Pasangan Tergantung Secara Finansial, Berisiko Berselingkuh

Utami Widowati, CNN Indonesia | Kamis, 04/06/2015 06:30 WIB
Pasangan Tergantung Secara Finansial, Berisiko Berselingkuh Ilustrasi pasangan berkonflik. (Thinkstock/JackF)
Jakarta, CNN Indonesia -- Jika Anda berpikir bahwa seseorang yang tergantung secara finansial pada pasangannya tidak akan mungkin berselingkuh, lihat dulu hasil penelitian ini. Penelitian yang dilakukan oleh sejumlah sosiolog dari University of Connecticut, Amerika Serikat, justru menyimpulkan hal yang sebaliknya.

Baik pria atau wanita, jika mereka terlalu tergantung secara finansial pada pasangannya juga mungkin berselingkuh. “Tak ada pria atau wanita suka tergantung secara finansial pada pasangannya,” kata Christin Munsch salah seorang peneliti kepada Huffington Post. “Ketergantungan secara finansial sangat mengganggu stabilitas hubungan pasangan.”

Saat ini memang melihat perempuan sebagai pencari nafkah satu-satunya dalam keluarga dianggap lumrah, namun hal itu ada bahayanya. Munsch dan tim penelitinya menemukan, 5 persen dari perempuan yang tergantung secara finansial pada suaminya juga  berselingkuh. Sementara angka tersebut akan meningkat hingga 15 persen pihak prialah yang tergantung secara finansial pada istri mereka.
   
Hasil penelitian itu dipublikasikan di American Sociological Review edisi Juni. Merangkum dan meninjau ulang data selama 10 tahun terakhir, peneliti menggunakan data dari 2.750 orang menikah yang berusia 18 dan 32 tahun.

Lalu apa hubungan antara ketergantungan finansial dan ketidaksetiaan. Jadi, seperti dipahami secara luas, pria seringkali merasa tak nyaman jika harus tergantung secara finansial. Para pria yang paling mungkin berselingkuh adalah mereka yang memang 100 persen tergantung secara finansial pada istrinya.  

“Ini mungkin ada hubungannya dengan stereotipe tentang maskulinitas,” kata Munsch. “Ada sesuatu tentang maskulinitas dan norma budaya tentang pencari nafkah yang membuat pria yang bukan pencari nafkah tak nyaman dengan posisi finansial mereka. Mereka bisa jadi merasa terancam maskulinitasnya.”

Susan Heitler psikolog kinis, pengarang buku The Power of Two dan konselor pernikahan secara online sepakat bahwa kurangnya kontribusi pria dalam pencarian nafkah keluarga  bisa dianggap mengancam kemapanan pribadi mereka di luar hubungan dengan pasangannya.

“Merasa dirinya berada dalam peran pencari nafkah dengan hasil yang rendah atau tidak ada sama sekali, sangat mungkin menyerang ego mereka,” kata Heitler.

Para pencari nafkah juga bukan tak mempan akan tindak perselingkuhan, demikian hasil temuan penelitian ini.


Semakin tinggi pendapatan wanita, semakin sedikit kemungkinannya untuk berselingkuh. Bahkan perempuan yang bertanggung jawab 100 persen dalam pencarian nafkah keluarga paling sedikit kemungkinannya untuk berselingkuh.

Tapi hal ini tak terjadi pada pria. Saat pria menghasilkan 70 persen pendapatan keluarga, mereka sangat mungkin berselingkuh. Namun, seperti  dicatat oleh Munsch, kemungkinan seorang pria melanggar kesetiaan secara signifikan lebih rendah, dibanding jika mereka jadi pihak yang tergantung secara finansial.

“Intinya perkawinan akan lebih stabil ketika kedua pihak sama-sama berkontribusi secara ekonomi,” kata Munsch.

(utw/utw)