pemerintah Gorontalo, kain karawo dikerjakan pada kain dengan menggunakan benang polos maupun warna-warni.

Proses pembuatan dengan cara mengiris dan mencabut benang dari serat kain yang sudah jadi. Lalu disulam dengan jarum dan aneka ragam benang sesuai motif yang diinginkan.

"Istilahnya cabut benang. Bisa juga dengan benang emas," kata Kepala Dinas Pariwisata Kabupaten Boalemo, Gorontalo, Kusnan Sudrajat pada CNN Indonesia di kawasan Kuningan, Jakarta.

Istimewanya pembuatan kain ini dilakukan secara manual, dengan menggunakan tangan. Tak heran jika dalam pembuatannya memakan waktu yang lama. "Satu begini kadang dua minggu baru jadi," ujar Kusnan.

Selain waktu, pengerjaan kain karawo juga membutuhkan banyak tenaga. Paling tidak diperlukan tiga orang dengan tugas yang berbeda.

Orang pertama bertugas membuat pola. Caranya dengan menggambar di atas kertas grafik. Kemudian orang kedua bertugas sebagai pengiris atau pengurai benang pada kain yang akan dibuat sulaman karawo. Ini dilakukan sesuai pola yang diinginkan.

Sementara itu, orang ketiga bertugas sebagai penyulam kain yang sudah diurai benangnya. Jika pola yang diinginkan begitu rumit, pembuatannya bisa memakan waktu sebulan.

Saat ini di Gorontalo ada dua jenis karawo. Ada sulaman karawo biasa dan sulaman karawo ikat. Biasanya harga karawo ikat lebih mahal.

Sebenarnya sudah jarang masyarakat yang melakukan kegiatan sulam karawo di Gorontalo. Untuk itulah pemerintah sedang berusaha memicu mereka untuk melestarikan warisan budaya yang telah ada.

"Sekarang lagi digalakkan keterampilan karawo di rumah-rumah. Bahkan ada festival ya. Namanya Festival Karawo," kata Kusnan menjelaskan.

Festival yang biasanya digelar pada akhir tahun ini berbentuk karnaval. Akan ada orang-orang yang memakai baju-baju berbagai model yang diaplikasikan kain karawo. Selain itu, ada juga parade menyulam, lomba foto karawo, sampai lomba motif karawo.

Berkat adanya festival ini, masyarakat jadi kembali bersemangat membuat dan berkreasi dengan karawo. "Bahkan sekarang dikombinasikan dengan batik," ujar Kusnan.

Festival karawo ini juga nantinya akan ada dalam Festival Boalemo yang merupakan rentetan acara Sail Tomini 2015 pada 10 September mendatang.

(mer/mer)
TOPIK TERKAIT
REKOMENDASI
LAINNYA DI DETIKNETWORK